SPN Batua Makassar Uji Fisik & Mental 945 Siswa Bintara Lintas Polda Lewat Long March Malam
MAKASSAR, MATANUSANTARA — Kota Makassar yang biasanya terlelap pada pukul 02.00 Wita mendadak tersentak. Dini hari, Selasa (03/03/2026), suara derap sepatu yang menghantam aspal berpadu dengan yel-yel lantang memecah sunyi, menggema dari ruas jalan utama hingga ke sudut-sudut kota.
Sebanyak 945 siswa baru Bintara Polri yang sedang menjalani pendidikan di Sekolah Polisi Negara Batua (SPN) Batua Makassar turun ke jalan dalam latihan fisik berskala besar.
Berdasarkan pantauan matanusantara.co.id, Long march ini bukan sekadar latihan rutin, melainkan ujian awal pembentukan mental dan ketahanan fisik sebelum resmi dilantik menjadi anggota Polri.
Barisan panjang itu bergerak dalam formasi ketat. Helm taktis terpasang, ransel membebani punggung, seragam dinas lapangan melekat di tubuh yang dipaksa melawan kantuk dan lelah. Tidak ada langkah yang terputus. Tidak ada suara yang sumbang.
“Seluruh peserta adalah Siswa Baru yang sedang menjalani masa pendidikan kepolisian, Totalnya 945 siswa,” kata salah satu petugas pendamping kepada matanusantara.co.id, Selasa (02/03).
Jumlah yang nyaris menyentuh seribu itu merupakan gabungan dari berbagai Polda di Indonesia.
“Peserta merupakan gabungan siswa kiriman dari berbagai Polda, mulai dari wilayah Timur hingga Barat,” katanya.
Latihan dimulai dari markas pendidikan di Jalan Panaikang, Kecamatan Panakkukang.
“Start dari SPN Batua, menuju kawasan CPI (Center Point of Indonesia), dan kembali lagi ke markas komando SPN,” jelasnya.
Kawasan Center Point of Indonesia menjadi saksi barisan panjang itu melintas seperti gelombang manusia. Di tengah dingin malam, gema nyanyian mereka terdengar menggetarkan, menyapu jalanan yang biasanya lengang.
Warga yang terjaga atau melintas dini hari tak luput memperhatikan. Hampir seribu calon Bhayangkara bergerak serentak, menciptakan pemandangan yang jarang terlihat: disiplin dalam skala massif.
Namun di balik gemuruh langkah itu, tersimpan pesan yang lebih dalam. Long march ini dirancang untuk menguji batas fisik, menguatkan mental, dan membangun esprit de corps di antara siswa dari latar budaya dan daerah berbeda. Dari timur hingga barat Indonesia, mereka ditempa dalam satu ritme komando.
Tidak hanya jarak yang diuji, tetapi juga konsistensi, kekompakan, dan ketahanan menghadapi tekanan. Dini hari menjadi panggung seleksi awal: siapa yang mampu bertahan dalam ritme keras pembentukan, dan siapa yang harus beradaptasi lebih cepat.
Makassar malam itu bukan sekadar kota yang terbangun oleh suara yel-yel. Ia menjadi saksi bagaimana hampir seribu calon anggota Polri dipaksa berdamai dengan lelah, sekaligus membangun solidaritas dalam satu barisan panjang menuju masa depan sebagai Bhayangkara negara. (RAM)


Tinggalkan Balasan