MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

Klarifikasi Zendhy Kusuma Soal Video Restoran Viral Picu Cyberbullying Publik

Zendhy Kusuma memberikan klarifikasi terkait video insiden restoran yang viral di media sosial.

JAKARTA, MATANUSANTARA — Setelah lama menjadi sorotan publik, Zendhy Kusuma akhirnya angkat bicara terkait video insiden di sebuah restoran yang sempat viral di media sosial dan memicu gelombang komentar tajam dari warganet. Minggu 08 Februari 2026.

Melalui klarifikasi yang disampaikannya, Zendhy mengakui bahwa pada malam kejadian dirinya sempat terpancing emosi. Namun ia menilai peristiwa tersebut berkembang jauh melampaui kejadian sebenarnya setelah potongan rekaman CCTV tersebar luas di berbagai platform digital.

Menurut Zendhy, insiden tersebut bermula dari situasi yang tidak nyaman ketika dirinya bersama keluarga menunggu pesanan cukup lama di restoran pada September tahun lalu.

“Saya tidak menutup mata bahwa pada malam itu emosi saya terpancing dan ada sikap yang seharusnya bisa disampaikan dengan cara yang lebih baik,” ungkap Zendhy, dikutip Minggu (08/03)

Ia menjelaskan, saat itu dirinya dan keluarga telah menunggu cukup lama untuk pesanan yang tidak kunjung datang. Dalam kondisi lapar dan lelah, situasi tersebut akhirnya memicu ketegangan di lokasi.

Namun menurutnya, peristiwa yang awalnya hanya merupakan persoalan antara pelanggan dan pihak restoran berubah drastis setelah potongan rekaman CCTV beredar luas di media sosial.

Video tersebut kemudian memantik berbagai reaksi publik yang sebagian besar dinilai tidak menggambarkan keseluruhan situasi yang terjadi pada malam itu.

Zendhy mengungkapkan bahwa sejak video tersebut viral, dirinya dan keluarga menghadapi tekanan besar di ruang digital.

Mulai dari komentar bernada menyerang, penyebaran informasi pribadi, hingga berbagai bentuk cyberbullying yang terus bermunculan di media sosial.

“Yang kami sesalkan adalah ketika peristiwa tersebut berkembang jauh melampaui kejadian sebenarnya. Setelah video itu beredar, kami dan keluarga mengalami berbagai bentuk cyberbullying di media sosial,” katanya.

Zendhy berharap masyarakat dapat melihat bahwa rekaman yang beredar bukanlah gambaran utuh dari seluruh peristiwa yang terjadi pada malam tersebut.

Ia juga menilai potongan video yang tersebar di media sosial disertai narasi tambahan yang tidak sepenuhnya menggambarkan situasi sebenarnya, sehingga memicu persepsi yang keliru di tengah publik.

“Kami percaya setiap peristiwa sebaiknya dilihat secara utuh dan berdasarkan fakta. Ketika sebuah potongan video disertai narasi yang tidak lengkap, hal itu bisa menimbulkan kesalahpahaman yang akhirnya merugikan banyak pihak,” ujarnya.

Lebih lanjut, Zendhy menyebut bahwa terdapat rekaman lain yang menunjukkan situasi berbeda dari yang berkembang di media sosial.

Dalam rekaman tersebut terlihat dirinya datang dengan niat menyelesaikan persoalan secara baik, termasuk ketika hendak melakukan pembayaran.

Namun dalam situasi tersebut justru terjadi respons yang tidak kondusif dari pihak lain, sehingga suasana semakin memanas.

Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut tidak sesederhana potongan video yang beredar di media sosial.

Zendhy juga menegaskan bahwa setelah kejadian tersebut dirinya tetap berupaya menyelesaikan persoalan secara langsung dengan pihak restoran.

“Saya datang kembali untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung dan menyelesaikan kewajiban pembayaran. Harapan saya sebenarnya sederhana, persoalan ini bisa diselesaikan secara baik tanpa harus berkembang menjadi polemik besar,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa saat ini persoalan tersebut telah memasuki proses hukum dan dirinya menghormati sepenuhnya mekanisme yang sedang berjalan.

“Saya percaya proses hukum akan melihat seluruh peristiwa ini secara utuh dan objektif,” katanya.

Melalui klarifikasi tersebut, Zendhy juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar di ruang digital, terutama ketika sebuah peristiwa hanya dilihat dari potongan video yang belum tentu menggambarkan keseluruhan fakta.

“Mungkin kita semua bisa belajar dari kejadian ini. Belajar menjadi konsumen yang lebih baik, belajar menjadi pemilik usaha yang lebih bijak dalam menyikapi pelanggan, dan juga belajar menjadi netizen yang tidak mudah melakukan cyberbullying,” kata Zendhy.

Ia berharap ruang digital dapat menjadi ruang yang lebih sehat, di mana setiap persoalan tidak langsung berubah menjadi penghakiman massal terhadap seseorang maupun keluarganya.

“Pada akhirnya kita semua adalah manusia yang bisa melakukan kesalahan. Yang penting adalah bagaimana kita belajar dan memperbaikinya tanpa harus saling menghancurkan di ruang digital,” tutupnya. (RAM)

SUMBER: Bogor Traffic.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup