TANJUNG MOROWA, MATANUSANTARA — Di tengah lonjakan arus mudik yang setiap tahun menelan risiko kecelakaan dan kepadatan ekstrem, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 1 mengambil langkah berbeda. Untuk pertama kalinya, perusahaan pelat merah ini tidak sekadar ikut program pemerintah—melainkan turun langsung menggelar mudik gratis mandiri bagi masyarakat.
Program bertajuk “Mudik Aman Berbagi Harapan” ini resmi diberangkatkan pada Selasa (17/3), dengan tiga unit bus yang membawa pulang harapan ratusan pemudik menuju kampung halaman.
Pelepasan dilakukan di halaman Kantor PTPN I Regional 1, Tanjung Morawa, oleh Region Head Wispramono Budiman bersama Operation Head Ganda Wiatmaja, disaksikan jajaran manajemen dan karyawan.
Momentum ini bukan sekadar seremoni. Di baliknya, ada pesan kuat: keselamatan pemudik harus menjadi prioritas.
“Selamat jalan, semoga sampai di tujuan dengan aman dan dapat menikmati Lebaran di kampung halaman bersama keluarga,” ujar Wispramono Budiman, menegaskan harapan yang sederhana namun krusial—selamat sampai tujuan.
Langkah mandiri yang diambil PTPN tahun ini menjadi titik balik. Sebelumnya, perusahaan hanya berperan sebagai peserta dalam program mudik gratis Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Kini, PTPN mulai membangun skema sendiri—indikasi adanya transformasi peran BUMN dari sekadar pendukung menjadi pelaksana langsung.
Operation Head Ganda Wiatmaja mengungkapkan, keputusan ini tidak hanya soal berbagi, tetapi juga bagian dari mitigasi risiko di jalan raya.
“Program ini diharapkan menjadi solusi transportasi yang lebih aman dibandingkan penggunaan sepeda motor, sekaligus membantu mengurangi kepadatan kendaraan saat arus mudik,” kata Ganda.
Fakta di lapangan menunjukkan, penggunaan sepeda motor saat mudik masih menjadi penyumbang risiko kecelakaan tertinggi. Di titik ini, intervensi korporasi seperti yang dilakukan PTPN menjadi relevan—bahkan strategis.
Tiga bus yang diberangkatkan melayani rute dengan mobilitas tinggi: satu menuju Pekanbaru melalui Labuhan Batu, dan dua lainnya menuju Bukittinggi melalui Padang Sidempuan—jalur yang selama ini dikenal padat saat musim mudik.
Lebih jauh, program ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Manajemen menyebut, mudik gratis ini akan dijadikan agenda rutin yang terintegrasi dengan program PTPN Group bersama Danantara dan BP BUMN.
Artinya, ada peluang ekspansi skala—baik jumlah armada, rute, maupun penerima manfaat.
Namun, keberhasilan program semacam ini pada akhirnya diukur dari dampaknya di lapangan—apakah benar mampu menekan angka kecelakaan dan mengurangi beban jalan nasional saat puncak mudik.
Di sisi lain, suara masyarakat menjadi indikator paling jujur.
Salah satu peserta mudik tujuan Bukittinggi, Bapak Erwin, menyampaikan apresiasi atas program tersebut.
“Kami dari Masyarakat mengucapkan banyak terima kasih kepada PTPN I yang telah mengadakan mudik lebaran bersama rombongan keluarga kita semua , jadi kita berharap di tahun-tahun berikutnya masih bisa dilaksanakan mudik gratis ini” ujarnya.
Pernyataan itu merefleksikan kebutuhan nyata: mudik bukan sekadar tradisi, tetapi kebutuhan sosial yang membutuhkan dukungan sistem transportasi yang aman dan terjangkau.
Dengan langkah awal ini, PTPN I Regional 1 membuka peluang baru—bahwa BUMN tidak hanya bicara profit, tetapi juga hadir dalam momen krusial masyarakat.
Pertanyaannya kini: apakah program ini akan konsisten dan berkembang, atau berhenti sebagai euforia sesaat? (RIKKI)
