MAROS, MATANUSANTARA — Di balik tembok tinggi yang identik dengan pembatasan kebebasan, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Maros justru menghadirkan wajah berbeda: ruang kebersamaan yang hangat, humanis, dan sarat nilai spiritual, melalui momentum buka puasa bersama, Rabu (18/03/2026).
Bukan sekadar kegiatan seremonial, buka puasa ini menjadi simbol pergeseran pendekatan pembinaan—dari yang kaku dan formal, menuju relasi yang lebih manusiawi antara petugas dan warga binaan.
Sejak sore, suasana lapas perlahan berubah. Warga binaan dan petugas duduk dalam satu ruang yang sama, tanpa sekat psikologis, mengikuti tausiyah yang mengalirkan pesan refleksi, penyesalan, sekaligus harapan untuk perubahan.
Kepala Lapas Kelas IIB Maros, Ali Imran, menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga ruang strategis untuk membangun ulang kesadaran diri warga binaan.
“Kegiatan buka puasa bersama ini bukan sekadar rutinitas, tetapi menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi antara petugas dan warga binaan. Kami berharap momentum Ramadan ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keimanan dan memperbaiki diri ke arah yang lebih baik,” ujar Imran.
Lebih jauh, kegiatan ini mengandung pesan kuat bahwa sistem pemasyarakatan modern tidak lagi semata berorientasi pada pengamanan, melainkan pada rekonstruksi karakter manusia.
Interaksi yang lebih terbuka dan setara diyakini menjadi kunci menciptakan stabilitas internal lapas. Dalam konteks ini, pendekatan humanis bukan hanya pilihan, tetapi kebutuhan strategis untuk mencegah konflik sekaligus mempercepat proses reintegrasi sosial warga binaan.
Momentum berbuka pun menjadi titik klimaks—ketika sekat status mencair, digantikan oleh rasa kebersamaan yang autentik. Tidak ada jarak, tidak ada stigma, yang tersisa hanyalah manusia yang sedang berproses menjadi lebih baik.
Kegiatan kemudian ditutup dengan salat Magrib berjamaah, berlangsung khidmat dan tertib. Sebuah penegasan bahwa di balik tembok lapas, harapan untuk berubah tetap hidup dan terus dirawat. (RAM)
