MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

Pemeriksaan Kesehatan Polsek Tamalate Jadi Instrumen Kontrol Kinerja dan Disiplin Personel

Pemeriksaan kesehatan personel Polsek Tamalate oleh tim medis Puskesmas sebagai bagian penguatan kontrol internal.

MAKASSAR, MATANUSANTARA — Di tengah tingginya tuntutan profesionalitas dan tekanan kerja aparat kepolisian, aspek kesehatan personel mulai diposisikan sebagai bagian dari instrumen kontrol internal. Hal ini tercermin dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan terpadu terhadap personel Polsek Tamalate Polrestabes Makassar yang dilaksanakan bersama Puskesmas Maccini Sombala, Rabu (01/4/2026).

Di balik kegiatan yang tampak rutin tersebut, tersimpan pendekatan baru dalam manajemen sumber daya manusia Polri: menjadikan kesehatan sebagai variabel pengendali kinerja. Dalam konteks ini, kondisi fisik dan mental personel tidak lagi dipandang sebagai urusan individual, melainkan bagian dari sistem pengawasan institusional.

Pemeriksaan dipimpin oleh dokter umum Puskesmas, dr. Asiqa, bersama tim medis, dan disambut oleh Wakapolsek Tamalate, AKP Kaharuddin. Seluruh personel menjalani skrining awal yang tidak hanya berfungsi sebagai pemeriksaan kesehatan dasar, tetapi juga sebagai pemetaan profil risiko personel secara menyeluruh.

Pendekatan ini membuka ruang bagi institusi untuk membaca potensi kerentanan internal mulai dari kelelahan kerja, gangguan kesehatan laten, hingga faktor yang berpotensi memengaruhi kualitas pelayanan di lapangan. Dengan kata lain, kesehatan menjadi pintu masuk untuk memastikan disiplin, kesiapan, dan stabilitas kinerja aparat.

Dalam perspektif yang lebih luas, langkah ini relevan dengan upaya pembenahan internal Polri yang selama ini kerap disorot publik, khususnya terkait kualitas pelayanan dan profesionalitas aparat. Pemeriksaan kesehatan terpadu dapat dipandang sebagai bagian dari mekanisme pencegahan terhadap penurunan performa yang berujung pada maladministrasi atau bahkan pelanggaran.

Sinergi antara Polri dan Puskesmas dalam kegiatan ini juga menunjukkan model kolaborasi lintas sektor yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi memiliki implikasi langsung terhadap penguatan kapasitas institusi. Integrasi data kesehatan dengan manajemen personel berpotensi menjadi basis kebijakan yang lebih presisi dan akuntabel.

Lebih jauh, dalam kerangka reformasi birokrasi, langkah ini mengarah pada pembentukan sistem kerja berbasis evidence (data), di mana setiap kebijakan internal didukung oleh parameter yang terukur, termasuk kondisi kesehatan aparat.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan lancar. Namun lebih dari itu, kegiatan ini menegaskan bahwa pengawasan terhadap aparat tidak hanya dilakukan melalui mekanisme disiplin formal, tetapi juga melalui pendekatan yang lebih fundamental yakni memastikan mereka berada dalam kondisi fisik dan mental yang layak untuk menjalankan fungsi penegakan hukum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini