MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

HBP ke-62, Karutan Makassar Tegaskan Pemasyarakatan Berbasis Dampak Sosial dan Ekonomi

Kepala Rutan Makassar bersama jajaran menghadiri tasyakuran HBP ke-62 di Kanwil Ditjenpas Sulsel yang dirangkaikan dengan penyerahan bantuan sosial kepada keluarga warga binaan.

MAKASSAR, MATANUSANTARA — Peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62 kembali dimaknai sebagai ruang konsolidasi strategis untuk menegaskan pergeseran paradigma pemasyarakatan, dari pendekatan administratif menuju sistem berbasis dampak sosial dan pemberdayaan ekonomi.

Kepala Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Makassar turut menghadiri tasyakuran yang diselenggarakan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Selatan dalam suasana khidmat, sebagai refleksi atas perjalanan panjang institusi dalam menjalankan fungsi pembinaan dan pelayanan publik.

Kegiatan ini tidak berhenti pada simbolik seremonial. Kanwil Ditjenpas Sulsel secara konkret menyalurkan bantuan gerobak usaha kepada keluarga warga binaan serta bantuan sosial kepada 30 keluarga, sebagai bentuk intervensi langsung terhadap aspek ekonomi yang selama ini menjadi salah satu titik rawan dalam proses reintegrasi sosial.

Program tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pemasyarakatan mulai bergerak ke arah ecosystem-based correctional system, di mana keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari perilaku individu warga binaan, tetapi juga dari ketahanan sosial-ekonomi lingkungan keluarganya.

Dalam perspektif kebijakan, intervensi terhadap keluarga menjadi variabel kunci dalam menekan potensi residivisme. Ketika tekanan ekonomi dapat diminimalisir, maka peluang warga binaan untuk kembali ke siklus pelanggaran hukum ikut menurun secara signifikan.

Kegiatan ini turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan instansi vertikal, pejabat administrator Kanwil Ditjenpas Sulsel, para Kepala UPT Pemasyarakatan, serta mitra kerja. Kehadiran lintas sektor tersebut menegaskan bahwa pemasyarakatan kini tidak lagi berdiri secara sektoral, melainkan sebagai bagian dari sistem pelayanan publik yang terintegrasi.

Partisipasi aktif seluruh elemen ini menjadi indikator bahwa transformasi pemasyarakatan membutuhkan dukungan kolektif, baik dalam aspek kebijakan, operasional, maupun pengawasan.

Di sisi lain, penampilan Band Rutan Daeng dalam rangkaian acara menghadirkan dimensi lain dari pembinaan, yakni pengembangan potensi dan kreativitas warga binaan. Ini memperlihatkan bahwa proses pembinaan tidak hanya berorientasi pada disiplin, tetapi juga pada penguatan kapasitas personal sebagai bekal reintegrasi.

Pendekatan ini sejalan dengan paradigma modern pemasyarakatan yang menempatkan warga binaan sebagai subjek pembinaan yang memiliki potensi untuk dikembangkan, bukan sekadar objek penegakan hukum.

Momentum HBP ke-62 ini pada akhirnya mempertegas arah baru pemasyarakatan: membangun sistem yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga relevan secara sosial dan berdampak nyata.

Kepala Rutan Makassar, melalui kehadirannya, menegaskan komitmen institusi untuk terus berada dalam jalur transformasi tersebut—menghadirkan layanan yang tidak hanya memenuhi standar administratif, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat, khususnya dalam memastikan keberhasilan reintegrasi sosial warga binaan secara berkelanjutan. (***)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini