Wajo Jadi Percontohan, Gerakan CHIGANJING Resmi Diluncurkan di Makassar
MAKASSAR, MATANUSANTARA — Kecamatan Wajo ditetapkan sebagai pusat pelaksanaan Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tingkat kecamatan se-Kota Makassar yang digelar pada Jumat, 5 Juni 2026. Kegiatan tersebut menjadi momentum peluncuran Gerakan CHIGANJING (Makan Habis Tanpa Sisa), sebuah gerakan perubahan perilaku masyarakat untuk mengurangi sampah dari sumbernya.
Rangkaian kegiatan berlangsung meriah dengan melibatkan unsur pemerintah, dunia usaha, pelajar, hingga masyarakat. Sejumlah program edukasi dan aksi nyata pengelolaan lingkungan turut dilaksanakan sebagai bagian dari upaya mewujudkan Kota Makassar yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Ketua Panitia Pelaksana, Suzanna, SE., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut mendapat dukungan dan dihadiri langsung Ketua Tim Penggerak PKK Kota Makassar, Hj. Melinda Aksa.
Kegiatan diawali dengan Senam Sehat dan Aksi Jumat Bersih, kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen bersama pelaku usaha sektor hotel, restoran, dan kafe (HORECA) serta PT Pelindo untuk menerapkan pemilahan sampah dari sumbernya masing-masing.
Selain itu, Suzanna yang juga menjabat Ketua Permabudhi Kota Makassar menyerahkan bantuan telur ayam kepada anak-anak yang mengalami stunting, meresmikan sejumlah Tempat Edukasi dan Budidaya Alam (TEBA), serta mendemonstrasikan mesin pencacah sampah hasil rakitan mandiri TPS3R Satando Kecamatan Wajo.
Berbagai kegiatan lain turut mewarnai peringatan tersebut, mulai dari pembagian bibit tanaman, penyerahan bantuan teknologi tepat guna dan alat berkebun kepada 15 kecamatan se-Kota Makassar, hingga pemberian Certificate of Appreciation bidang Environmental Sustainability kepada Cafe Kue Mama yang konsisten melakukan pemilahan sampah sejak 2021.
Salah satu agenda yang menjadi sorotan adalah peluncuran poster Gerakan CHIGANJING. Gerakan yang terinspirasi dari filosofi Tionghoa tersebut mengajarkan pentingnya menghabiskan makanan dan menghindari pemborosan yang berpotensi menambah volume sampah organik.
Poster CHIGANJING selanjutnya dibagikan kepada pemilik rumah makan, kafe, hotel, serta perusahaan sektor transportasi milik negara maupun swasta sebagai bagian dari kampanye perubahan perilaku masyarakat.
Suasana acara semakin semarak dengan penampilan tarian dan Senam Lingkungan Hidup yang dibawakan murid-murid SD Sangir.
Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK Kota Makassar, Hj. Melinda Aksa, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah.
“Permasalahan sampah harus diselesaikan dari hulu. Memilah sampah organik dan anorganik dari rumah masing-masing merupakan bentuk kontribusi nyata dalam menjaga keseimbangan lingkungan,” ujarnya.
Melinda menjelaskan bahwa Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang saat ini menghadapi tekanan besar akibat tingginya volume sampah rumah tangga, terutama sampah organik yang sebenarnya memiliki nilai guna untuk diolah menjadi kompos maupun budidaya maggot.
Karena itu, masyarakat diharapkan hanya membuang sampah residu ke TPA. Saat ini Kota Makassar telah memiliki sejumlah TPS3R yang mengelola sampah organik di berbagai wilayah, termasuk TPS3R Kecamatan Wajo yang mulai beroperasi sejak Februari 2026. Kecamatan tersebut juga memiliki Bank Sampah Unit yang fokus mengelola sampah plastik dan minyak jelantah.
Menurutnya, penerapan prinsip 5R yakni Refuse (menolak), Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur ulang), dan Rot (mengomposkan), menjadi strategi penting dalam mewujudkan target Makassar sebagai kota zero waste pada 2029.
Sementara itu, Camat Wajo Ivan Kala’lembang menegaskan bahwa CHIGANJING bukan sekadar program seremonial, melainkan gerakan perubahan budaya masyarakat dalam mengelola sampah.
“CHIGANJING adalah perubahan adab dan kebiasaan, dari membuang sampah menjadi mengelola sampah. Kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah dari sumbernya akan memberikan manfaat ekologis, ekonomis, dan sosial yang besar,” ungkapnya.
Ivan menambahkan bahwa kapasitas daya tampung TPA saat ini tidak lagi sebanding dengan peningkatan volume sampah yang terus terjadi. Karena itu, masyarakat didorong memanfaatkan komposter, TEBA, serta lubang biopori untuk mengurangi sisa makanan dan sampah rumah tangga.
“CHIGANJING diharapkan menjadi lokomotif perubahan perilaku masyarakat, dari kebiasaan membuang menjadi memilah dan mengelola sampah secara bertanggung jawab,” tutup Ivan Kala’lembang.
Melalui berbagai program yang dijalankan dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tersebut, Kecamatan Wajo menunjukkan komitmennya menjadi salah satu motor penggerak transformasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat menuju Makassar yang lebih hijau, bersih, dan berkelanjutan. (aji)

Tinggalkan Balasan