Istiqamah Puasa Sunnah di Balik Jeruji, WBP Lapas Narkotika Sungguminasa Tempa Mental dan Perkuat Iman
GOWA, MATANUSANTARA — Di tengah proses pembinaan yang terus berjalan, puluhan warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lapas Narkotika Kelas IIA Sungguminasa menunjukkan komitmen kuat dalam memperbaiki diri melalui pendekatan spiritual. Secara konsisten menjalankan puasa sunnah Senin-Kamis, para WBP kembali menggelar buka puasa bersama sebagai bagian dari program pembinaan kepribadian yang difokuskan pada pembentukan karakter dan penguatan mental.
Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Lapas Narkotika Kelas IIA Sungguminasa pada Kamis (30/7/2026) tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan di dalam lapas tidak hanya berorientasi pada aspek keamanan, tetapi juga menyentuh pembangunan moral dan spiritual warga binaan.
Menjelang waktu Magrib, para WBP berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan sambil menunggu waktu berbuka. Momentum itu dimanfaatkan untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan, menumbuhkan sikap disiplin, meningkatkan pengendalian diri, serta membangun kesadaran untuk menjalani masa pidana dengan sikap yang lebih positif.
Program puasa sunnah Senin-Kamis yang rutin dilaksanakan ini mendapat antusiasme tinggi dari warga binaan. Selain menjadi sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, kegiatan tersebut juga menjadi media pembentukan karakter yang diharapkan mampu menekan perilaku negatif sekaligus mendorong perubahan pola pikir selama menjalani masa pembinaan.
Kepala Lapas (Kalapas) Narkotika Kelas IIA Sungguminasa, Gunawan, menegaskan bahwa pembinaan berbasis keagamaan merupakan salah satu instrumen penting dalam sistem pemasyarakatan modern karena terbukti mampu membangun kesadaran diri dan memperkuat mental warga binaan.
“Puasa mengajarkan kita untuk melatih kesabaran, mengendalikan diri, dan memperkuat keimanan. Nilai kesabaran inilah yang menjadi bagian penting dalam proses pembinaan. Kami berharap warga binaan dapat menjalani masa pidananya dengan penuh kesabaran, mengikuti seluruh program pembinaan dengan baik, hingga tiba waktunya kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik,” ujar Gunawan.
Menurutnya, keberhasilan pemasyarakatan tidak hanya diukur dari kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga dari perubahan sikap, pola pikir, dan kualitas kepribadian warga binaan setelah menjalani berbagai program pembinaan.
Melalui pembiasaan ibadah yang dilakukan secara berkelanjutan, Lapas Narkotika Kelas IIA Sungguminasa terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan pembinaan yang religius, humanis, dan produktif.
Upaya tersebut diharapkan mampu melahirkan warga binaan yang tidak hanya bebas secara hukum setelah menjalani masa pidana, tetapi juga siap kembali ke masyarakat dengan karakter yang lebih baik, kesadaran hukum yang kuat, serta semangat untuk menjalani kehidupan yang lebih positif. (***)

Tinggalkan Balasan