Hadapi Risiko Bencana Kemarau 2026, Polres Luwu Pastikan Personel dan Alat Siap Operasi
LUWU, MATANUSANTARA — Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang diprediksi meningkat pada puncak musim kemarau 2026 mendapat perhatian serius dari jajaran Polres Luwu. Sebagai langkah antisipatif, Polres Luwu bersama Pemerintah Kabupaten Luwu, TNI, BPBD, dan berbagai unsur terkait menggelar Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Karhutla yang dirangkaikan dengan pemeriksaan kekuatan personel serta pengecekan peralatan SAR dan kebencanaan, Selasa (11/8/2026).
Apel yang berlangsung di Lapangan Apel Polres Luwu, Kecamatan Belopa, tersebut dipimpin langsung Kapolres Luwu AKBP Andrias Nurcahyo Wibowo, S.H., S.I.K., M.Si., sebagai Inspektur Upacara. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi mitigasi untuk memastikan seluruh elemen penanggulangan bencana berada dalam kondisi siap siaga menghadapi kemungkinan terburuk selama musim kemarau.
Turut hadir Sekretaris Daerah Kabupaten Luwu Muh. Rudi, Ketua DPRD Luwu Ahmad Gazali, Kepala BPBD Luwu Andi Baso Tenriesa, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Muh. Yusuf, Wakapolres Luwu Kompol Misbahuddin, Pabung Luwu Kapten CBA Sudirman, Kasatpol PP Andi Ibrahim Sikki, perwakilan Kejaksaan Negeri Luwu, para pejabat utama Polres Luwu, para Kapolsek, Bhabinkamtibmas, serta unsur lintas sektoral lainnya.
Sedikitnya 100 personel gabungan diterjunkan dalam apel tersebut. Kekuatan itu terdiri dari unsur TNI-Polri, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Tagana, PMI, Pramuka, Senkom, hingga relawan kebencanaan yang selama ini menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana di wilayah Kabupaten Luwu.
Dalam amanat Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, S.H., M.H., yang dibacakan Kapolres Luwu, ditegaskan bahwa penanganan Karhutla tidak boleh lagi berorientasi pada respons setelah kebakaran terjadi. Sebaliknya, seluruh pemangku kepentingan diminta mengedepankan langkah pencegahan, deteksi dini, dan patroli rutin sebagai strategi utama.
“Pencegahan dini, deteksi dini, dan pelaksanaan patroli secara rutin jauh lebih efektif daripada mengandalkan upaya pemadaman setelah kebakaran terjadi,” tegas Kapolda Sulsel dalam amanatnya.
Peringatan tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Sulawesi Selatan diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus hingga September 2026. Kondisi cuaca kering yang berlangsung dalam waktu panjang berpotensi meningkatkan kerawanan kebakaran hutan, lahan perkebunan, maupun kawasan pemukiman apabila tidak diantisipasi secara maksimal.
Karena itu, Kapolda menekankan pentingnya membangun sistem mitigasi terpadu yang melibatkan pemerintah daerah, aparat keamanan, dunia usaha, komunitas peduli api, dan masyarakat secara luas. Sinergi lintas sektor dinilai menjadi faktor kunci dalam menekan risiko sekaligus mempercepat penanganan apabila terjadi bencana.
Usai apel, Kapolres Luwu bersama unsur Forkopimda melakukan inspeksi langsung terhadap berbagai sarana dan prasarana pendukung operasi penanggulangan bencana. Pemeriksaan meliputi kendaraan operasional, mesin pompa air, perlengkapan pemadaman, alat komunikasi, peralatan SAR, hingga alat pelindung diri (APD) yang akan digunakan personel di lapangan.
Pengecekan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh peralatan berada dalam kondisi siap operasional dan dapat segera digunakan apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya.
Kapolres Luwu AKBP Andrias Nurcahyo Wibowo menegaskan bahwa kesiapsiagaan merupakan investasi penting dalam mengurangi risiko bencana. Menurutnya, keberhasilan penanganan Karhutla sangat ditentukan oleh kecepatan respons dan kesiapan seluruh unsur sebelum bencana terjadi.
“Kita tidak ingin menunggu sampai terjadi kebakaran baru bergerak. Kesiapsiagaan harus dilakukan sejak dini, termasuk memastikan personel, peralatan dan koordinasi lintas sektor benar-benar siap,” tegas Kapolres.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar karena dapat memicu kebakaran yang sulit dikendalikan, terutama saat kondisi cuaca ekstrem dan tingkat kekeringan meningkat.
“Peran masyarakat sangat penting. Mari bersama-sama menjaga lingkungan dan segera melaporkan apabila menemukan potensi maupun kejadian kebakaran agar dapat ditangani dengan cepat,” ujarnya.
Apel gelar pasukan ini tidak hanya menjadi simbol kesiapan menghadapi ancaman Karhutla, tetapi juga mencerminkan komitmen kuat seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten Luwu dalam melindungi masyarakat dan lingkungan. Dengan kesiapan personel, dukungan peralatan yang memadai, serta kolaborasi lintas sektor yang solid, diharapkan potensi Karhutla dapat dicegah sejak dini sehingga dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan.
Di tengah ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang semakin kompleks, langkah preventif seperti ini menjadi fondasi penting dalam membangun ketangguhan daerah menghadapi berbagai risiko bencana di masa mendatang. (***)

Tinggalkan Balasan