Bravo! Bukti Pembinaan Berkualitas di Lapas Narkotika Sungguminasa, Hasil Karya Warga Binaan Mulai Diminati Masyarakat
GOWA, MATANUSANTARA — Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) dituntut menghasilkan perubahan yang nyata, bukan sekadar rutinitas di balik tembok lembaga pemasyarakatan. Di Lapas Narkotika Kelas IIA Sungguminasa, upaya tersebut mulai terwujud di bawah kepemimpinan Moh. Ilham Agung Setyawan.
Pembinaan itu tak hanya sekadar ungkapan semata. Namun, melalui produksi mebel berdasarkan pesanan masyarakat yang telah diselesaikan oleh warga binaan pada hari Selasa (27/10/2026). Aktivitas itu menjadi ruang bagi warga binaan untuk mengasah keterampilan, membangun tanggung jawab, sekaligus menghasilkan karya yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, warga binaan Lapas Narkotika Sungguminasa secara konsisten mengerjakan sejumlah produk mebel sesuai pesanan.
Kegiatan itu merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang diarahkan untuk membekali warga binaan dengan kemampuan kerja yang dapat dimanfaatkan setelah mereka menyelesaikan masa pidana.
Pesanan masyarakat menjadi salah satu indikator bahwa hasil keterampilan warga binaan memiliki kesempatan untuk dimanfaatkan di luar lingkungan lapas. Kepercayaan tersebut sekaligus menjadi motivasi untuk menjaga kualitas produk, meningkatkan ketelitian, dan menyelesaikan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab.
Lebih dari sekadar aktivitas produksi, pembuatan mebel menjadi sarana pembelajaran yang mempertemukan keterampilan teknis dengan kedisiplinan dan etos kerja. Bekal tersebut penting agar warga binaan memiliki kesiapan yang lebih baik ketika kembali beradaptasi dengan kehidupan sosial dan ekonomi di tengah masyarakat.
Keterampilan pertukangan membuka peluang bagi warga binaan untuk menekuni pekerjaan di bidang mebel, bekerja sesuai kompetensi, atau merintis usaha mandiri setelah bebas. Melalui proses produksi, mereka mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, memahami tanggung jawab terhadap pesanan, serta meningkatkan kemampuan menghasilkan produk yang bermanfaat.
Selain memperoleh pengalaman kerja, warga binaan juga berkesempatan menerima premi setiap bulan sebagai bentuk penghargaan atas pekerjaan yang dilakukan.
Kesempatan tersebut menjadi bagian dari manfaat ekonomi yang dapat diperoleh melalui kegiatan produktif selama menjalani pembinaan. Meski demikian, keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada kemampuan warga binaan mempertahankan keterampilan dan memanfaatkannya setelah kembali ke masyarakat.
Kepada media, Kalapas Narkotika Kelas IIA Sungguminasa, Moh. Ilham Agung Setyawan, menyampaikan apresiasi terhadap semangat warga binaan yang terus konsisten mengikuti pembinaan kemandirian.
“Saya sangat mengapresiasi semangat warga binaan kita yang terus belajar dan konsisten dalam menghasilkan produk mebel. Ini bukan hanya soal menyelesaikan pesanan, tetapi bagaimana mereka memperoleh keterampilan, pengalaman kerja, dan kepercayaan diri sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti,” ujarnya dengan bangga, dikutip media ini.
Menurut Ilham, dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam membuka kesempatan bagi warga binaan untuk menunjukkan kemampuan melalui hasil karya. Ketika produk yang dibuat memperoleh pesanan, warga binaan memiliki ruang untuk mempraktikkan keterampilan sekaligus belajar mempertanggungjawabkan kualitas pekerjaan.
Ilham, pada kesempatan itu, turut menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang telah mempercayakan pembuatan mebel kepada warga binaan Lapas Narkotika Sungguminasa.
“Kepada masyarakat yang telah mempercayai dan memesan produk mebel hasil karya warga binaan kami, kami ucapkan terima kasih. Kepercayaan ini menjadi motivasi bagi mereka untuk terus berkarya dan meningkatkan kualitas produk. Silakan memesan kembali produk mebel kami. Kami berkomitmen menjaga kualitas serta memastikan setiap pesanan dikerjakan dengan sungguh-sungguh,” tambahnya.
Komitmen menjaga kualitas tersebut menjadi aspek penting dalam mempertahankan kepercayaan pemesan. Sebab, pembinaan berbasis keterampilan akan semakin bermakna apabila hasil pelatihan mampu diterapkan dalam pekerjaan nyata dan memberikan manfaat bagi pihak yang menggunakan produknya.
Pembinaan kemandirian memiliki tujuan yang lebih luas daripada menghasilkan produk selama warga binaan menjalani masa pidana. Tantangan berikutnya adalah memastikan keterampilan yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk mencari pekerjaan, membangun usaha, dan menjalani kehidupan yang lebih produktif setelah bebas.
Karena itu, kesinambungan pelatihan, peningkatan mutu produk, dan terbukanya peluang kerja menjadi unsur penting dalam memperkuat manfaat program pembinaan.
Melalui kegiatan produksi mebel, Lapas Narkotika Kelas IIA Sungguminasa berupaya memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk mengembangkan potensi, memperoleh pengalaman kerja, dan membangun kepercayaan diri.
Pesanan masyarakat menjadi bagian dari proses tersebut. Dengan keterampilan yang terus diasah dan tanggung jawab yang dibangun melalui pekerjaan, warga binaan diharapkan mampu mempersiapkan diri untuk kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih mandiri, produktif, dan siap menata masa depan. (***).

Tinggalkan Balasan