MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

AWACS Hancur Dihantam Rudal Iran, Kerugian Strategis AS Terungkap

Pesawat E-3 Sentry (AWACS) sebagai pusat kendali udara militer. (Dok/Spesial/Chatgpt)

TIMUR TENGAH, MATANUSANTARA — Serangan rudal yang dikaitkan dengan Iran dilaporkan menghantam Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, menyebabkan kerusakan serius pada sejumlah aset militer udara, termasuk satu unit pesawat peringatan dini dan komando E-3 Sentry (AWACS) yang bernilai tinggi.

Informasi yang dihimpun dari sumber yang mengetahui operasi tersebut menyebutkan, pesawat bernilai sekitar US$300 juta itu terkena dampak langsung serangan beberapa hari lalu. Sumber tersebut meminta identitasnya dirahasiakan karena sensitivitas operasi militer yang sedang berlangsung.

Foto-foto yang beredar, meskipun belum diverifikasi secara independen, memperlihatkan kondisi pesawat dengan bagian ekor terputus, mengindikasikan kerusakan fatal yang membuat pesawat tidak dapat dioperasikan kembali.

Pesawat AWACS dikenal sebagai pusat kendali udara yang dilengkapi cakram radar berputar di atas badan pesawat. Fungsinya krusial dalam mendeteksi ancaman dari jarak jauh sekaligus mengoordinasikan pergerakan pesawat tempur di medan operasi.

Kehilangan satu unit platform ini dinilai bukan sekadar kerugian material, melainkan pukulan terhadap sistem komando dan kendali udara yang selama ini menjadi keunggulan militer Amerika Serikat di kawasan.

“Ini masalah besar,” kata Peter Layton, mantan perwira Angkatan Udara Australia dan peneliti tamu di Griffith Asia Institute. “Ini menyoroti bahwa pesawat besar rentan di darat dan membutuhkan pertahanan aktif. Hal itu sulit dilakukan sepanjang waktu, kadang-kadang gagal.”

Hingga saat ini, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan hancurnya pesawat tersebut. Informasi awal insiden ini sebelumnya juga telah disorot oleh Air & Space Forces Magazine.

Secara historis, platform E-3 Sentry jarang mengalami kerugian dalam operasi tempur. Sejak diperkenalkan pada akhir 1970-an, hanya tiga unit yang dilaporkan hilang, itu pun akibat kecelakaan, bukan serangan musuh.

Insiden ini sekaligus membuka celah kerentanan pada aset militer bernilai tinggi yang berada di darat. Pesawat besar seperti AWACS maupun tanker KC-135 Stratotanker diketahui memiliki keterbatasan dalam mobilitas saat berada di pangkalan, sehingga bergantung penuh pada sistem pertahanan udara.

Di sisi lain, eskalasi konflik menunjukkan intensitas yang meningkat. Iran dilaporkan telah meluncurkan lebih dari 1.200 rudal balistik ke berbagai target di kawasan, serta mengembangkan dan menggunakan ribuan drone serta rudal jelajah jenis Shahed.

Serangan sebelumnya bahkan dilaporkan menghancurkan sejumlah pesawat tanker di darat, memperkuat indikasi bahwa strategi yang digunakan adalah menargetkan aset bernilai tinggi untuk melemahkan keunggulan operasional lawan.

Sementara itu, militer Amerika Serikat tetap mengandalkan pembom strategis seperti B-52 dan B-1B yang menggunakan rudal jelajah jarak jauh untuk menyerang target tanpa harus memasuki wilayah udara yang berisiko tinggi.

Jika laporan ini terkonfirmasi, maka hancurnya satu unit E-3 Sentry akan menjadi catatan penting dalam dinamika peperangan modern, di mana dominasi udara tidak lagi sepenuhnya aman, bahkan bagi kekuatan militer terbesar sekalipun.

Sumber: Bloombergtechnoz.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini