MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

Babak Baru: Otopsi Napi Sidrap Rampung, Keluarga Desak Polisi Transparansi dan Keadilan Terbuka

Proses pembongkaran makam dan otopsi jenazah narapidana Muhammad Taufik di Desa Bila Riase, Sidrap, dikawal ketat aparat.

SIDRAP, MATANUSANTARA — Proses otopsi terhadap jenazah Muhammad Taufik, narapidana (napi) Rutan Kelas IIB Sidrap yang diduga tewas akibat penganiayaan, akhirnya rampung dilaksanakan oleh tim Kedokteran Forensik (Dokpol) Polda Sulawesi Selatan (Sulsel), Senin (30/3/2026).

Pembongkaran makam hingga pemeriksaan medis legal berlangsung di Desa Bila Riase, Kecamatan Pitu Riase, sejak pukul 09.00 WITA, dan menjadi titik krusial dalam menguji kebenaran penyebab kematian korban yang sebelumnya diklaim bunuh diri oleh pihak Rutan.

Namun, selesainya proses otopsi justru memunculkan tanda tanya baru. Tidak satu pun aparat penegak hukum memberikan keterangan resmi kepada awak media.

Pantauan di lokasi, personel Satreskrim Polres Sidrap, Polsek Pitu Riase, hingga Resmob Polda Sulsel langsung meninggalkan area pemakaman tanpa menyampaikan hasil sementara maupun perkembangan penyelidikan.

Sikap bungkam ini memantik kekecewaan wartawan dan publik, mengingat kasus ini telah menyita perhatian luas dan menyangkut dugaan pelanggaran serius terhadap hak hidup warga binaan.

Di tengah minimnya transparansi, suara keluarga korban justru menjadi satu-satunya penegasan tuntutan keadilan.

”Dengan adanya otopsi ini, saya berharap penyidik dapat mengungkap kasus ini seterang-terangnya. Kalau memang suami saya dibunuh di dalam Rutan, saya meminta agar pelakunya dihukum seberat-beratnya,” pinta Hati, istri almarhum.

Keyakinan adanya unsur kekerasan juga disampaikan pihak keluarga lainnya.

”Saya sangat yakin itu luka bekas penganiayaan. Di kepala korban ada luka terbuka. Kami berharap hasil otopsi ini segera dibuka ke publik agar masyarakat tahu kebenarannya. Jika terbukti dianiaya hingga tewas, pelakunya harus diseret ke ranah hukum,” tegas Safaruddin Daeng Nompo, paman korban.

Tekanan terhadap transparansi penanganan kasus ini juga datang dari legislatif daerah.

Tiga anggota DPRD Sidrap terlihat hadir mengawal jalannya otopsi, salah satunya Andi Tenri Sangka.

“Rutan adalah tempat warga dibina bukan dibinasakan. Oleh karenanya, bila memang terbukti ada kekerasan dibalik peristiwa meninggalnya Muhammad Taufik, saya mendorong aparat penegak hukum agar menyeret pelaku mempertanggungjawabkan perbuatannya dan memberikan keadilan yang seadil-adilnya kepada keluarga korban,” ucap Andi Tenri Sangka.

Pernyataan tersebut mempertegas bahwa kasus ini tidak lagi sekadar dugaan insiden internal, melainkan telah menjadi isu publik yang menuntut akuntabilitas institusi.

Kini, hasil uji laboratorium forensik Polda Sulsel menjadi kunci utama untuk mengungkap fakta sebenarnya di balik kematian Muhammad Taufik.

Apakah korban benar mengakhiri hidupnya sendiri, atau justru menjadi korban kekerasan di dalam sistem pemasyarakatan jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan arah penegakan hukum sekaligus menguji komitmen aparat dalam menegakkan keadilan tanpa kompromi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini