Bongkar Kejanggalan Bantahan Suap Rp15 Juta Polres Bone, Granat Ungkap Fakta Video Tak Terbantahkan
BONE, MATANUSANTARA –– Dugaan praktik suap senilai Rp15 juta dalam penanganan kasus narkoba di Polres Bone kembali menjadi sorotan publik setelah video percakapan berdurasi lebih dari satu menit viral di sejumlah grup WhatsApp. Video itu menampilkan dugaan komunikasi antara orang tua tersangka DR (30) dan seorang pria bernama Baha, yang menyebut adanya penyerahan uang kepada oknum polisi untuk penyelesaian kasus.
Kasus ini menjadi perhatian serius bagi Gerakan Anti Narkotika (GRANAT) Kota Makassar. Wakil Ketua GRANAT Makassar, Muh. Syahban Munawir, SH., MH., menegaskan bahwa analisis terhadap nada bicara dan konteks percakapan dalam video menimbulkan dugaan kuat bahwa praktik pembayaran tersebut memang terjadi.
“Jika kita resapi suara dan pola komunikasi dalam video, terlihat jelas adanya indikasi transaksi. Ini bukan sekadar asumsi, melainkan fakta visual dan audio yang harus ditindaklanjuti,” ujar Awhy (sapaan akrap) kepada matanusantara.co.id, Rabu (14/01/2026).
Pihak keluarga DR, setelah video itu viral, membantah keras tudingan tersebut. Orang tua tersangka, Nuralam, menegaskan tidak pernah menyerahkan uang kepada polisi dan hanya meminta bantuan keluarga bernama Baha untuk mendampingi anaknya.
Senadah dengan Istri DR, Erni, menyatakan tidak mengetahui adanya uang damai dan menegaskan komunikasi yang dilakukan hanya sebatas menanyakan perkembangan kasus.
Namun, GRANAT menyoroti inkonsistensi bantahan ini dengan fakta video yang viral. Menurut analisis mereka, meski penyidik Polres Bone menyatakan proses hukum berjalan sesuai prosedur dan DR direkomendasikan untuk rehabilitasi, fakta komunikasi dan nada suara dalam video menimbulkan pertanyaan serius mengenai kemungkinan adanya pertemuan atau negosiasi di luar mekanisme resmi.
“Tidak bisa diabaikan begitu saja. Video tersebut adalah bukti awal yang menunjukkan ada interaksi terkait nominal Rp15 juta. Logikanya, jika tidak ada transaksi, mengapa percakapan itu muncul dengan konteks yang jelas?” tegas Awhy.
Sementara Kasat Narkoba Polres Bone, Iptu Irham, menegaskan bahwa isu suap adalah fitnah dan proses hukum dilakukan transparan. DR direkomendasikan rehabilitasi berdasarkan hasil gelar perkara, asesmen, dan uji laboratorium forensik.
Meski demikian, GRANAT menekankan pentingnya investigasi lebih lanjut dan keterbukaan pihak kepolisian. Menurut mereka, publik berhak mengetahui fakta yang sesungguhnya, dan semua bukti video harus dijadikan dasar pemeriksaan lanjutan agar tidak muncul persepsi ketidakadilan atau potensi penyalahgunaan wewenang.
Kasus ini menjadi contoh nyata ketegangan antara prosedur hukum resmi dan indikasi praktik di luar mekanisme, di mana pengawasan publik dan peran lembaga independen seperti GRANAT menjadi sangat vital.
Transkrip potongan video viral
👵 Wanita (Lansia): Masa sih? Tidak ada orang yang bertanya kenapa kamu merekam kalau cuma satu orang yang merekam?
> Iyyaga… de’ gaga tau makkutana mapparekam-mu ko na se’di lorang mapparekam?
🧑 Pria (Pemuda): Oh, jadi sudah jelas ya itu 15 juta?
> Oh, jaji manessa-ni re’di ro 15 juta?
👵 Wanita: Iya, sudah jelas.
> Iye, manessa.
🧑 Pria: Oh, iya benar.
> Oh, iye marengnge’.
👵 Wanita: Iya.
> Iye.
🧑 Pria: Siapa itu? Siapa itu?
> Igina re’? Igina re’?
👵 Wanita: Siapa lagi namanya yang dia sebut…
> Igini na luppe’ naseng asenna…
🧑 Pria: Iya, nanti lebih jelasnya sebentar di… di Susumatoro.
> Iya, manessapai cinampe’tu di anu, di… di Susumatoro.
👵 Wanita: Iya, katanya nomornya saja yang sulit, kalau ditelepon tidak diangkat.
> Iye, nomorna bawang na aseng ni sessa’ pa na telepon-ngi rekke’ de’ na akka mo.
🧑 Pria: Uang itu pasti kembali.
> Matallisu’ doitu appe-ma.
👵 Wanita: Iya.
> Iye.
🧑 Pria: Asalkan (mereka) tidak bebas supaya (uangnya) bisa kembali.
> Asal kan de’ bebas kaminna lisu’ die.
👵 Wanita: Iya, tolong sampaikan ke Pak Wi, tidak ada apa-apa, ini juga tidak… (terputus)
> Iye, pasenni kasi’ Pak Wi, de’ gaga apa tau iye jato nane de’ to na ssu.
🧑 Pria: Iya, sedang diurus bersama urusan keluarga.
> Iye, mapparusu’ sibakko urusang kaluarga.
👵 Wanita: Siapa itu tadi yang dibilang polisi?
> Igina senna iro makkeda polisi-e?
🧑 Pria: Iya.
> Iya.
👵 Wanita: Itu tadi katanya dikembalikan.
> Iro pasulemanasenna denre.
🧑 Pria: Dikembalikan, dikembalikan. Bagian apa itu?
> Pasuleman, pasuleman. Bagang aga iro?
👵 Wanita: Kani.
> Kani.
🧑 Pria: Oh, iya Kani. Katanya Kani ada di sana.
> Oh, iya Kani. Kani naseng engka i lena.
👵 Wanita: Dia paksa cuma mau dua orang, mau merekam sedikit tapi tidak dibolehkan. Ada yang tidak… (kurang jelas) nanti.
> Nawajakeng elo’ne dua moi, lo’reng mapparekam cedde’ de’ na lorongngi. Engkana tennia de’ komalampu matu ha.
🧑 Pria: Iya, terus terang saja.
> Iye, tappoe terus terang.
👵 Wanita: Iya.
> Iye.
🧑 Pria: Itu perlu diperjelas.
> Perrulesso iro.
👵 Wanita: Iya, tunggu saja dulu.
> Iye, taje’ni pele’ na iye.
🧑 Pria: Ok, kirim nomornya kakek/nenek ini, biar dikirim nomor laki-lakinya.
> Ok, kirim nomorna nene’ iye, nakirim nomorna urane-e.
👵 Wanita: Iya, iya. Sekalian yang merekam kirim juga…
> Iye, iye. Sipamma’ mapparekam kirim nuarase’…

Tinggalkan Balasan