MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

Breaking News: SPBU 74-901-04 Diduga Sunat Takaran BBM, Operator Lempar Dugaan ke SPBU Andalas

Gambar editan Mata Nusantara dua SPBU Pertamina di Makassar (Dok/Spesial/Google)

MAKASSAR, MATANUSANTARA — Dugaan praktik short delivery atau pengurangan takaran BBM di SPBU bernomor register 74-901-04 di Jalan Tentara Pelajar, Kecamatan Wajo, Kota Makassar, berkembang menjadi isu serius yang mengarah pada krisis akuntabilitas distribusi energi.

Alih-alih meredam situasi, pernyataan operator justru memicu eskalasi baru. Dugaan awal yang mengarah ke SPBU Tentara Pelajar kini “dilempar” ke SPBU Andalas noreg 74.901.09 di wilayah Bontoala, memunculkan indikasi kuat adanya dispute narasi di internal lapangan.

Roni, operator SPBU Tentara Pelajar, secara terbuka membantah bahwa peristiwa tersebut terjadi di lokasi kerjanya.

“Itu disana Andalas bukan SPBU kami, kenapa Abang buat berita SPBU kami berita yang tidak masuk akal..??? mengisi di SPBU lain kenapa bawa nama kmi punya SPBU???” katanya kepada matanusantara.co.id melalui pesan singkat WhatsApp, Selasa (24/03/2026)

Namun, bantahan ini langsung berbenturan dengan konstruksi fakta awal yang telah dikantongi awak media. Peristiwa di SPBU Andalas disebut sebagai kejadian berbeda, bukan locus utama dugaan yang tengah disorot.

Situasi semakin kompleks ketika Roni menggeser beban persoalan ke konsumen, dengan menyinggung tidak adanya komplain saat kejadian serta kemungkinan kerusakan kendaraan.

“Saya paham kalimat kalimat bgtu bang, salahnya kita kenapa tidak komplain di hari itu, dan juga kapasitas tangki motor sebenarnya 4,8.. kenapa diberita fuulnya 40 ribu malahan it kurang, jangan sampai spidometer nya rusak, salahkan kami di Pertamina” ujarnya

Narasi tersebut segera dipatahkan oleh Ajela, konsumen yang mengalami langsung peristiwa pengisian yang dipersoalkan. Ia menegaskan bahwa komplain telah dilakukan saat kejadian berlangsung, namun direspons tanpa tindakan lanjutan.

“Pada saat itu saya sudah komplain dengan nada tinggi, kenapa Rp40 ribu, tapi respon operator hanya bertanya, biasanya berapa, jadi saya jawab biasanya Rp30 ribu, setelah itu tindakan operator tidak tidak ada lagi, makanya saya kabari ki untuk tindak lanjuti” tegas Ajela saat dihubungi ulang awak media, Selasa (24/03)

Sebelumnya, kasus ini mencuat setelah pengisian BBM pada sepeda motor jenis Mio J disebut mencapai Rp40 ribu dalam kondisi tangki penuh angka yang dinilai janggal oleh konsumen. Selasa malam, 17 Maret 2026, sekitar pukul 22.00 wita

“Dipattolkah (dibodoh-bodohi) tadi sama SPBU Tentara Pelajar ini. Masa Mio J full-nya Rp40 ribu,” ungkapnya kepada Matanusantara.co.id, Rabu (18/03)

Di lokasi, operator bernama Irna mengakui bahwa pengawas tidak berada di tempat saat kejadian berlangsung, situasi yang secara prosedural tergolong krusial.

“Iya, tunggu maki’ kalau mauki menunggu,” katanya saat ditemui tim redaksi matanusantara.co.id, Senin (23/03)

Lebih jauh, pernyataan Irna justru mempertegas celah serius dalam standar operasional pengisian BBM.

“Tapi tidak bisa dipastikan dari kecurangannya. Karena tidak bisa dipastikan banyaknya sisa isi bensinnya pada saat melakukan pengisian,” ujarnya

Dalam praktik industri distribusi BBM, pernyataan tersebut dinilai tidak relevan. Volume BBM merupakan parameter presisi yang menjadi basis transaksi, bukan variabel spekulatif.

Kontroversi memuncak saat muncul pernyataan yang secara eksplisit meminta konsumen untuk tidak melakukan komplain.

“Tapi kalau di sini itu Kak, jangan maki’ komplain,” tambahnya

Sementara operator lain kembali mengarahkan agar menunggu pengawas yang tidak berada di lokasi saat kejadian.

“Tunggu maki, keluar ki pengawas, karena motornya tidak ada,” ujar Roni

Ketiadaan pengawas, ditambah inkonsistensi pernyataan antar operator, memperlihatkan indikasi lemahnya kontrol internal di lapangan. Upaya mengalihkan lokasi kejadian ke SPBU lain juga dinilai berpotensi mengaburkan konstruksi fakta.

Hingga breaking news ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak pengelola SPBU maupun otoritas terkait mengenai hasil verifikasi dugaan short delivery tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini