MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

HBP ke-62, Lapas Maros Dorong Produk Warga Binaan Tembus Pasar

Peninjauan stand bazar karya warga binaan oleh jajaran Kanwil Ditjenpas Sulsel dalam rangka HBP ke-62 di Palopo.

PALOPO, MATANUSANTARA — Peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62 tidak lagi sekadar seremoni tahunan. Di tengah tuntutan reformasi sistem pemasyarakatan, kegiatan jalan santai dan bazar karya warga binaan di Kota Palopo justru menjadi panggung uji konkret: sejauh mana pembinaan di dalam lapas benar-benar menghasilkan output yang bernilai dan berkelanjutan.

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Maros tampil sebagai salah satu peserta aktif dalam kegiatan yang digelar di Gedung Opu Daeng Risadju tersebut, Sabtu (11/04), bersama seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) pemasyarakatan se-Sulawesi Selatan.

Jalan santai yang membuka rangkaian acara memang menghadirkan suasana kebersamaan antarpetugas. Namun secara substansi, kegiatan ini mencerminkan upaya menjaga soliditas internal di tengah tantangan kompleks pemasyarakatan, mulai dari overkapasitas hingga tekanan terhadap integritas petugas.

Fokus utama justru mengarah pada bazar produk warga binaan. Dalam konteks ini, negara melalui Ditjenpas mencoba menunjukkan wajah lain lembaga pemasyarakatan: bukan sekadar tempat menjalani hukuman, melainkan ruang produksi dan pembinaan keterampilan.

Stand Paguyuban Ibu-Ibu Pemasyarakatan (PIPAS) yang ditinjau langsung oleh Kepala Kanwil Ditjenpas Sulsel bersama Ketua PIPAS Daerah menjadi etalase berbagai produk. Mulai dari kerajinan hingga olahan pangan, seluruhnya merepresentasikan hasil program pembinaan kemandirian.

Namun pertanyaan krusial muncul: apakah produk-produk tersebut mampu menembus pasar secara konsisten, atau hanya berhenti pada momentum seremonial seperti bazar tahunan?

Partisipasi Lapas Maros dalam kegiatan ini dinilai sebagai langkah strategis, tetapi juga membuka ruang evaluasi. Sebab, keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari jumlah produk yang dihasilkan, melainkan dari keberlanjutan ekonomi warga binaan setelah kembali ke masyarakat.

Di titik ini, bazar menjadi simbol sekaligus ujian. Simbol keberhasilan program, namun juga ujian atas efektivitasnya dalam jangka panjang.

Kegiatan ditutup dengan pembagian doorprize yang menambah semarak suasana. Meski demikian, esensi kegiatan tetap berada pada pesan yang ingin disampaikan kepada publik: bahwa warga binaan memiliki potensi produktif yang layak diberi ruang.

Sementara Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIB Maros, Ali Imran, menegaskan pentingnya momentum ini sebagai sarana membangun kepercayaan publik sekaligus memperkuat sinergi internal.

“Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya memperkuat sinergi antarpetugas, tetapi juga menunjukkan kepada masyarakat bahwa warga binaan mampu menghasilkan karya yang bernilai dan layak bersaing,” ujar Imran.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi tantangan terbuka bagi institusi pemasyarakatan. Transparansi, akses pasar, dan pendampingan pasca-bebas menjadi faktor kunci yang menentukan apakah narasi “pembinaan berhasil” benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

HBP ke-62 pada akhirnya bukan hanya perayaan, tetapi cermin. Cermin bagi sistem pemasyarakatan untuk menguji diri: apakah telah bergerak dari sekadar menghukum, menuju benar-benar memulihkan dan memberdayakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini