Kalapas Maros Tegaskan Fitrah Pembinaan dan Pelayanan Humanis Idul Fitri 1447H/2026M

Foto Kalapas Ali Imran bersama pejabat utama Lapas Kelas IIA Maros (Dok/Spesial/Humas Lapas Maros).

MAROS, MATANUSANTARA — Momentum Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah dimaknai sebagai titik refleksi institusional oleh Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Maros, tidak hanya dalam konteks spiritual, tetapi juga sebagai penguatan arah pembinaan berbasis kemanusiaan dan integritas.

Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIB Maros, Ali Imran, bersama seluruh jajaran struktural dan staf secara resmi menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri kepada masyarakat luas, pemangku kepentingan, serta keluarga besar Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), sebagai bagian dari komunikasi publik yang inklusif dan berorientasi pelayanan.

Idul Fitri tahun ini diletakkan sebagai momentum strategis untuk menginternalisasi kembali nilai-nilai BerAKHLAK di lingkungan pemasyarakatan, sekaligus mempertegas komitmen terhadap transformasi pembinaan yang berkelanjutan.

Dalam pernyataan resminya usai melaksanakan shalat ied, Ali Imran menekankan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan simbol keberhasilan melewati proses pengendalian diri, kejujuran, serta kesabaran selama bulan Ramadan nilai-nilai yang selaras dengan prinsip dasar sistem pemasyarakatan.

“Kemenangan ini adalah milik kita semua yang mau membuka hati untuk saling memaafkan dan memperbaiki diri. Atas nama pribadi dan Keluarga Besar Lapas Kelas IIB Maros, kami mengucapkan: Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H. Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin,” ujar Ali, katanya, Sabtu (21/03)

Lebih lanjut, Ali Imran menegaskan bahwa pendekatan pembinaan di Lapas Maros tidak semata berorientasi pada aspek administratif, tetapi juga mengedepankan dimensi humanis yang memberi ruang bagi warga binaan untuk merekonstruksi jati diri secara bertahap dan terukur.

Dalam konteks pelayanan publik, Lapas Kelas IIB Maros memastikan seluruh mekanisme kunjungan hari raya berjalan optimal, dengan tetap menjunjung prinsip keamanan, ketertiban, dan pendekatan persuasif. Hak-hak ibadah warga binaan juga dijamin pelaksanaannya sebagai bagian dari pemenuhan hak dasar yang dilindungi regulasi.

Langkah ini sekaligus menjadi indikator bahwa institusi pemasyarakatan tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembinaan, tetapi juga sebagai ruang rehabilitasi sosial yang berorientasi pada reintegrasi.

Disisi lain, momentum Idul Fitri juga dimanfaatkan untuk memperkuat sinergi antara petugas, masyarakat, dan pemangku kepentingan, guna menciptakan ekosistem pemasyarakatan yang kondusif, religius, serta berintegritas tinggi.

Rilis ini ditutup dengan harapan agar semangat Idul Fitri 1447 Hijriah dapat membawa keberkahan bagi masyarakat Kabupaten Maros, mempererat silaturahmi lintas elemen, serta memperkuat nilai-nilai kebangsaan dalam bingkai persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *