Seorang Ojol Nyaris Diamuk Massa Usai Kehilangan Hp di CPI Makassar, Begini Kronologinya!!
MAKASSAR, MATANUSANTARA — Kepanikan akibat kehilangan telepon genggam di kawasan Center Point of Indonesia (CPI) nyaris berujung aksi main hakim sendiri. Seorang pengemudi ojek online (Ojol) berinisial Muh. Tri Irwanto (24) hampir menjadi sasaran amuk massa setelah menuding warga Maccini Sombala, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, bernama Markus Kale, Minggu 01 Maret 2026.
Peristiwa bermula ketika Tri menyadari ponselnya hilang saat berada di area CPI. Dalam kondisi emosional, kecurigaan diarahkan kepada Markus. Tanpa proses verifikasi, tudingan berkembang menjadi aksi pengejaran menggunakan kendaraan roda dua hingga ke sekitar kediaman yang dituduh.
Aksi tersebut memicu perhatian warga. Kerumunan terbentuk cepat di Kelurahan Maccini Sombala. Situasi berubah tegang ketika nama Markus disebut secara terbuka sebagai terduga pelaku.
Di hadapan warga, Markus membantah keras tudingan tersebut. Ia menegaskan tidak pernah mengambil ataupun menguasai telepon genggam milik pengemudi ojol. Ia juga menyatakan ponsel tersebut kemungkinan terjatuh atau tertinggal di lokasi lain.
Namun, tuduhan yang terus dilontarkan di ruang publik meningkatkan tekanan psikologis dan memicu potensi konflik horizontal. Atmosfer sosial nyaris tidak terkendali sebelum warga akhirnya mengamankan Tri untuk mencegah tindakan kekerasan kolektif.
Respons cepat dilakukan setelah laporan masuk ke aparat. Aipda M. Ruslan Dahlan selaku Bhabinkamtibmas Kelurahan Maccini Sombala segera berkoordinasi dengan Ketua RT dan saksi di lokasi guna menenangkan situasi.
Penyelesaian ditempuh melalui mekanisme problem solving di Unit Binmas Tamalate dengan menghadirkan kedua pihak serta keluarga masing-masing. Pendekatan persuasif dipilih guna mencegah eskalasi lanjutan.
Mediasi berlangsung dalam suasana kondusif. Kedua belah pihak akhirnya menyadari adanya kesalahpahaman dan sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam surat pernyataan bersama.
Insiden ini memperlihatkan bagaimana tuduhan yang belum terverifikasi dapat dengan cepat berubah menjadi tekanan sosial yang membahayakan keselamatan individu. Di ruang publik yang reaktif, akurasi informasi dan kontrol emosi menjadi faktor determinan dalam mencegah lahirnya kekerasan massa. (RAM/Ramadhan)


Tinggalkan Balasan