MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

Tiket Piala Dunia 2026 “Gila Harga”, FIFA Digugat: Sepak Bola Jadi Milik Elit?

Ilustrasi suasana stadion penuh suporter dalam ajang Piala Dunia, di tengah sorotan tajam terhadap mahalnya harga tiket edisi 2026 yang memicu gugatan ke FIFA.

MAKASSAR, MATANUSANTARA –Piala Dunia FIFA 2026 yang digadang sebagai pesta sepak bola terbesar sepanjang sejarah justru terancam berubah menjadi simbol eksklusivitas. Harga tiket yang melonjak ekstrem memicu gugatan resmi terhadap FIFA, sekaligus membuka perdebatan serius: apakah sepak bola masih milik rakyat?

Dilansir bola.com, pada Rabu (25/03/2025), gugatan diajukan oleh Football Supporters Europe (FSE) bersama Euroconsumers ke Komisi Eropa. Mereka menuding FIFA menyalahgunakan posisi dominannya dalam distribusi tiket sebuah praktik yang dinilai melanggar prinsip persaingan sehat dan merugikan konsumen global.

Turnamen yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini memang membawa format baru dengan 48 tim dan 104 pertandingan. Namun, ekspansi tersebut justru diiringi lonjakan harga yang dianggap tidak rasional.

Alih-alih memperluas akses, kebijakan harga dinilai mempersempit ruang bagi penggemar kelas menengah.

“FIFA memegang monopoli atas penjualan tiket Piala Dunia 2026 dan menggunakan kekuatan itu untuk menetapkan syarat yang tidak akan pernah diterima di pasar yang kompetitif,” tegas FSE, kutip matanusantara.co.id.

Sorotan utama tertuju pada laga final 19 Juli 2026. Tiket termurah dilaporkan menyentuh Rp68 juta, melonjak lebih dari tujuh kali lipat dibanding final Piala Dunia 2022 di Qatar.

Angka tersebut bahkan melampaui logika pasar olahraga global. Sebagai pembanding, tiket final Euro 2024 hanya berkisar Rp1,6 juta menunjukkan disparitas ekstrem antar ajang elite.

Namun polemik tidak berhenti di sana. Di pasar penjualan ulang resmi FIFA, harga tiket justru melonjak ke level yang nyaris absurd. Salah satu tiket kategori tiga untuk final di MetLife Stadium dilaporkan menembus Rp2,3 miliar lebih dari 40 kali lipat harga awal.

Fenomena ini memperkuat dugaan adanya distorsi dalam mekanisme distribusi tiket, termasuk potensi spekulasi yang difasilitasi sistem itu sendiri.

Padahal, dalam proposal awal tuan rumah, FIFA sempat menjanjikan tiket mulai dari Rp340 ribu. Realitanya, tiket termurah kini hampir menyentuh Rp1 juta bahkan untuk laga fase grup yang tidak melibatkan tim unggulan.

Untuk pertandingan besar, harga praktis tidak lagi terjangkau bagi mayoritas penggemar.

Monopoli, Komersialisasi, dan Krisis Akses

Secara struktural, FIFA memegang kontrol penuh atas distribusi tiket tanpa kompetitor. Kondisi ini membuka ruang bagi praktik penetapan harga yang tidak dikoreksi mekanisme pasar.

Dalam perspektif hukum persaingan, tudingan FSE bukan tanpa dasar. Jika terbukti, FIFA berpotensi menghadapi tekanan regulatif serius dari Uni Eropa.

Lebih jauh, polemik ini menyingkap persoalan mendasar: komersialisasi sepak bola yang semakin menjauh dari basis suporternya.

Dari olahraga rakyat, Piala Dunia berisiko berubah menjadi produk premium yang hanya bisa diakses kalangan tertentu.

Dampak Nyata: Fans Tersingkir, Atmosfer Terancam

Efek langsung dari kebijakan ini tidak hanya soal harga, tetapi juga atmosfer stadion. Ketika tiket dikuasai pasar sekunder dan kelas ekonomi atas, identitas suporter tradisional berpotensi terpinggirkan.

Padahal, atmosfer fanatik yang selama ini menjadi jiwa Piala Dunia dibentuk oleh kehadiran suporter akar rumput.

  • Tanpa mereka, turnamen bisa kehilangan ruhnya.
  • Babak Baru Tekanan Global terhadap FIFA

Gugatan ini menjadi sinyal bahwa resistensi terhadap FIFA mulai terorganisir secara hukum, bukan sekadar protes di media sosial.

Jika tekanan terus menguat, FIFA tidak hanya menghadapi risiko reputasi, tetapi juga potensi intervensi kebijakan yang memaksa perubahan sistem tiket secara fundamental.

Piala Dunia 2026 kini tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga arena pertarungan antara kepentingan bisnis global dan hak akses publik. (Ramadhan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini