GOWA, MATANUSANTARA –Gelombang kritik terhadap kinerja aparat kepolisian di Sulawesi Selatan (Sulsel) semakin keras. Satuan Siswa Pelajar dan Mahasiswa (SAPMA) Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Gowa menggelar aksi di perbatasan Gowa-Makassar, tepatnya di Jalan Alauddin, Kecamatan Rappocini, Kamis 28 Agustus 2025.
Aksi tersebut digelar karena menilai aparat kepolisian tidak lagi menjalankan perannya sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, melainkan justru menunjukkan sikap arogan dan represif.
SAPMA PP Gowa: Copot Kapolri dan Komandan Korps Brimob Usai Tragedi DPR
Terpantau awak media, para demonstran menahan sebuah mobil kontainer untuk dijadikan sebagai panggung orasi sembari membakar bam bekas ditengah jalan.
Adapun rangkaian Kasus yang Disorot
- Kabupaten Bone
Mahasiswa dan masyarakat yang berunjuk rasa di depan Kantor Bupati Bone dibubarkan dengan cara represif oleh aparat.
- Kabupaten Takalar
Aksi protes petani terhadap kegiatan panen PTPN IV Takalar berakhir ricuh. Aparat kepolisian justru membubarkan aksi dengan tindakan kasar, dianggap lebih berpihak pada korporasi dibanding masyarakat.
- Penggerebekan di Bone
Oknum aparat diduga melakukan pemerasan terhadap pemilik toko tani. Tak lama setelah insiden itu, ayah pemilik toko mengalami stroke dan serangan jantung hingga meninggal dunia.
SAPMA PP Gowa menyampaikan lima tuntutan tegas:
- Mendesak Kapolri mencopot Kapolda Sulawesi Selatan.
- Mendesak Kapolres Bone dicopot karena arogan dalam menangani aksi mahasiswa dan masyarakat.
- Mendesak Kapolres Takalar dicopot karena represif terhadap aksi petani.
- Menghentikan seluruh bentuk tindakan represif aparat kepolisian terhadap mahasiswa, petani, dan masyarakat.
- Melakukan evaluasi menyeluruh internal Polri agar kembali ke marwah sebagai pelindung dan pengayom rakyat.
Pernyataan Pimpinan Aksi
Ketua SAPMA PP Gowa, Sigit, menegaskan kasus-kasus tersebut menurunkan citra kepolisian.
“Kami menilai Polri semakin menjauh dari marwahnya sebagai pengayom rakyat. Jika Kapolda Sulsel, Kapolres Bone, dan Kapolres Takalar tidak segera dicopot, maka citra Polri akan semakin runtuh di mata masyarakat,” tegasnya kepada media, Kamis (28/08)
Perbatasan Gowa-Makassar Jadi Titik Demo SAPMA PP Gowa, Tuntutannya Tak Main-main
Jenderal Lapangan, Muh. Al- Lail Qadri, menyebut aksi ini baru langkah awal.
“Hari ini kami turun sebagai aksi pra kondisi. Kami pastikan akan kembali turun dengan massa yang lebih besar bila tuntutan ini tidak ditindaklanjuti. Stop represif, tegakkan fungsi Polri!” ujarnya dengan nada tegas dalam orasinya
SAPMA PP Gowa: Copot Kapolri dan Komandan Korps Brimob Usai Tragedi DPR
Sementara Koordinator Mimbar, Haidir, mengingatkan bahwa rakyat sudah terlalu lama jadi korban.
“Kami di sini bukan hanya bicara soal mahasiswa, tetapi juga soal petani, masyarakat kecil, dan rakyat yang terus ditindas. Polri harus sadar, mereka digaji oleh rakyat untuk melayani, bukan untuk menindas,” tegasnya.
Perbatasan Gowa-Makassar Jadi Titik Demo SAPMA PP Gowa, Tuntutannya Tak Main-main
SAPMA PP Gowa menutup aksinya dengan penegasan: Stop represif, tegakkan fungsi Polri, copot Kapolda Sulsel, Kapolres Bone, dan Kapolres Takalar!
Editot: Ramli
Laporan: AD