Video Sidak DPRD Sulsel di Masjid 99 Kubah Viral, Anggaran Rp4,5 Miliar Dipertanyakan
MAKASSAR, MATANUSANTARA — Video hasil inspeksi lapangan DPRD Sulawesi Selatan di Masjid 99 Kubah Asmaul Husna mendadak viral di media sosial pada Selasa 10 Maret 2036. Rekaman tersebut memperlihatkan kondisi kebocoran di dalam masjid yang masih terjadi meski proyek rehabilitasi telah menghabiskan anggaran sekitar Rp4,5 miliar pada Tahun Anggaran 2025.
Berdasarkan hasil penelusuran, inspeksi Komisi D DPRD Sulsel dilakukan pada Kamis, 5 Maret 2026 sekitar pukul 11.00 hingga 12.45 WITA. Kunjungan pengawasan itu dilakukan setelah sebelumnya digelar rapat kerja di kantor sementara DPRD Sulsel yang menghadirkan pihak kontraktor, konsultan, pengawas proyek, serta dinas teknis terkait.
Dalam sidak tersebut, Ketua Komisi D DPRD Sulsel Kadir Halid memimpin langsung peninjauan bersama anggota Komisi D Lukman B Kady, didampingi Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan. Mereka menyusuri area lantai utama hingga ke lantai dua untuk memeriksa langsung kondisi bangunan yang sebelumnya telah direhabilitasi.
Pemandangan di dalam masjid justru memperlihatkan kondisi yang dinilai memprihatinkan. Di sejumlah titik lantai terlihat genangan air, sementara beberapa baskom dan wadah penampung air ditempatkan untuk menampung tetesan air dari atap bangunan.
Ironisnya, aktivitas ibadah tetap berlangsung di tengah kondisi tersebut. Sejumlah jemaah terlihat melaksanakan salat di area karpet meskipun lantai di beberapa bagian masih tampak basah akibat kebocoran.
Kadir Halid bahkan beberapa kali terlihat menyentuh genangan air di lantai masjid untuk memastikan kondisi kebocoran yang terjadi.
“Ini sudah diperbaiki saya tidak tahu bagaimana, tapi ini masih bocor. Termasuk platform lantai dua juga masih bocor semua. Ini bekas-bekas semua di platform,” katanya saat peninjauan.
Ia juga menunjukkan beberapa titik lantai yang masih basah akibat tetesan air dari bagian atas bangunan meski hujan telah berhenti.
“Air masih menetes meski hujan sudah reda. Berarti banyak air di atas, karena sudah cerah tapi air masih tetap menetes,” ujarnya.
Menurut Kadir, baskom yang diletakkan di sejumlah titik di dalam masjid hanyalah solusi sementara untuk menampung air dari kebocoran atap.
“Ini baskom-baskom semua ditaruh untuk menampung air bocor. Lantainya juga masih basah, jadi ini bocornya merata dari sini sampai ke sana,” jelasnya.
Politisi senior dari Partai Golkar itu juga mempertanyakan efektivitas proyek rehabilitasi yang telah menggunakan anggaran miliaran rupiah.
“Sudah ada anggaran kemarin dikasih, kenapa ini masih bocor. Kalau begini bentuknya berarti yang di atas yang bermasalah,” tegasnya.
Sorotan serupa disampaikan anggota Komisi D DPRD Sulsel Lukman B Kady. Ia menyinggung banyaknya baskom yang digunakan untuk menampung air bocor di dalam masjid, bahkan menyindir kondisi tersebut dengan nada kritik.
“Pak Inspektorat saya bilang, kalau mau beli baskom untuk menampung ini, beli saja 99 baskom. Ini ikon Sulsel begini, malu-malu,” ujarnya.
Sidak tersebut sekaligus menegaskan desakan Komisi D agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pekerjaan proyek rehabilitasi yang dilaksanakan oleh kontraktor PT Aleta bersama pihak konsultan dan pengawas proyek.
Rapat kerja sebelumnya juga menghadirkan perwakilan dari Dinas Sumber Daya Air Sulawesi Selatan untuk memberikan penjelasan terkait proyek rehabilitasi yang menelan anggaran sekitar Rp4,5 miliar pada tahun 2025.
Komisi D menilai pengawasan proyek perlu diperketat mengingat masjid yang menjadi ikon arsitektur Sulawesi Selatan tersebut telah beberapa kali mengalami perbaikan sejak selesai dibangun.
Sebagai tindak lanjut, DPRD Sulsel meminta dinas terkait memastikan setiap pekerjaan lanjutan benar-benar mampu mengatasi persoalan kebocoran secara permanen agar masjid dapat kembali berfungsi optimal sebagai pusat ibadah masyarakat.


Tinggalkan Balasan