Begini Reaksi Tim Karaeng Puji Soal Dugaan Bisnis Berkedok Pengobatan: “Hari Ini Tidak Ada yang Gratis”
GOWA, MATANUSANTARA –Pemberitaan terkait dugaan praktik bisnis berkedok pengobatan alternatif yang dijalankan seorang remaja di Kecamatan Bontonompo Selatan, Kabupaten Gowa, memantik reaksi dari tim Karaeng Puji.
Reaksi tersebut diungkapkan oleh perwakilan dari Karaeng Puji. Ia tidak secara eksplisit membantah adanya dugaan transaksi dalam praktik pengobatan yang dimaksud. Namun, mereka meminta publik untuk tidak mempercayai tudingan yang beredar.
“Tidak usah dipercaya, hari ini tidak ada yang gratis,” ujar salah seorang tim Karaeng Puji kepada matanusantara.co.id melalui pesan WhatsApp, yang tidak ingin diketahui identitasnya, Jumat (13/01/2026).
Viral Pengobatan Remaja di Gowa, Muncul Dugaan Wajib Beli Air Rp 400 Ribu
Menurutnya, dalam layanan kesehatan formal sekalipun, masyarakat tetap mengeluarkan biaya. Ia juga menyinggung bahwa air pun diperoleh melalui perusahaan daerah air minum (PDAM), sehingga menurutnya wajar jika terdapat biaya.
“Ke dokter saja hari ini beli obat, apalagi kita ini kodong (kasihan), air dibeli,” ungkapnya.
Sebelumnya diberitakan, praktik pengobatan alternatif yang dijalankan remaja berinisial Karaeng P menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial. Ia diklaim berhasil menyembuhkan seorang lansia yang mengalami kelumpuhan.
Video yang beredar di TikTok memicu lonjakan kunjungan warga dari berbagai daerah. Antrean disebut berlangsung hingga 24 jam. Pelayanan dibuka pukul 09.00 WITA hingga sekitar pukul 03.00 dini hari.
Viral Pengobatan Remaja di Gowa, Muncul Dugaan Wajib Beli Air Rp 400 Ribu
Di tengah tingginya animo masyarakat, muncul dugaan adanya kewajiban pembelian air sebagai syarat pengobatan. Sejumlah keluarga pasien menyebut setiap pasien diminta membeli 40 botol air yang telah disiapkan panitia dengan harga paket Rp400 ribu.
“Pasien diwajibkan beli 40 botol. Sudah disiapkan depo air di lokasi,” kata seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan, Selasa (10/02).
Menurut sumber tersebut, air itu digunakan untuk mandi, bukan untuk diminum.
“Kalau hanya untuk mandi, kenapa tidak dimandikan di tempat? Atau pasien membawa sendiri dari rumah?” ujarnya.
Selain pembelian air, beredar pula informasi mengenai pemberian amplop setelah proses pengobatan. Jika pembelian air tersebut menjadi syarat wajib, maka praktik ini dinilai tidak lagi semata-mata pengobatan tradisional, melainkan berpotensi masuk dalam ranah transaksi komersial.
Sumber tersebut juga menilai biaya Rp400 ribu berpotensi memberatkan masyarakat kurang mampu.
“Kalau tidak punya uang Rp400 ribu, tentu tidak bisa ikut berobat,” katanya.
Viral Pengobatan Remaja di Gowa, Muncul Dugaan Wajib Beli Air Rp 400 Ribu
Hingga berita kedua ini ditayangkan, tim redaksi masih berupaya mendapatkan tanggapan dari pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Gowa dan aparat penegak hukum didorong turun tangan untuk memastikan praktik ini sesuai aturan.
Tim redaksi juga meminta pihak Karaeng Puji untuk melakukan pertemuan wawancara resmi , agar pertanyaan publik segera terjawab. Namun permintaan itu belum direspon hingga berita ini ditayangkan. (RAM)


Tinggalkan Balasan