Ucapan Lebaran Jadi Pernyataan Sikap, Jurnalis Matanusantara Tegaskan Perlawanan terhadap Hoaks
MAKASSAR, MATANUSANTARA — Di tengah derasnya arus informasi yang kerap bercampur antara fakta dan manipulasi, ucapan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah dari jurnalis Matanusantara, Ramli, tidak berhenti pada formalitas tahunan. Pesan tersebut justru menjadi pernyataan sikap terhadap kondisi jurnalisme yang kian diuji oleh disinformasi dan tekanan kepentingan. Sabtu 21 Maret 2026.
“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H / 2026 M, mohon maaf lahir dan batin,” menjadi ungkapan yang disampaikan. Namun di balik kalimat sederhana itu, tersirat refleksi mendalam tentang tanggung jawab moral seorang jurnalis dalam menjaga kebenaran.
Dalam beberapa tahun terakhir, ruang publik dihadapkan pada maraknya hoaks, framing informasi yang menyesatkan, hingga praktik jurnalisme yang kehilangan independensinya. Kondisi ini menempatkan jurnalis pada posisi dilematis antara menjaga idealisme atau terjebak dalam arus kepentingan.
Ramli, sebagai bagian dari Matanusantara yang mengusung prinsip “Faktual, Tajam, dan Terpercaya”, menegaskan bahwa Idul Fitri harus dimaknai sebagai momentum kembali pada nilai dasar profesi: kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab terhadap publik.
Lebih jauh, ucapan ini dapat dibaca sebagai bentuk kritik implisit terhadap praktik media yang hanya mengejar klik tanpa mempertimbangkan akurasi dan dampak informasi. Dalam situasi seperti ini, jurnalisme tidak cukup hanya cepat, tetapi harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kepercayaan publik terhadap media saat ini menjadi isu krusial. Ketika informasi tidak lagi dipercaya, maka fungsi pers sebagai kontrol sosial ikut tergerus. Oleh karena itu, menjaga integritas menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Dalam konteks tersebut, Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi ruang evaluasi: apakah jurnalisme masih berdiri di atas kepentingan publik, atau justru telah bergeser menjadi alat kepentingan tertentu.
Ramli menempatkan dirinya pada posisi yang jelas—bahwa jurnalisme harus tetap menjadi alat perjuangan kebenaran, meski dihadapkan pada tekanan, risiko, dan ketidaknyamanan.
Dengan semangat Idul Fitri, komitmen tersebut ditegaskan kembali: menghadirkan informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga tajam, berimbang, dan berpihak pada fakta.





Tinggalkan Balasan