Meledak! Fakta Baru Terbongkar Soal Skandal BBM SPBU Noreg 74-901-04, Selisi Rp11 Ribu Mencuat
MAKASSAR, MATANUSANTARA — Fakta baru dalam dugaan kecurangan takaran BBM di SPBU 74-901-04 Jalan Tentara Pelajar mengungkap anomali krusial: pengisian dari dispenser berbeda menghasilkan nilai transaksi yang tidak konsisten, memicu pertanyaan serius soal akurasi alat ukur dan pengawasan operasional. Selisih pengisian yang muncul mencapai Rp11 ribu untuk tangki kendaraan yang sama, membuat konsumen menjerit karena merasa dirugikan.
Temuan ini tidak berdiri sebagai dugaan tunggal, melainkan mulai membentuk pola yang mengarah pada potensi ketidaksesuaian sistem distribusi dalam satu titik layanan. Perbedaan hasil pengisian yang bergantung pada posisi dispenser menjadi variabel krusial yang sulit dijelaskan secara normatif dalam praktik distribusi BBM.
Ajela, konsumen yang mengalami langsung peristiwa tersebut, mengungkap hasil pengisian terbarunya yang justru berbanding terbalik dengan kejadian sebelumnya.
“Kemarin (Senin, 23/03/2026) saya mengisi lagi di SPBU Tentara Pelajar, dengan keadaan sisa bensin seperti kemarin (1 liter lebih), saya hanya bayar Rp29 ribu full tangki,” katanya kepada matanusantara.co.id melalui pesan singkat WhatsApp, Rabu (25/03).
Keterangan ini menjadi basis pembanding yang kuat, mengingat kondisi awal kendaraan disebut relatif identik, namun nilai transaksi menunjukkan deviasi yang signifikan.
Lebih jauh, Ajela mengungkap detail teknis yang mengarah pada dugaan perbedaan antar dispenser dalam satu SPBU. Ia menegaskan adanya selisih Rp11 ribu.
“Jadi pada saat saya disuruh bayar Rp40 ribu di SPBU itu, dispenser pengisiannya yang di sebelah kiri kedua, tapi kemarin saya mengisi di bagian sebelah kanan pertama saya bayar cuma Rp29 ribu full tangki, selisinya Rp11 ribu,” ungkapnya.
Perbedaan ini membuka kemungkinan adanya ketidaksinkronan kalibrasi alat ukur, yang secara standar operasional seharusnya terkontrol dan terverifikasi secara berkala.
Penguatan fakta juga datang dari konfirmasi pemilik kendaraan yang menyebut pola konsumsi BBM selama ini tidak pernah mencapai angka yang dipersoalkan.
“Saya sudah tanyakan ke pacarku (Pemilik), selama kita lakukan pengisian bensin biasanya berapa? Kata pacarku, selama dia yang pakai tidak pernah mengisi bensin Rp40 ribu, meski dalam keadaan kosong sekali tangkinya,” tegas Ajela.
Pernyataan tersebut mempersempit ruang kemungkinan kesalahan pada faktor kendaraan, sekaligus menegaskan adanya deviasi yang tidak lazim.
Sebelumnya diberitakan, operator SPBU, Roni, menyampaikan bantahan dengan mengalihkan locus kejadian ke SPBU lain.
“Itu di Andalas, bukan SPBU kami. Kenapa Abang buat berita SPBU kami berita yang tidak masuk akal? Mengisi di SPBU lain, kenapa bawa nama kami punya SPBU???” ujarnya kepada Matanusantara.co.id, Selasa (24/03).
Namun bantahan tersebut tidak menjawab substansi utama terkait perbedaan hasil pengisian dalam satu lokasi yang sama.
Narasi yang dibangun kemudian bergeser pada dugaan kesalahan konsumen dan kondisi kendaraan.
“Saya paham kalimat kalimat begitu bang, salahnya kita kenapa tidak komplain di hari itu, dan juga kapasitas tangki motor sebenarnya 4,8.. kenapa diberita full-nya 40 ribu malahan it kurang, jangan sampai spidometer nya rusak, salahkan kami di Pertamina,” dalih Roni, Selasa (24/03).
Namun argumen operator kembali dipatahkan oleh Ajela, yang menegaskan komplain telah dilakukan saat kejadian berlangsung.
“Pada saat itu saya sudah komplain dengan nada tinggi, kenapa Rp40 ribu, tapi respon operator hanya bertanya, biasanya berapa. Jadi saya jawab biasanya Rp30 ribu, setelah itu tindakan operator tidak ada lagi, makanya saya kabari ki untuk tindak lanjuti,” tegasnya saat dikonfirmasi kembali.
Kasus ini pertama kali mencuat setelah pengisian BBM pada sepeda motor jenis Mio J disebut mencapai Rp40 ribu dalam kondisi tangki penuh, angka yang dinilai janggal oleh konsumen, Selasa malam, 17 Maret 2026, sekitar pukul 22.00 WITA.
“Dipattolkah (dibodoh-bodohi) tadi sama SPBU Tentara Pelajar ini. Masa Mio J full-nya Rp40 ribu,” ungkapnya kepada Matanusantara.co.id, Rabu (18/03).
Di lokasi, operator bernama Irna mengakui bahwa pengawas tidak berada di tempat saat kejadian berlangsung, situasi yang secara prosedural tergolong krusial.
“Iya, tunggu maki’ kalau mauki menunggu,” katanya saat ditemui tim redaksi, Senin (23/03).
“Tapi tidak bisa dipastikan dari kecurangannya. Karena tidak bisa dipastikan banyaknya sisa isi bensinnya saat pengisian,” tambahnya, mempertegas celah serius dalam SOP SPBU.
Kontroversi memuncak ketika muncul pernyataan yang secara eksplisit meminta konsumen untuk tidak melakukan komplain.
“Tapi kalau di sini itu Kak, jangan maki’ komplain,” tambah Irna.
Kondisi ini memperlihatkan adanya potensi kegagalan prosedural dalam menangani keluhan konsumen secara langsung di lokasi.
Dengan munculnya indikasi perbedaan hasil antar dispenser dalam satu SPBU, kasus ini tidak lagi sekadar keluhan individu, melainkan berpotensi menjadi isu sistemik yang menuntut audit menyeluruh terhadap akurasi alat ukur, standar operasional, serta mekanisme pengawasan distribusi BBM di tingkat lapangan.
Hingga berita ketiga ini diterbitkan, pihak SPBU Tentara Pelajar belum memberikan klarifikasi terkait skandal BBM dugaan sunat takaran. (***)

Tinggalkan Balasan