MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

HBP ke-62 Jadi Panggung Transformasi, WBP Sungguminasa Panen Produktivitas Nyata

Kalapas Narkotika Sungguminasa bersama WBP dan aparat TNI-Polri saat panen hidroponik sebagai bagian pembinaan kemandirian.

GOWA, MATANUSANTARA — Peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62 di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Sungguminasa tidak berhenti pada seremoni tahunan. Momentum ini dimanfaatkan sebagai panggung transformasi pemasyarakatan melalui aksi konkret: panen sayur hidroponik yang melibatkan langsung warga binaan pemasyarakatan (WBP), Rabu (15/4/2026).

Di tengah sorotan publik terhadap efektivitas pembinaan di lembaga pemasyarakatan, kegiatan ini menjadi indikator bahwa pendekatan berbasis produktivitas mulai menunjukkan hasil terukur. Program hidroponik yang dijalankan bukan sekadar aktivitas pengisi waktu, melainkan instrumen pembinaan kemandirian yang memiliki nilai ekonomi dan keberlanjutan.

Diwawancarai Kepala Lapas (Kalapas) Narkotika Sungguminasa, Gunawan, hadir langsung dalam kegiatan tersebut bersama Babinsa Koramil Bontomarannu dan Bhabinkamtibmas Polsek Bontomarannu. Keterlibatan unsur TNI-Polri mempertegas bahwa pembinaan WBP tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh kolaborasi lintas institusi dalam kerangka penguatan sistem pemasyarakatan.

Hasil panen yang diperoleh menjadi bukti bahwa WBP mampu bertransformasi menjadi subjek produktif ketika diberikan ruang, pembinaan, dan kepercayaan. Ini sekaligus menepis stigma lama yang memandang lapas hanya sebagai ruang penghukuman, tanpa nilai rehabilitatif yang konkret.

“Momentum Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62 ini kami isi dengan berbagai kegiatan positif, salah satunya melalui panen hidroponik ini. Kami ingin menunjukkan bahwa warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga dibekali keterampilan yang bermanfaat sebagai bekal mereka saat kembali ke masyarakat,” ujar Gunawan.

Lebih jauh, ia menegaskan arah kebijakan pemasyarakatan ke depan yang tidak lagi bertumpu pada pendekatan konvensional berbasis pengamanan semata, melainkan bergeser ke model pembinaan progresif yang menitikberatkan pada pemberdayaan.

“Ke depan, kami berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program pembinaan yang inovatif dan berkelanjutan. Pemasyarakatan harus mampu menjadi wadah pembinaan yang tidak hanya menitikberatkan pada aspek keamanan, tetapi juga pemberdayaan, sehingga warga binaan dapat kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang mandiri dan berdaya saing,” tambahnya.

Secara struktural, program hidroponik ini dapat dibaca sebagai embrio unit produksi berbasis lapas yang berpotensi dikembangkan lebih luas. Jika dikelola secara sistematis, program serupa tidak hanya berdampak pada pembinaan individu WBP, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan pangan skala lokal dan ekonomi mikro berbasis institusi.

Peringatan HBP ke-62 di Sungguminasa pada akhirnya tidak hanya mencitrakan kegiatan seremonial, melainkan menghadirkan narasi baru: bahwa pemasyarakatan sedang bergerak menuju sistem yang lebih adaptif, produktif, dan akuntabel. Sebuah arah yang, jika konsisten dijalankan, berpotensi memperbaiki kepercayaan publik terhadap institusi pemasyarakatan secara menyeluruh. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini