HBP ke-62, Rutan Makassar Dorong Akses Kesehatan Gratis ke Publik
MAKASSAR, MATANUSANTARA — Momentum Hari Bhakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62 tidak hanya dimaknai sebagai agenda seremonial, tetapi juga diarahkan pada perluasan fungsi sosial lembaga pemasyarakatan. Rutan Kelas I Makassar menggelar penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat, sebagai bentuk intervensi langsung pada isu kesehatan publik.
Kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam mendekatkan institusi pemasyarakatan dengan masyarakat, sekaligus menjawab kebutuhan dasar yang kerap luput dari perhatian, yakni akses layanan kesehatan preventif yang mudah dijangkau.
Penyuluhan kesehatan menjadi pembuka rangkaian kegiatan, menghadirkan dr. Wahidah Djalil bersama mahasiswa magang sebagai narasumber. Materi yang disampaikan tidak berhenti pada teori, tetapi menekankan praktik hidup sehat, pencegahan penyakit, hingga pentingnya deteksi dini sebagai strategi menekan risiko kesehatan jangka panjang.
Interaksi dua arah antara peserta dan tenaga medis memperlihatkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap literasi kesehatan yang aplikatif dan mudah dipahami.
Setelah sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan layanan pemeriksaan kesehatan gratis. Pemeriksaan meliputi tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, hingga asam urat—indikator dasar yang kerap menjadi pintu masuk berbagai penyakit tidak menular.
Peserta juga diberikan ruang konsultasi langsung, memungkinkan masyarakat tidak hanya mengetahui kondisi kesehatannya, tetapi juga memperoleh rekomendasi medis secara personal.
Kepala Rutan Kelas I Makassar menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari reposisi peran lembaga pemasyarakatan yang tidak lagi eksklusif di dalam tembok institusi.
“Melalui momentum HBP ke-62, kami ingin menunjukkan bahwa Rutan tidak hanya berfokus pada pembinaan di dalam, tetapi juga hadir memberikan dampak positif bagi masyarakat luas,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mengindikasikan adanya pergeseran pendekatan, dari fungsi tertutup menuju keterlibatan sosial yang lebih inklusif.
Kepala Sub Seksi Administrasi dan Perawatan, Jesica Iskandar, menambahkan bahwa peningkatan kesadaran kesehatan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang yang menentukan kualitas hidup masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa isu kesehatan tidak dapat dipisahkan dari pendekatan komunitas, di mana institusi negara berperan aktif membuka akses, bukan sekadar menjalankan fungsi administratif.
Dengan antusiasme masyarakat yang tinggi, kegiatan berlangsung tertib dan kondusif, sekaligus menjadi indikator bahwa pendekatan pelayanan langsung masih menjadi kebutuhan utama di tengah masyarakat. (****)

Tinggalkan Balasan