Pulau Tangnga Jadi Titik Uji Kepedulian, Mahasiswa KPM-PM Hadir Bukan Sekadar Simbol
POLEWALI MANDAR, MATANUSANTARA — Di tengah realitas wilayah pesisir yang kerap luput dari perhatian pembangunan, kehadiran mahasiswa Kesatuan Pelajar Mahasiswa Polewali Mandar (KPM-PM) Cabang Binuang di Pulau Tangnga bukan sekadar agenda bakti sosial, melainkan intervensi sosial yang menguji makna kepedulian itu sendiri.
Kegiatan yang resmi dibuka pada Jumat (1 Mei 2026) di Kelurahan Amassangan, Kecamatan Binuang ini menjadi ruang pertemuan antara idealisme mahasiswa dan kebutuhan riil masyarakat.
Pulau Tangnga, yang selama ini identik dengan keterbatasan akses dan persoalan lingkungan, dijadikan titik pijak untuk membangun kesadaran kolektif yang kerap hanya berhenti pada wacana.
Kepala Lingkungan Pulau Tangnga, Sofyan, S.Pd, dalam sambutannya menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat, bukan sebagai objek kegiatan, melainkan sebagai subjek perubahan.
Pernyataan ini secara tidak langsung menegaskan bahwa keberhasilan program sosial tidak ditentukan oleh siapa yang datang membawa bantuan, tetapi oleh sejauh mana masyarakat dilibatkan dalam prosesnya.
Ketua Umum KPM-PM Cabang Binuang, Rifki Alparesi, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk melampaui batas seremonial yang selama ini kerap melekat pada agenda bakti sosial.
“Bakti sosial ini bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan komitmen kami dalam membangun kepedulian sosial dan menjaga lingkungan. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujarnya.
Mengusung tema “Langkah Kecil untuk Manfaat yang Besar, Bersama Menguatkan Kepedulian,” kegiatan ini mengandung pesan yang sederhana, namun menyimpan konsekuensi besar: konsistensi.
Program yang dihadirkan tidak hanya menyasar aspek fisik seperti aksi bersih pantai dan perbaikan fasilitas umum, tetapi juga menyentuh dimensi edukatif melalui penyuluhan lingkungan serta penguatan nilai sosial di kalangan anak-anak.
Di titik ini, kegiatan bakti sosial mulai bergeser dari pola karitatif menuju pendekatan transformatif—dari sekadar memberi menjadi membangun kesadaran.
Antusiasme masyarakat Pulau Tangnga yang terlibat langsung dalam setiap rangkaian kegiatan menjadi indikator bahwa pendekatan partisipatif mulai menemukan momentumnya.
Kolaborasi antara mahasiswa dan warga menciptakan ruang interaksi yang setara, di mana pengetahuan akademik bertemu dengan pengalaman hidup masyarakat.
Namun, realitas di lapangan juga menyisakan pertanyaan mendasar: sejauh mana kegiatan semacam ini mampu bertahan setelah euforia selesai?
Tanpa kesinambungan, bakti sosial berisiko menjadi siklus tahunan yang berulang tanpa perubahan signifikan.
Karena itu, tantangan utama bukan pada pelaksanaan kegiatan, melainkan pada keberlanjutan dampaknya.
KPM-PM Cabang Binuang menyatakan komitmennya untuk terus menghadirkan kegiatan sosial yang tidak hanya hadir sesaat, tetapi mampu meninggalkan jejak perubahan.
Dalam konteks ini, mahasiswa tidak lagi berada pada posisi simbolik, tetapi sebagai katalisator yang mendorong transformasi sosial dari tingkat paling dasar.
Pulau Tangnga, pada akhirnya, bukan hanya lokasi kegiatan melainkan ruang uji bagi sejauh mana kepedulian mampu diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang berkelanjutan. (***)

Tinggalkan Balasan