Air Mata Perdamaian Pecah di Walenrang, Kapolres Luwu Satukan Dua Desa Bertikai
LUWU, MATANUSANTARA — Ketegangan pasca tawuran antar kelompok pemuda Desa Baramamase dan Desa Kalibamamase, Kecamatan Walenrang, akhirnya mencair dalam suasana haru penuh persaudaraan. Di bawah pengawalan ketat aparat dan disaksikan unsur Forkopimda, kedua desa yang sempat dilanda konflik itu sepakat mengakhiri pertikaian dan memilih jalan damai, Kamis (28/5/2026).
Momen bersejarah tersebut berlangsung di Aula Serbaguna UPT SMKN 4 Luwu. Pertemuan yang awalnya dipenuhi ketegangan perlahan berubah emosional ketika para pemuda dari kedua desa saling berjabat tangan dan menandatangani surat pernyataan damai sebagai simbol berakhirnya konflik.
Langkah perdamaian itu dipimpin langsung Kapolres Luwu AKBP Adnan Pandibu, S.H., S.I.K., bersama Wakil Bupati Luwu Muh. Dhevy Bijak Pawindu, S.H., mewakili Bupati Luwu. Turut hadir unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, anggota DPRD, kepala desa, hingga keluarga para pemuda yang sebelumnya terlibat ketegangan.
Kapolres Luwu AKBP Adnan Pandibu dalam sambutannya menyampaikan pesan mendalam kepada para pemuda agar tidak lagi menjadikan emosi dan balas dendam sebagai jalan penyelesaian masalah.
“Menang jadi arang, kalah jadi abu. Tidak ada yang diuntungkan dari sebuah pertikaian. Masa depan kalian jauh lebih penting untuk dipikirkan,” tegasnya di hadapan peserta kegiatan.
Ucapan Kapolres itu sontak membuat suasana ruangan hening. Beberapa peserta terlihat menundukkan kepala, sementara para tokoh masyarakat tampak mengangguk menyetujui pesan tersebut.
AKBP Adnan Pandibu juga mengingatkan bahwa keamanan wilayah tidak akan pernah tercipta hanya mengandalkan aparat kepolisian. Menurutnya, perdamaian harus lahir dari kesadaran masyarakat sendiri, terutama generasi muda sebagai penerus daerah.
“Personel masih kami siagakan di wilayah ini, termasuk Tim UKL, namun itu tidak selamanya. Keamanan kamtibmas harus lahir dari kesadaran diri kita masing-masing,” ujarnya.
Dalam momen yang paling menyentuh, Kapolres Luwu mengungkap kedekatan emosionalnya dengan tanah Luwu. Ia mengaku memiliki garis keturunan dari wilayah Rampi’, sehingga tidak ingin melihat masyarakat Luwu terus hidup dalam konflik antar saudara.
“Ada darah Luwu yang mengalir dalam diri saya, karena nenek saya berasal dari Rampi’. Karena itu saya tidak ingin melihat tanah ini terus diwarnai pertikaian antar saudara,” ungkapnya dengan nada penuh haru.
Pernyataan tersebut langsung disambut tepuk tangan peserta kegiatan. Suasana pertemuan berubah semakin hangat ketika para pemuda mulai saling merangkul satu sama lain.
Sementara itu, Wakil Bupati Luwu Muh. Dhevy Bijak Pawindu mengaku sedih melihat konflik yang terjadi karena kedua desa sejatinya masih memiliki hubungan kekeluargaan dalam rumpun besar Tombang Raya.
“Kita ini keluarga. Jangan lagi ada air mata karena pertikaian antar saudara sendiri. Pertemuan hari ini saya berharap menjadi pertemuan pertama dan terakhir dalam suasana konflik. Kalau ada pertemuan lagi, biarlah itu pertemuan dalam suasana kekeluargaan dan kebahagiaan,” tutur Wakil Bupati Luwu.
Ajakan itu kemudian diikuti dengan momen saling berjabat tangan antara pemuda Desa Baramamase dan Desa Kalibamamase. Bahkan sejumlah tokoh masyarakat terlihat menitikkan air mata menyaksikan perdamaian tersebut.
Sebagai bentuk komitmen bersama, sebanyak 10 pemuda dari masing-masing desa menandatangani surat pernyataan damai yang disaksikan langsung Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh peserta kegiatan.
Tak hanya menjadi forum mediasi, pertemuan itu juga menjadi simbol kebangkitan kembali nilai persaudaraan di tanah Walenrang. Setelah konflik yang sempat memicu keresahan warga, kedua desa kini sepakat membuka lembaran baru demi menjaga keamanan dan masa depan generasi muda.
Polres Luwu bersama seluruh unsur Forkopimda berharap kesepakatan damai tersebut dapat terus dijaga dan menjadi contoh penyelesaian konflik melalui dialog, persaudaraan, serta semangat kebersamaan. (***)

Tinggalkan Balasan