MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

Terungkap! Sangkala dan Jokowi Ternyata Dua Sosok Berbeda, Polisi Luruskan Isu Kasus 1 Kg Sabu Jeneponto

Foto kedua nama yang disebut-sebut terlibat dalam kasus yang diungkap oleh Kanit II Opsnal Satresnarkoba Polres Jeneponto AIPTU Asriel Alam diduga kuat terkait perkembangan penyidikan kasus pengungkapan sabu seberat sekitar 1 kilogram dan meluruskan informasi yang berkembang di tengah masyarakat. (Dok/Spesial/Matanusantara)

JENEPONTO, MATANUSANTARA — Polemik yang berkembang pasca pengungkapan narkotika jenis sabu seberat sekitar 1 kilogram oleh Satresnarkoba Polres Jeneponto akhirnya mendapat penjelasan dari Kanit II Opsnal Satresnarkoba Polres Jeneponto, AIPTU Asriel Alam, S.H.

Nama Sangkala dan Jokowi yang belakangan ramai diperbincangkan publik serta dikaitkan dengan jaringan sabu tersebut dipastikan merupakan dua orang yang berbeda. Hingga saat ini, penyidik juga mengaku belum menemukan fakta yang menghubungkan keduanya dengan barang bukti sabu yang berhasil diamankan.

Aiptu Asril, menegaskan bahwa informasi yang berkembang di masyarakat telah menimbulkan kesalahpahaman terkait identitas pihak yang disebut-sebut dalam perkara tersebut.

“RD itu bukan Sangkala dan bukan Jokowi. RD yang dimaksud adalah Rudi. Sedangkan Sangkala dan Jokowi merupakan dua orang yang berbeda,” tegas Asriel Alam saat dikonfirmasi, Sabtu (13/6/2026).

Penjelasan tersebut sekaligus meluruskan berbagai spekulasi yang beredar setelah muncul narasi yang menyebut “Sangkala alias Jokowi” dalam kasus pengungkapan sabu seberat 1 kilogram yang menyita perhatian masyarakat di Jeneponto dan Bantaeng.

Menurut Asriel, berdasarkan hasil pemeriksaan sementara terhadap para terduga pelaku, jalur komunikasi yang terungkap justru mengarah kepada seseorang bernama Ridwan yang disebut berada di Kalimantan.

Penyidik mengungkapkan, barang haram tersebut diduga dijemput di wilayah Makassar menggunakan metode tempel setelah para kurir menerima instruksi dari Ridwan.

“Perintah yang diterima hanya mengambil barang di Makassar lalu membawanya ke Bantaeng. Setelah sampai di Bantaeng baru ada petunjuk berikutnya. Namun mereka sudah lebih dulu diamankan di Jeneponto sehingga perintah lanjutan belum sempat diterima,” jelasnya.

Fakta tersebut membuat identitas pemesan maupun penerima akhir barang haram itu masih dalam proses pendalaman penyidik.

Lebih jauh, Asriel menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ditemukan komunikasi langsung antara para kurir dengan Sangkala maupun Jokowi.

“Kurir tidak pernah berkomunikasi dengan Sangkala ataupun Jokowi. Yang mereka kenal dan berhubungan hanya Ridwan yang memberikan arahan pengantaran barang,” ungkapnya.

Ia menduga munculnya nama Sangkala dan Jokowi lebih banyak dipicu oleh opini yang berkembang di tengah masyarakat dibandingkan fakta yang ditemukan dalam proses penyidikan.

“Awalnya ada yang menyebut Sangkala, ada yang menyebut Jokowi. Kemudian berkembang lagi menjadi Sangkala alias Jokowi. Padahal itu dua orang yang berbeda dan sampai sekarang belum ada fakta penyidikan yang mengarah ke sana,” tegasnya.

Pernyataan tersebut turut diperkuat oleh informasi yang diterima redaksi dari seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan. Sumber itu menegaskan bahwa Sangkala dan Jokowi merupakan dua sosok berbeda.

“Tabe om, lebih bagusnya beritanya diralat sedikit. Sangkala beda orang, yang dibilang Jokowi lain juga orangnya,” tulis sumber tersebut melalui pesan WhatsApp kepada redaksi.

Meski demikian, informasi yang disampaikan sumber tersebut masih sebatas keterangan awal dan belum menjadi bagian dari fakta hukum dalam proses penyidikan yang sedang berjalan.

Satresnarkoba Polres Jeneponto memastikan pengembangan kasus belum berhenti. Polisi masih memburu pihak-pihak yang diduga terlibat dalam jaringan peredaran narkotika tersebut, termasuk menelusuri sosok Ridwan yang disebut memberikan instruksi pengantaran sabu kepada para kurir.

Penyidik juga mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan serta menunggu hasil penyidikan resmi yang nantinya akan diumumkan kepada publik.

Kasus pengungkapan 1 kilogram sabu ini sendiri masih terus bergulir dan diperkirakan akan membuka fakta-fakta baru terkait jaringan peredaran narkotika lintas daerah yang diduga beroperasi di Sulawesi Selatan. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini