Rutan Makassar Jadi Rujukan Studi Tiru Akreditasi Klinik, Perkuat Budaya Mutu Layanan Kesehatan
MAKASSAR, MATANUSANTARA — Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Makassar kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Klinik Pratama dr. Sahardjo Rutan Makassar menjadi lokasi studi tiru Tim Penggerak Pemenuhan Standar Akreditasi Klinik Lapas Kelas IIB Maros sebagai bagian dari upaya memperkuat mutu pelayanan kesehatan di lingkungan pemasyarakatan.
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (22/7/2026) tersebut menjadi forum berbagi praktik terbaik (best practice) terkait pemenuhan standar akreditasi klinik, mulai dari tata kelola pelayanan, manajemen mutu, hingga kesiapan sarana dan prasarana kesehatan.
Rombongan dari Lapas Kelas IIB Maros menerima pemaparan materi dari drg. Handayani Ali, dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif dan peninjauan langsung ke seluruh unit pelayanan di Klinik Pratama dr. Sahardjo.
Selama kegiatan berlangsung, Tim Klinik Pratama di bawah koordinasi dr. Wahidah Djalil selaku Ketua Tim Dokter Klinik mendampingi peserta untuk memperlihatkan implementasi standar akreditasi yang telah diterapkan di setiap lini pelayanan kesehatan.
Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan dan diskusi yang membahas strategi peningkatan mutu pelayanan serta pengalaman menghadapi proses akreditasi klinik.
Kepala Seksi (Kasi) Pengelolaan Rutan Kelas I Makassar, Rustanto, mengatakan studi tiru menjadi sarana memperkuat kolaborasi antar Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan dalam menghadirkan layanan kesehatan yang semakin berkualitas.
“Pemenuhan standar akreditasi merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan komitmen dan kerja sama seluruh tim,” ujar Rustanto.
Hal senada disampaikan Kepala Subseksi Administrasi dan Perawatan Rutan Makassar, Jessica Iskandar, yang menegaskan bahwa akreditasi tidak hanya berorientasi pada kelengkapan administrasi, tetapi menjadi instrumen penting dalam menjamin keselamatan pasien dan kualitas pelayanan.
“Akreditasi bukan sekadar pemenuhan administrasi, melainkan upaya memastikan setiap pelayanan kesehatan diberikan secara aman, efektif, dan sesuai standar,” katanya.
Sementara itu, drg. Handayani Ali mengajak seluruh tenaga kesehatan untuk terus membangun budaya mutu melalui pembelajaran dan evaluasi berkelanjutan.
“Akreditasi bukan sekadar memenuhi standar, tetapi tentang keberanian keluar dari zona nyaman untuk terus belajar, berbenah, dan berkembang,” ungkapnya.
Perwakilan Tim Penggerak Pemenuhan Standar Akreditasi Klinik Lapas Kelas IIB Maros mengapresiasi keterbukaan Rutan Makassar dalam berbagi pengalaman.
“Kami memperoleh banyak pembelajaran yang dapat menjadi bekal dalam proses pemenuhan standar akreditasi di Lapas Maros. Apa yang kami lihat di Rutan Makassar menjadi referensi yang sangat bermanfaat untuk kami terapkan di satuan kerja,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Rutan Kelas I Makassar berharap kolaborasi antar-UPT semakin kuat, kapasitas sumber daya manusia terus meningkat, serta budaya mutu pelayanan kesehatan semakin tumbuh di lingkungan pemasyarakatan.
Komitmen tersebut menjadi bagian dari transformasi pelayanan publik di lingkungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan untuk menghadirkan layanan kesehatan yang profesional, terstandar, humanis, akuntabel, dan berorientasi pada keselamatan pasien. (***)

Tinggalkan Balasan