MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

Tak Sekadar Menjalani Masa Pembinaan, Rutan Makassar Rawat Mental Warga Binaan Lewat Psikoedukasi

Psikoedukasi bagi warga binaan Rutan Kelas I Makassar menjadi bagian dari penguatan pembinaan mental, pengelolaan emosi, dan pembangunan pola pikir positif.

MAKASSAR, MATANUSANTARA — Menjalani masa pembinaan di balik tembok pemasyarakatan bukan hanya tentang menjalani hukuman. Di dalamnya terdapat proses panjang untuk membangun kesadaran, memperbaiki pola pikir, mengelola emosi, hingga menyiapkan diri kembali ke tengah masyarakat.

Kesadaran tersebut menjadi perhatian Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Makassar dengan menghadirkan psikoedukasi bagi warga binaan, Kamis (3/9/2026).

Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat pemahaman warga binaan mengenai kesehatan mental, pengelolaan stres dan emosi, serta pentingnya membangun pola pikir yang sehat dan positif selama menjalani proses pembinaan.

Psikoedukasi menghadirkan dr. Wahidah sebagai narasumber. Materi disampaikan secara interaktif dengan mengajak warga binaan mengenali kondisi diri, memahami respons emosional, serta membangun cara yang lebih sehat dalam menghadapi tekanan dan berbagai situasi yang muncul selama berada di lingkungan pemasyarakatan.

Bagi Rutan Kelas I Makassar, pembinaan mental memiliki posisi penting karena perubahan perilaku tidak semata-mata dibangun melalui keterampilan, tetapi juga melalui kemampuan seseorang memahami dirinya sendiri.

Kasubsi Bantuan Hukum dan Penyuluhan (BHP) Rutan Kelas I Makassar, Djanwar Bakkara, mengatakan aspek psikologis menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses pembinaan.

“Pembinaan tidak hanya menyentuh aspek fisik dan keterampilan, tetapi juga bagaimana warga binaan mampu memahami dan mengelola kondisi psikologisnya. Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang untuk membangun kesadaran diri dan menumbuhkan harapan positif,” ujarnya.

Sementara itu, dr. Wahidah mengingatkan bahwa kesehatan mental perlu mendapatkan perhatian sebagaimana kesehatan fisik.

“Kesehatan mental perlu dirawat seperti kesehatan fisik. Dengan memahami diri, mengenali emosi, dan memiliki cara yang sehat dalam menghadapi tekanan, seseorang dapat menjalani proses dengan lebih tenang dan positif,” jelasnya.

Pesan tersebut menjadi relevan dalam konteks pemasyarakatan. Tekanan psikologis, perubahan lingkungan, keterbatasan ruang gerak, serta jarak dari keluarga dapat menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi warga binaan selama menjalani masa pembinaan.

Karena itu, penguatan kapasitas psikologis menjadi salah satu fondasi agar warga binaan mampu menjalani proses pembinaan secara lebih konstruktif.

Rutan Kelas I Makassar pun menempatkan kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya menghadirkan pembinaan yang menyeluruh, humanis, dan berorientasi pada perubahan positif.

Pada akhirnya, pembinaan bukan sekadar menghitung waktu hingga masa pidana berakhir. Lebih dari itu, terdapat harapan agar setiap warga binaan memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, membangun kembali kepercayaan diri, dan mempersiapkan langkah ketika kembali ke tengah masyarakat.

Sebab, perubahan tidak selalu dimulai dari tempat seseorang berada. Perubahan dimulai dari cara seseorang melihat dirinya dan masa depannya. (**).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini