Tak Sekadar Kegiatan, Rutan Makassar Bentuk Karakter Warga Binaan Lewat Pramuka
MAKASSAR, MATANUSANTARA — Tembok pemasyarakatan bukan penghalang untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Makassar, pembinaan kepramukaan menjadi salah satu ruang pembentukan karakter bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), mulai dari menanamkan kedisiplinan, membangun jiwa kepemimpinan, hingga menumbuhkan tanggung jawab dan semangat kebersamaan.
Program pembinaan tersebut dikemas melalui beragam aktivitas dan perlombaan yang mengedepankan nilai-nilai kepramukaan. Para warga binaan tidak hanya diajak mengikuti kegiatan, tetapi juga dilatih membangun kekompakan, kreativitas, sportivitas, serta kemampuan bekerja sama dalam kelompok.
Di balik setiap aktivitas, terdapat pesan pembinaan yang lebih mendasar: membangun kesadaran bahwa perubahan karakter membutuhkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemauan untuk terus berkembang.
Kepada media, Kepala Rutan Kelas I Makassar, Yohanes Dias Sanyoto, menegaskan bahwa kegiatan Pramuka menjadi salah satu sarana positif untuk membentuk kepribadian warga binaan. Menurutnya, nilai-nilai kepramukaan memiliki manfaat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui kegiatan Pramuka, kami ingin memberikan pengalaman pembinaan yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberikan nilai dan manfaat bagi warga binaan. Setiap aktivitas dan perlombaan menjadi kesempatan untuk belajar tentang kedisiplinan, kekompakan, sportivitas, serta bagaimana membangun rasa tanggung jawab,” ungkapnya.
Bagi Rutan Makassar, pembinaan tidak semestinya berhenti pada pemenuhan program selama warga binaan menjalani masa pidana. Lebih dari itu, setiap kegiatan diharapkan mampu memberikan bekal perubahan sikap dan perilaku agar mereka memiliki kesiapan lebih baik ketika kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Yohanes berharap kegiatan kepramukaan dapat terus menjadi wadah bagi warga binaan untuk mengenali potensi diri, meningkatkan rasa percaya diri, serta menumbuhkan karakter yang lebih baik.
Komitmen tersebut sekaligus mempertegas pentingnya pendekatan pembinaan yang edukatif dan humanis dalam sistem pemasyarakatan. Warga binaan tetap memiliki kesempatan untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan membangun masa depan yang lebih baik.
Pada akhirnya, keberhasilan pembinaan bukan hanya dilihat dari terlaksananya kegiatan di dalam rutan, tetapi juga dari nilai-nilai positif yang mampu dibawa warga binaan ketika kembali ke masyarakat. Disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, dan kebersamaan diharapkan menjadi bekal nyata dalam memulai kehidupan yang lebih baik. (**).

Tinggalkan Balasan