Berakhir di Bulusaraung: Kisah Cinta Pramugari ATR 42-500 yang Tak Pernah Sampai ke Pelaminan
MAKASSAR, MATANUSANTARA — Kabut tebal yang menyelimuti puncak Gunung Bulusaraung seakan menyimpan lebih dari sekadar serpihan logam pesawat ATR 42-500. Di balik medan karst yang terjal dan sunyi itu, ada kisah manusia yang terputus di tengah perjalanan, kisah tentang rencana hidup yang tak pernah mencapai garis akhir.
Salah satu nama dalam manifes penerbangan rute Yogyakarta–Makassar itu adalah Florencia Lolita Wibisono. Pramugari Indonesia Air Transport (IAT) yang akrab disapa Ollen ini kini menjadi simbol penantian panjang antara harapan, doa, dan kemungkinan paling pahit yang terus menghantui keluarga.
Florencia dikenal sebagai pribadi hangat dan bersahaja. Perempuan berdarah Manado ini memiliki ikatan keluarga di Kendis, Minahasa, Sulawesi Utara. Bagi orang-orang terdekatnya, Ollen bukan sekadar awak kabin, melainkan anak, saudara, dan calon istri yang tengah menata masa depan.
Namun, penerbangan yang seharusnya berakhir dengan rutinitas biasa itu justru berubah menjadi kabar yang menghantam keluarga tanpa peringatan. Sejak pesawat ATR 42-500 dinyatakan hilang kontak dan kemudian ditemukan jatuh di kawasan pegunungan antara Maros dan Pangkep, waktu seakan berjalan lambat bagi mereka yang menunggu.
Salah satu kerabat korban, Juwita, mengungkapkan bahwa keluarga besar Florencia segera bersiap menuju Makassar begitu kabar kecelakaan diterima.
“Hari ini keluarga persiapan ke Makassar, dan tiba sebentar siang atau sore di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar,” ujarnya, Minggu (18/1/2026).
Perjalanan ke Makassar bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan langkah berat menuju kenyataan yang belum sepenuhnya mampu diterima. Di tengah ketidakpastian itu, harapan akan mukjizat masih digenggam erat.
Kerabat lainnya, Anastasya, menyuarakan kegundahan keluarga yang hingga kini masih menanti kabar Florencia.
“Kami masih menunggu kabar Olen, ini begitu menyakitkan bagi kami. Semoga mukjizat nyata dan Olen segera ditemukan,” ucapnya lirih, dengan nada yang mencerminkan percampuran antara doa dan kelelahan batin.
Duka keluarga Florencia kian terasa berlapis ketika terungkap fakta yang menyayat perasaan. Di balik tugas profesionalnya sebagai pramugari, Ollen tengah mempersiapkan fase hidup baru. Ia diketahui akan segera menikah, sebuah rencana yang kini menggantung di udara, tak pernah mencapai pelaminan.
“Olen somo kaweng (mau nikah),” kata kerabatnya singkat, kalimat pendek yang justru menggambarkan kedalaman luka yang sulit dirangkai dengan kata-kata.
Sementara keluarga menunggu dalam diam, tim SAR gabungan berpacu dengan waktu dan alam. Kawasan puncak Gunung Bulusaraung bukan medan biasa. Kontur karst yang curam, vegetasi lebat, serta perubahan cuaca yang cepat menjadikan proses pencarian penuh risiko.
Kabut pekat kerap menutup jarak pandang, hujan turun tanpa pola pasti, dan jalur evakuasi menuntut tenaga ekstra dari para personel. Hingga Minggu (18/1/2026), badan pesawat ATR 42-500 telah ditemukan, menjadi titik terang di tengah pencarian yang panjang dan melelahkan. Namun upaya menemukan seluruh korban masih terus dilakukan, dengan kehati-hatian tinggi demi keselamatan tim.
Tragedi ini bukan sekadar peristiwa kecelakaan udara. Ia adalah potret rapuhnya kehidupan manusia di hadapan alam dan takdir. Di satu sisi, ada prosedur penerbangan, data navigasi, dan sistem keselamatan yang kelak akan diuji oleh investigasi. Di sisi lain, ada keluarga yang menunggu, ada rencana pernikahan yang tak sempat diumumkan, dan ada cinta yang terhenti di tengah jalan.
Nama Florencia Lolita Wibisono kini tidak lagi sekadar tercatat dalam manifes penerbangan. Ia menjadi bagian dari ingatan kolektif tentang sebuah tragedi — tentang seorang pramugari yang terbang menjalankan tugas, membawa mimpi dan masa depan, namun tak pernah kembali.
Di Bulusaraung, di antara kabut dan batu karst, doa-doa masih dipanjatkan. Bagi keluarga Florencia, penantian ini bukan hanya soal menemukan jasad atau kepastian, tetapi tentang menutup satu bab kehidupan dengan keikhlasan yang perlahan dipelajari. (RAM)
Sumber: Instagram/Lansirang Kumparang

Tinggalkan Balasan