Breaking News: Jejak “Andi Lani” Terendus, SPBU Taccipi Diduga Markas Pelansir Solar, Respon Manajer Mengejutkan
BONE, MATANUSANTARA — Peta dugaan mafia solar subsidi di Kabupaten Bone memasuki fase krusial. Nama “Andi Lani” mencuat dan diduga menjadi simpul penting dalam rantai distribusi ilegal BBM bersubsidi yang terindikasi terorganisir dan lintas wilayah.
Sorotan mengarah pada SPBU bernomor registrasi 74.927.06 di wilayah Taccipi. SPBU ini diduga tidak sekadar menjadi titik pengisian, melainkan berfungsi sebagai titik suplai dalam skema pelansiran solar subsidi yang berjalan sistematis.
Dokumentasi yang diterima tim redaksi matanusantara.co.id memperlihatkan aktivitas sebuah truk enam roda tanpa nomor polisi belakang yang diduga melakukan pengisian di SPBU tersebut, Selasa, 24 Maret 2026. Temuan visual ini memperkuat indikasi adanya praktik distribusi yang menyimpang dari ketentuan.
Sumber terpercaya yang identitasnya dirahasiakan menyebut aktivitas tersebut telah berlangsung sejak Minggu pagi, 22 Maret 2026. Pola yang teramati menunjukkan frekuensi tinggi dan berulang, mengarah pada dugaan operasi terstruktur, bukan kejadian insidental.
Dalam penelusuran lanjutan, sumber mengaku telah berkoordinasi dengan pemilik kendaraan berinisial ED, warga Desa Uren, Kecamatan Palakka. Dalam konfirmasi awal, ED disebut mengakui kendaraannya digunakan untuk mengambil solar subsidi secara berulang.
“Ambil solar di SPBU, pulang balik,” demikian pengakuan yang disampaikan, dikutip matanusantara.co.id, Selasa (24/03).
Modus operandi yang teridentifikasi mengarah pada penggunaan truk dengan modifikasi dua tampungan, serta pelat nomor yang tidak ditampilkan secara utuh indikasi adanya upaya sistematis untuk menghindari deteksi pengawasan distribusi BBM subsidi.
Seorang tokoh masyarakat Desa Uren turut menguatkan dugaan tersebut. Ia menyebut aktivitas kendaraan keluar-masuk berlangsung hampir setiap hari dengan jumlah yang tidak sedikit.
“Setiap hari lewat di depan rumah. Bukan satu mobil saja, ada beberapa yang dipakai ambil solar,” ujarnya.
Rantai distribusi tidak berhenti di SPBU. Solar subsidi yang diduga dikumpulkan kemudian dibawa ke wilayah Siwa sebagai titik konsolidasi. Di titik ini, nama “Andi Lani” disebut sebagai pihak penerima sekaligus penghubung distribusi lanjutan.
Distribusi kemudian diduga berlanjut melalui jalur darat sebelum dialihkan ke jalur laut menuju wilayah Sulawesi Tenggara. Skema ini menunjukkan desain distribusi yang rapi, memanfaatkan celah geografis dan lemahnya pengawasan lintas wilayah.
Jika dugaan ini terbukti, praktik tersebut berpotensi melanggar ketentuan hukum terkait penyalahgunaan pengangkutan dan niaga BBM bersubsidi tanpa izin, serta merugikan masyarakat yang berhak.
Saat dikonfirmasi, Manajer SPBU Taccipi, Wawan Wardhian, memberikan penjelasan yang justru memunculkan pertanyaan baru. Ia menegaskan bahwa pihaknya hanya melayani kendaraan sesuai prosedur barcode dan nomor polisi.
“Begini ya pak di SPBU kami itu sesui plat sama barcode kita layani pak? dan siapa yang punya kendaraan, itu SPBU tidak tau siapa yang punya,” kata Wawan Wardhian, kepada matanusantara.co.id melalui pesan WhatsApp, Selasa (24/03).
Namun, ia juga mengakui bahwa truk roda enam yang dimaksud memang tidak menggunakan nomor polisi di bagian belakang, meski menurutnya pelat nomor tetap tersedia di bagian depan.
“Itu pak, didepan dia simpan platnya, karna di periksa sama barcodenya, Ada regulasinya tersendiri,” ujarnya.
Wawan turut membantah adanya praktik pengisian berulang di SPBU tersebut. Ia menyatakan sistem barcode menjadi pengendali utama distribusi.
“Kalau mau dobel pengambilan itu, ndak mungkin karena kendaraan masing masing ada barcode nya dan sama dengan plat nya,” katanya.
Pernyataan ini membuka ruang analisis lebih lanjut, terutama terkait efektivitas sistem barcode dalam mencegah penyalahgunaan, serta potensi celah yang bisa dimanfaatkan dalam praktik lapangan.
Hingga berita ini diturunkan, awak media masih berupaya mencari kontak WhatsApp “Andi Lani” guna meminta klarifikasi soal dugaan mafia solar subsidi.
Desakan publik untuk mengusut tuntas dugaan jaringan mafia solar subsidi di Bone semakin menguat.
Kasus ini menegaskan bahwa pengawasan distribusi BBM subsidi masih menyisakan celah serius, yang berpotensi dimanfaatkan oleh jaringan terorganisir dengan modus yang terus berkembang. (Iqbal).





Tinggalkan Balasan