MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

HBP ke-62, Rutan Pangkep Tegaskan Konsolidasi Kinerja dan Integritas Pemasyarakatan

Kepala Rutan Pangkep memimpin prosesi pemotongan tumpeng dalam tasyakuran HBP ke-62 sebagai simbol refleksi dan penguatan komitmen kinerja.

MAKASSAR, MATANUSANTARA — Peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62 di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Pangkep tidak sekadar dimaknai sebagai agenda seremonial, tetapi sebagai momentum konsolidasi internal dalam memperkuat kinerja, integritas, dan arah transformasi pemasyarakatan berbasis pelayanan publik.

Mengusung tema “Pemasyarakatan Kerja Nyata, Pelayanan Prima,” kegiatan tasyakuran digelar di Aula Ngusman Rutan Pangkep, Senin (27/04), melibatkan seluruh elemen organisasi mulai dari pimpinan, pejabat struktural, staf, petugas pengamanan, hingga unsur Persatuan Ibu-ibu Pemasyarakatan (Pipas).

Sebelum memasuki rangkaian inti, seluruh jajaran mengikuti tasyakuran nasional secara virtual yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Forum nasional tersebut menjadi titik sinkronisasi kebijakan, memastikan bahwa arah pemasyarakatan berjalan dalam satu kerangka yang terintegrasi secara nasional.

Dalam forum tersebut, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, menegaskan bahwa HBP ke-62 merupakan momentum refleksi atas capaian kinerja sekaligus penguatan komitmen terhadap integritas dan profesionalisme.

“Peringatan ini merupakan momentum penting untuk merefleksikan perjalanan panjang Pemasyarakatan sebagai wadah pembinaan, guna membentuk warga binaan menjadi pribadi yang taat hukum sesuai nilai Griya Winaya Jamna Wimarga Laksa Darmesti,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada aspek pembinaan formal, tetapi juga pada pembentukan karakter dan internalisasi nilai hukum sebagai fondasi utama reintegrasi sosial.

Di tingkat satuan kerja, Rutan Pangkep menerjemahkan arah kebijakan tersebut melalui penguatan kohesi internal dan simbolisasi komitmen kinerja. Prosesi pemotongan tumpeng yang dipimpin Kepala Rutan menjadi representasi reflektif atas capaian sekaligus ekspektasi terhadap peningkatan kualitas layanan ke depan.

Namun lebih dari sekadar simbol, momentum ini menegaskan bahwa keberhasilan pemasyarakatan kini dituntut berbasis output dan dampak—tidak hanya pada warga binaan, tetapi juga terhadap kepercayaan publik.

Kepala Rutan Pangkep, Rachmat Efendy, menegaskan bahwa tasyakuran ini menjadi pengingat kolektif bagi seluruh jajaran untuk menjaga konsistensi kinerja dan integritas.

“Momentum ini menjadi dorongan bagi kami di Rutan Pangkep untuk terus memberikan pengabdian terbaik, sejalan dengan tema ‘Pemasyarakatan Kerja Nyata, Pelayanan Prima’, dengan selalu mengedepankan integritas dan profesionalisme,” ujarnya.

Dalam perspektif kelembagaan, pernyataan tersebut memperkuat arah transformasi menuju performance-based correctional system, di mana indikator keberhasilan tidak lagi bersifat administratif, tetapi diukur dari kualitas pelayanan, efektivitas pembinaan, dan keberhasilan reintegrasi sosial.

Pelibatan unsur Pipas dalam kegiatan ini juga mencerminkan pendekatan berbasis ekosistem, di mana dukungan keluarga dan lingkungan sosial menjadi bagian integral dalam proses pembinaan.

HBP ke-62 pada akhirnya menjadi penanda bahwa pemasyarakatan tengah bergerak menuju fase baru: institusi yang tidak hanya menjalankan fungsi hukum, tetapi juga berperan sebagai instrumen rekayasa sosial dalam membangun masyarakat yang lebih tertib, inklusif, dan berkeadilan.

Rutan Pangkep, melalui konsolidasi ini, menegaskan posisinya sebagai bagian dari sistem tersebut—menghadirkan pelayanan yang tidak hanya memenuhi standar formal, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini