Kisah Maraqdia Pamboang 2: Laut, Kekuasaan, dan Ikrar Adat Mandar
MAKASSAR, MATANUSANTARA — Halo Sobat Mata Nusantara, kisah Kerajaan Maraqdia Pamboang kembali berlanjut. Setelah mengulas jejak awal kekuasaan dari pesisir Mandar, edisi kali ini mengajak pembaca menelusuri peran laut, struktur kekuasaan, serta ikrar adat yang menjadi fondasi berdirinya Kerajaan Pamboang sebagai salah satu kekuatan maritim di Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar)
Kerajaan Pamboang dikenal sebagai salah satu pilar penting dalam lanskap politik pesisir Mandar. Kerajaan ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari Pitu Baqbana Binanga, persekutuan tujuh kerajaan pesisir Mandar yang membangun sistem kekuasaan berbasis adat, laut, dan kesepakatan bersama.
Sejarawan Mandar mencatat bahwa persekutuan tersebut tidak lahir dari penaklukan, melainkan dari kesadaran kolektif untuk hidup setara dan menjaga kedaulatan masing-masing kerajaan.
Maraqdia Pamboang: Jejak Awal Kekuasaan dari Pesisir Mandar
Dalam naskah adat Mandar yang dikaji Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sulawesi Selatan disebutkan “Assitalliang Tammajarra adalah ikrar persatuan kerajaan-kerajaan Mandar yang berlandaskan kesepakatan, bukan paksaan, dan mengikat raja serta rakyat dalam satu janji adat.” dikutip dari Muhammad Amir, BPNB Sulsel, Rabu, 14 Januari 2026.
Ikrar tersebut menempatkan raja yang bergelar Maraqdiabukan sebagai penguasa absolut. Kekuasaan Maraqdia dibatasi oleh adat dan diawasi oleh suara rakyat.
Konsep ini ditegaskan dalam kajian pemerintahan tradisional Mandar, “Maraqdia di Mandar bukan raja yang berkuasa tanpa batas, melainkan pemimpin yang diangkat dan dapat ditegur oleh adat serta rakyatnya.” Kajian Sistem Pemerintahan Tradisional Mandar, BPNB Sulsel.
Keunggulan utama Kerajaan Pamboang terletak pada wilayah pesisir dan aktivitas maritimnya. Catatan pelayaran abad ke-18 menunjukkan bahwa pelabuhan Pamboang merupakan pelabuhan aktif dan diperhitungkan dalam jaringan perdagangan regional.
Maraqdia Pamboang: Jejak Awal Kekuasaan dari Pesisir Mandar
Seorang pelaut Barat mencatat keberadaan kekuatan bersenjata kerajaan ini, “The ruler of Pambon showed us more than a hundred muskets, indicating the strength and readiness of the port.” Catatan Kapal America, 1795
Catatan tersebut memperlihatkan bahwa Pamboang bukan pelabuhan kecil, melainkan kerajaan pesisir dengan kesiapan militer untuk menjaga kedaulatan wilayahnya. Aktivitas perdagangannya tercatat menjangkau Makassar, Batavia, hingga Singapura, dengan komoditas hasil bumi dan produk laut.
Identitas maritim ini turut membentuk karakter masyarakat Mandar. Dalam orasi kebudayaan Mandar disebutkan.
“Orang Mandar adalah pelaut, dan kerajaan-kerajaan pesisir seperti Pamboang hidup dari laut, berdagang lintas pulau, dan menjaga martabatnya melalui perahu.” Mandarnesia, Orasi Kebudayaan Sejarah Mandar)
Hingga paruh akhir abad ke-19, kerajaan-kerajaan Mandar, termasuk Pamboang, belum sepenuhnya tunduk pada pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Arsip kolonial mencatat adanya kehati-hatian Belanda dalam menghadapi wilayah pesisir Mandar:
“Mandar remains difficult to control due to its strong maritime character and the unity of its coastal kingdoms.” Arsip Kolonial Belanda, abad ke-19.
Kondisi tersebut memperkuat posisi Pamboang sebagai kerajaan yang tidak mudah diintervensi, karena kekuatan laut dan jaringan persekutuannya.
Masuknya Islam ke wilayah Mandar turut memperkuat struktur sosial dan legitimasi politik kerajaan. Islam diterima bukan sebagai pemutus adat, melainkan sebagai penyempurna nilai-nilai lokal. Dalam catatan sejarah Islam Mandar disebutkan:
“Islam diterima oleh orang Mandar tanpa meniadakan adat, melainkan memperkuatnya dengan nilai syariat.” Sejarah Perkembangan Islam di Mandar)
Di Kerajaan Pamboang, Islam menjadi bagian dari kehidupan istana dan masyarakat pesisir, menyatu dalam tata pemerintahan serta hukum adat yang berlaku.
Pada akhirnya, Maraqdia Pamboang bukan sekadar gelar, melainkan simbol kepemimpinan yang lahir dari laut, adat, dan kesepakatan bersama. Kerajaan Pamboang berdiri sebagai pusat maritim pesisir Mandar, anggota strategis Pitu Baqbana Binanga, kerajaan berdaulat dengan kekuatan laut dan persenjataan, serta entitas politik yang memadukan adat dan Islam.
Sejarah Pamboang adalah sejarah tentang kepemimpinan yang dibatasi adat, kekuasaan yang diawasi rakyat, dan laut sebagai nadi peradaban Mandar. (Ram)
BERSAMBUNG

Tinggalkan Balasan