Kisah Maraqdia Pamboang 3: Ketika Adat Menjaga Kekuasaan di Tengah Gejolak Zaman
MAKASSAR, MATANUSANTARA — Halo Sobat Mata Nusantara, kita kembali lagi menelusuri jejak Kerajaan Maraqdia Pamboang. Setelah edisi sebelumnya berjudul Laut, Kekuasaan, dan Ikrar Adat Mandar, dimana kita menyoroti bagaimana laut menjadi pusat kekuatan dan ikrar adat membatasi kekuasaan raja, kini kita memasuki fase berikutnya: ujian kekuasaan Pamboang menghadapi dinamika internal dan gelombang pengaruh luar.
Kerajaan Pamboang dikenal sebagai kerajaan maritim yang tetap menjaga stabilitas melalui adat. Tradisi Mandar menetapkan bahwa takhta Maraqdia tidak diwariskan semata-mata melalui garis keturunan, melainkan melalui persetujuan adat dan musyawarah tokoh masyarakat. Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan mencatat.
“Pergantian Maraqdia di Mandar tidak semata-mata berdasarkan garis keturunan, tetapi harus melalui persetujuan adat dan tokoh masyarakat agar kekuasaan tetap sah.” kutip matanusantara.co.id, Rabu (14/01/2026)
Kisah Maraqdia Pamboang 2: Laut, Kekuasaan, dan Ikrar Adat Mandar
Prinsip ini memastikan bahwa kekuasaan raja tetap legitimatif, tidak absolut, sekaligus menjaga keseimbangan di tengah perubahan zaman.
Dinamika Internal Kerajaan
Dengan meningkatnya perdagangan dan kontak dengan pengaruh luar, ketegangan mulai muncul di antara bangsawan, pemuka adat, dan tokoh agama.
Muhammad Amir dalam Sejarah Sosial Politik Mandar mencatat:“Masuknya perdagangan dan pengaruh luar mendorong munculnya perbedaan kepentingan di antara bangsawan, pemuka adat, dan tokoh agama di kerajaan-kerajaan Mandar.” tulisnya
Maraqdia Pamboang pun harus bersikap bijak untuk menengahi konflik internal, menjaga legitimasi, dan mempertahankan harmoni sosial.
Tekanan Kolonial dan Laut Sebagai Basis Kekuatan
Gelombang pengaruh luar semakin nyata melalui kehadiran kolonial Belanda. Arsip kolonial mencatat, “Mandar remains difficult to control due to its strong maritime character and the unity of its coastal kingdoms.”
Kekuatan maritim Pamboang membuatnya tetap mampu mempertahankan kedaulatan, sementara laut menjadi arena politik, perdagangan, dan simbol kehormatan.
Kisah Maraqdia Pamboang: Jejak Awal Kekuasaan dari Pesisir Mandar
Seperti ditegaskan dalam Orasi Kebudayaan Mandar, “Bagi orang Mandar, laut bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga ruang politik dan kehormatan.”
Islam dan Adat Sebagai Pilar Ketahanan
Di tengah dinamika internal dan tekanan eksternal, Islam berperan sebagai penopang moral dan sosial. Sejarah mencatat, “Islam di Mandar tidak datang untuk menghapus adat, tetapi menyempurnakannya sehingga adat dan syariat berjalan seiring.”
Kolaborasi adat dan syariat memperkuat posisi kerajaan, memastikan Maraqdia tetap dihormati, dan masyarakat pesisir terikat dalam ikrar dan nilai tradisi.
Penutup Sementara
Sobat Mata Nusantara, Kisah Maraqdia Pamboang 3 menunjukkan bahwa kekuasaan yang bertahan adalah kekuasaan yang memahami batasnya. Laut tetap menjadi nadi kehidupan, adat menjadi penopang, dan Maraqdia Pamboang berdiri sebagai simbol kepemimpinan yang bijak di tengah gelombang perubahan. (RAM)
BERSAMBUNG

Tinggalkan Balasan