Klarifikasi Malam Ibu Lansia Isu Rp15 Juta, GRANAT: Kepekaan Moral dan Etika APH Dimana?
BONE, MATANUSANTARA — Di saat isu dugaan dana Rp15 juta terus membakar ruang publik, seorang ibu lanjut usia justru harus melangkah ke Mapolres Bone pada malam hari. Dalam sunyi yang seharusnya menjadi waktu istirahat bagi tubuh renta, perempuan lansia itu hadir di tengah badai sorotan, kamera, dan opini yang tak henti menggulung namanya.
Peristiwa ini bukan sekadar klarifikasi. Ia menjadi potret telanjang tentang bagaimana tekanan isu hukum bisa menjalar hingga ke tubuh paling rapuh dalam struktur sosial: seorang ibu tua, dengan wajah letih dan pikiran yang tampak tak sepenuhnya siap memikul beban situasi.
Di Tengah Isu Rp15 Juta, Ibu Lansia Hadiri Klarifikasi di Polres Bone
Video klarifikasi berdurasi 3 menit 3 detik yang beredar luas memperlihatkan kondisi psikologis Nuralam. Tatapannya kosong, ucapannya terputus-putus, seolah berusaha mengejar pemahaman atas pusaran peristiwa yang tiba-tiba menyeret dirinya ke pusat perhatian publik.
Wawancara itu dilakukan pada Rabu malam (14/01/2026). Dibalik kebingungan itu, tersimpan tekanan batin yang sulit diabaikan. Nuralam diduga berada dalam posisi terjepit antara rasa bersalah sebagai ibu dan keinginan meredam isu Rp15 juta yang disebut-sebut berkaitan dengan upaya menolong anaknya, DR (30), yang kini mendekam di sel tahanan Mapolres Bone dalam perkara narkotika.
Malam, lansia, dan isu uang tiga elemen ini bertemu dalam satu adegan yang memantik pertanyaan etik serius. Apakah kehadiran tersebut murni klarifikasi sukarela, atau buah dari tekanan situasi yang kian membesar akibat video percakapan yang viral?
Bongkar Kejanggalan Bantahan Suap Rp15 Juta Polres Bone, Granat Ungkap Fakta Video Tak Terbantahkan
Dalam video itu pula muncul nama seorang pria bernama Bahar, disertai penyebutan angka nominal Rp15 juta yang dikaitkan dengan proses hukum DR. Percakapan tersebut menyebar cepat, memicu kecurigaan, kemarahan publik, serta intervensi moral dari berbagai pihak, termasuk lembaga pemerhati narkotika.
Menanggapi viralnya video tersebut, pihak keluarga DR akhirnya memilih membuka klarifikasi ke ruang publik. Nuralam, yang terekam mengenakan hijab hijau, menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mengenal maupun berhubungan langsung dengan aparat kepolisian sebagaimana disebut dalam percakapan yang beredar.
“Saya tidak tahu. Baru-baru itu saya dengar,” ujarnya, ketika ditanya soal nama Kanit Sulaiman yang disebut dalam video. Ia menegaskan informasi tersebut bukan berasal dari pengalaman pribadi.
Kampus Bone Diguncang Skandal Narkoba, Oknum Dosen Doktor Diduga Jaringan Sabu
Ia juga mengakui adanya sambungan telepon dari seseorang bernama Bahar. “Iya, si Bahar itu yang telepon,” katanya. Namun, menurut pengakuannya, percakapan tersebut hanya sebatas menanyakan kondisi anaknya yang ditangkap dalam kasus narkotika.
Penjelasan lanjutan datang dari anak Nuralam. Ia membeberkan asal mula munculnya angka Rp15 juta, yang menurutnya tidak pernah berasal dari permintaan aparat penegak hukum.
“Itu kan awalnya saya menawarkan sama Andi Iccal. Saya bilang kalau bisa Rp15 juta. Rp15 juta itu saya pegang, kalau bisa saya serahkan sama dia. Tapi dia bilang tidak bisa, jadi uang itu saya tarik kembali,” jelasnya.
Di Tengah Isu Rp15 Juta, Ibu Lansia Hadiri Klarifikasi di Polres Bone
Seorang pria berbaju kuning yang mengaku sebagai Andi Iccal turut menguatkan pernyataan tersebut. Ia menegaskan bahwa sejak awal tidak ada permintaan dana untuk mengurus perkara di kepolisian.
“Saya cek langsung di Polres. Penyidik bilang ini tetap diasesmen, tidak perlu ada nominal-nominal,” ujarnya.
Namun badai belum reda. Dari sisi institusi, Kasat Narkoba Polres Bone, Iptu Irham, secara tegas membantah tudingan yang beredar dalam video viral tersebut.
“Saya tegaskan bahwa informasi dalam video itu tidak benar. Tidak pernah ada pembayaran, setoran, ataupun permintaan uang sebesar Rp15 juta atau dalam bentuk apa pun kepada Satuan Narkoba Polres Bone,” ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima matanusantara.co.id, Kamis dini hari (15/01/2026).
Bongkar Kejanggalan Bantahan Suap Rp15 Juta Polres Bone, Granat Ungkap Fakta Video Tak Terbantahkan
Ia menegaskan seluruh proses penanganan perkara narkotika dilakukan sesuai prosedur hukum, berada dalam pengawasan internal, dan berbasis alat bukti yang sah.
“Setiap penanganan perkara kami lakukan berdasarkan alat bukti dan mekanisme penyelidikan yang sah. Tidak ada ruang untuk praktik-praktik di luar ketentuan hukum,” tegasnya.
Iptu Irham juga menyatakan kesiapan institusinya untuk diawasi. Jika ada pihak yang merasa memiliki bukti, kepolisian dipersilakan menempuh jalur hukum resmi, termasuk melapor ke Propam Polri.
Namun, bantahan institusional ini justru belum menutup ruang kecurigaan publik. Gerakan Anti Narkotika (GRANAT) Kota Makassar menilai video tersebut menyimpan indikasi serius yang tidak bisa disapu bersih hanya dengan klarifikasi lisan.
Wakil Ketua GRANAT Makassar, Muh. Syahban Munawir, S.H., M.H., menilai konteks percakapan dalam video menunjukkan pola komunikasi yang mengarah pada indikasi transaksi.
“Jika kita resapi suara dan pola komunikasi dalam video, terlihat jelas adanya indikasi transaksi. Ini bukan sekadar asumsi, melainkan fakta visual dan audio yang harus ditindaklanjuti,” tegasnya, Rabu (14/01/2026).
Bongkar Kejanggalan Bantahan Suap Rp15 Juta Polres Bone, Granat Ungkap Fakta Video Tak Terbantahkan
Menurut GRANAT, nada bicara, alur percakapan, serta penyebutan nominal Rp15 juta merupakan elemen faktual yang patut diuji secara hukum. Bantahan keluarga dan aparat, kata mereka, harus diuji berhadap-hadapan dengan rekaman yang telah dikonsumsi jutaan pasang mata.
“Tidak bisa diabaikan begitu saja. Video tersebut adalah bukti awal. Jika tidak ada transaksi, maka publik berhak bertanya: mengapa percakapan itu muncul dengan konteks yang begitu jelas?” tandasnya.
Menanggapi pemanggilan seorang ibu lanjut usia ke Mapolres pada malam hari di tengah pusaran isu sensitif bukan sekadar soal prosedur, melainkan soal kepekaan moral dan etika kekuasaan.
“Negara, melalui aparatnya, semestinya hadir sebagai pelindung warga terlebih terhadap kelompok rentan bukan sebagai sumber tekanan psikologis yang memperdalam trauma” kata Kata Wakil Granat Makassar sekaligus pengacara kondang dan mantan aktivis kritis itu kepada matanusantara.co.id, Kamis (15/01/2026)
Bongkar Kejanggalan Bantahan Suap Rp15 Juta Polres Bone, Granat Ungkap Fakta Video Tak Terbantahkan
Malam hari bukan ruang netral bagi seorang lansia. Kata Awhi, adalah waktu rawan, baik secara fisik maupun mental.
“Ketika pemanggilan itu terjadi di tengah isu uang Rp15 juta yang telah membakar emosi publik, tindakan tersebut wajar dipersepsikan sebagai bentuk tekanan situasional, meski dibungkus narasi klarifikasi” ungkapnya.
Aparat penegak hukum (APH) seharusnya memahami bahwa keadilan tidak hanya diukur dari kepatuhan prosedur, tetapi juga dari rasa keadilan yang dirasakan publik.
“Ketika seorang ibu tua, dengan kondisi psikis yang tampak rapuh, harus berbicara di bawah sorotan kamera dan opini liar, maka yang dipertaruhkan bukan hanya citra institusi, tetapi nurani hukum itu sendiri” pungkas Awhi.
Jika tidak ada yang disembunyikan, lanjut Awhi, mengapa klarifikasi harus dilakukan dalam suasana malam, bukan secara proporsional, terbuka, dan manusiawi? Pertanyaan ini sah diajukan publik, dan tidak bisa dijawab hanya dengan bantahan normatif.
“Hukum yang kuat tidak membutuhkan gestur yang melukai rasa kemanusiaan. Sebab ketika keadilan kehilangan empati, ia berhenti menjadi keadilan dan berubah menjadi sekadar kekuasaan” tandasnya
Kasus ini akhirnya melampaui sekadar isu uang. Ia menjelma menjadi cermin besar tentang transparansi penegakan hukum, kepekaan negara terhadap kelompok rentan, serta batas tipis antara klarifikasi dan tekanan. Seorang ibu lansia, malam hari, dan angka Rp15 juta kombinasi ini telah meninggalkan jejak pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab. (Ram).

Tinggalkan Balasan