MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

Lapas Palopo Gandeng Yayasan Moralitas, Bangun Karakter dan Integritas Warga Binaan

Lapas Kelas IIA Palopo bersinergi dengan Yayasan Pelatihan Moralitas Budi Pekerti Bangsa Indonesia melalui pelatihan moralitas bersama Erina Wongso untuk mendukung penguatan karakter dan kepribadian warga binaan.

PALOPO, MATANUSANTARA — Pembinaan di balik jeruji besi bukan semata-mata tentang menjalani masa pidana, melainkan juga kesempatan membangun kesadaran, memperbaiki perilaku, dan mempersiapkan diri untuk kembali ke tengah masyarakat. Komitmen tersebut diperkuat Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Palopo melalui pelatihan moralitas bersama Yayasan Pelatihan Moralitas Budi Pekerti Bangsa Indonesia, Senin (19/10/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 15.30 WITA itu menghadirkan Erina Wongso sebagai pemateri. Pelatihan tersebut diarahkan untuk menanamkan nilai-nilai moral dan budi pekerti sebagai fondasi pembentukan karakter warga binaan selama menjalani proses pembinaan di dalam lapas.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, penguatan moralitas menjadi salah satu aspek penting dalam membangun kepribadian warga binaan. Perubahan tidak cukup berhenti pada pemahaman tentang perilaku yang baik, tetapi perlu disertai kesadaran diri, kemauan memperbaiki kesalahan, serta konsistensi dalam menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pemaparannya, Erina Wongso menegaskan pentingnya kesadaran pribadi sebagai titik awal perubahan. Menurutnya, setiap individu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan membangun kehidupan yang lebih baik melalui perilaku yang berlandaskan moralitas.

“Setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih baik. Hal terpenting adalah bagaimana kita menumbuhkan kesadaran dalam diri, membangun akhlak yang baik, serta menerapkan nilai-nilai moral dalam setiap tindakan. Dengan budi pekerti yang luhur, kita dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat,” ujar Erina Wongso.

Pesan tersebut menempatkan pembinaan moral bukan sekadar penyampaian materi, melainkan proses membangun kesadaran bahwa perubahan perilaku membutuhkan kemauan dan komitmen dari setiap individu.

Kepada media, Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIA Palopo, Jose Quelo, menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Pelatihan Moralitas Budi Pekerti Bangsa Indonesia atas dukungan yang diberikan dalam proses pembinaan warga binaan.

“Pembinaan di dalam lapas tidak hanya berfokus pada aspek keterampilan, tetapi juga pada pembentukan karakter, moral, dan akhlak. Kami berharap melalui pelatihan moralitas ini, warga binaan dapat semakin memahami pentingnya budi pekerti, memperbaiki diri, serta menumbuhkan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik ketika kembali ke masyarakat,” ujarnya

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembinaan pemasyarakatan memiliki dimensi yang lebih luas daripada pelaksanaan program selama warga binaan berada di dalam lapas. Pembentukan karakter dan penguatan tanggung jawab pribadi juga menjadi bekal penting dalam menghadapi kehidupan setelah masa pidana berakhir.

Sinergi dengan pihak eksternal diharapkan dapat memperkaya proses pembinaan sekaligus memperluas dukungan terhadap pengembangan kepribadian warga binaan. Meski demikian, keberhasilan program semacam ini pada akhirnya perlu tercermin dalam penerapan nilai-nilai moral, perubahan perilaku, serta kesiapan warga binaan menjalani kehidupan sosial secara bertanggung jawab.

Bagi Lapas Kelas IIA Palopo, pelatihan moralitas ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembinaan yang menyentuh aspek keterampilan sekaligus kepribadian. Harapannya, warga binaan tidak hanya menyelesaikan masa pidana, tetapi juga memiliki tekad untuk memperbaiki diri dan membangun hubungan yang lebih baik dengan keluarga maupun masyarakat.

Pada akhirnya, nilai sebuah pembinaan tidak hanya terletak pada terlaksananya kegiatan, tetapi juga pada sejauh mana proses tersebut menumbuhkan kesadaran dan mendorong perubahan positif. Penguatan moralitas dan budi pekerti diharapkan menjadi salah satu fondasi bagi warga binaan untuk menata masa depan setelah kembali ke tengah masyarakat. (***).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini