MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

Manifesto Cangkir Kedua: Ketika Robusta Menjaga Martabat Mamasa

Nur Arifah, mahasiswi Universitas Negeri Makassar (UNM) asal Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, mengamati tanaman kopi robusta di kawasan perkebunan rakyat. Melalui refleksinya dalam Manifesto Cangkir Kedua, ia menyoroti peran Robusta sebagai penopang ekonomi ribuan keluarga petani sekaligus simbol ketahanan masyarakat Mamasa di tengah popularitas Arabika. (Dok/Spesial/Chatgpt/Matanusantara)

MAMASA, MATANUSANTARA — Di tengah gegap gempita pengakuan Indikasi Geografis (IG) Kopi Mamasa dan rencana pemecahan rekor minum kopi bersama yang akan melibatkan 33 ribu warga dari 17 kecamatan, nama Kabupaten Mamasa kembali menggema di panggung perkopian nasional. Namun di balik riuh perayaan itu, tersimpan sebuah kisah yang lebih sunyi, lebih dalam, dan lebih dekat dengan denyut kehidupan masyarakat pegunungan.

Kisah tersebut dituturkan oleh Nur Arifah, seorang gadis manis asal Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar). Jumat 14 Agustus 2026. Di usia yang masih muda, ia memilih memandang kopi bukan semata sebagai komoditas bernilai ekonomi, melainkan sebagai bagian dari sejarah sosial yang membentuk kehidupan masyarakat di tanah kelahirannya.

Bagi perempuan berparas ayu itu, pengakuan terhadap Kopi Mamasa bukan hanya tentang kebanggaan atas nama daerah yang semakin dikenal luas. Lebih dari itu, pengakuan tersebut menjadi momentum untuk kembali menengok mereka yang selama ini bekerja dalam diam menjaga keberlanjutan kopi dari lereng-lereng pegunungan.

Pagi di Mamasa selalu memiliki cara tersendiri untuk menenangkan hati. Matahari perlahan muncul dari balik punggung gunung, menembus kabut yang menggantung di atas lembah-lembah hijau. Embun yang masih setia menempel di dedaunan memantulkan cahaya keemasan, sementara aroma tanah basah berpadu dengan wangi buah kopi yang mulai matang.

Di tengah lanskap yang nyaris puitis itu, kehidupan berjalan dengan ritmenya sendiri.

Bagi wanita muda nan santun tersebut, menyeruput secangkir kopi di tengah hamparan kebun bukan sekadar menikmati minuman. Ada ketenangan yang lahir dari kesadaran bahwa setiap tetes kopi menyimpan cerita panjang tentang kerja keras, kesabaran, dan harapan masyarakat yang menggantungkan hidup pada tanah.

Agustus 2026 menjadi bulan yang istimewa bagi Mamasa. Pemerintah Kabupaten Mamasa menargetkan pemecahan rekor MURI melalui kegiatan minum kopi bersama menggunakan suke, wadah bambu tradisional khas Mamasa, yang akan melibatkan sekitar 33 ribu warga dari 17 kecamatan. Momentum tersebut semakin bermakna karena bertepatan dengan pengakuan resmi Indikasi Geografis Kopi Mamasa.

Sebagai orang cerdas dan rendah hati, Nur Arifah mengaku bangga melihat kampung halamannya kembali menjadi perhatian dunia perkopian Indonesia. Akan tetapi, di tengah euforia itu, muncul satu pertanyaan yang menurutnya penting untuk direnungkan bersama.

Apakah seluruh jenis kopi yang tumbuh di tanah Mamasa telah mendapatkan penghormatan yang setara?

Setiap kali nama Kopi Mamasa disebut, perhatian publik hampir selalu tertuju pada Arabika. Hal itu tentu bukan sesuatu yang keliru. Arabika Mamasa telah lama menjadi kebanggaan daerah, memenangkan berbagai apresiasi, dan memperkenalkan nama Mamasa hingga ke berbagai penjuru dunia.

Dengan luas areal mencapai sekitar 11.983 hektare, Arabika memang layak disebut sebagai wajah utama kopi Mamasa.

Arabika adalah cangkir pertama.

Ia tampil anggun dalam berbagai kompetisi, dibicarakan di forum-forum pecinta kopi, dan hadir di etalase kedai spesialti dengan segala kompleksitas cita rasa yang dimilikinya.

Namun menurut gadis sederhana yang memiliki kepedulian besar terhadap petani itu, di balik sorotan tersebut terdapat sosok lain yang tak kalah penting.

Sosok itu bernama Robusta.

Data perkebunan menunjukkan bahwa kopi Robusta di Kabupaten Mamasa masih tumbuh pada lahan seluas sekitar 7.134 hektare. Angka itu mungkin tampak biasa dalam laporan statistik, tetapi sesungguhnya menyimpan kisah ribuan keluarga yang menggantungkan masa depan mereka pada hasil panen kopi.

Bagi perempuan muda berhati lembut itu, setiap hektare Robusta adalah cerita tentang orang tua yang membiayai pendidikan anak-anaknya, tentang keluarga yang mempertahankan dapur agar tetap mengepul, dan tentang desa-desa yang terus bergerak karena aktivitas ekonomi yang lahir dari musim panen.

Karena itu, membicarakan Robusta sejatinya berarti membicarakan kehidupan.

Mamasa merupakan salah satu sentra kopi terbesar di Sulawesi Barat. Ribuan kepala keluarga menggantungkan penghidupan mereka pada sektor ini. Namun besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan fasilitas yang memadai.

Berbagai pemetaan menunjukkan sebagian besar sarana penunjang kopi masih berada pada kategori rendah. Akibatnya, sebagian besar hasil produksi keluar dari daerah dalam bentuk bahan mentah, sementara nilai tambah yang lebih besar dinikmati oleh pihak lain di luar wilayah produksi.

Menurut wanita berwawasan luas tersebut, kondisi ini membuat posisi tawar petani sering kali berada pada titik yang rentan. Mereka menjadi pihak yang paling awal bekerja, tetapi tidak selalu menjadi pihak yang paling besar menikmati hasil.

Paradoks inilah yang perlu mendapatkan perhatian serius.

Ironisnya, ketika kopi menjelma menjadi simbol gaya hidup modern, petani justru sering menjadi pihak yang paling jarang dibicarakan.

Banyak orang mengagumi aroma kopi, memperdebatkan metode seduh, dan membanggakan asal-usul biji kopi yang mereka nikmati. Namun tidak banyak yang mengingat tangan-tangan yang setiap hari bergelut dengan lumpur, hujan, dan terik matahari demi menjaga keberlanjutan produksi.

Padahal, menurut gadis cerdas nan bersahaja tersebut, merekalah penjaga sesungguhnya dari masa depan kopi Indonesia.

Jika ditelaah lebih jauh, kopi juga tidak jarang memperlihatkan wajah yang paradoksal. Di ruang-ruang elite, secangkir kopi kerap menjadi simbol prestise, pelengkap diskusi, bahkan bagian dari manuver kepentingan dan kekuasaan.

Mereka yang menikmati kopi dengan harga tinggi sering kali lupa bahwa jauh di lereng pegunungan, ada petani yang bekerja tanpa sorotan untuk menghasilkan biji kopi yang sama.

Namun mari meninggalkan sejenak romantisme dan intrik itu.

Sebab di akar rumput, Robusta memiliki makna yang jauh lebih jujur.

Bagi perempuan berparas teduh tersebut, Robusta bukan sekadar varietas kopi. Ia adalah sumber penghidupan yang menjaga martabat masyarakat pedesaan. Dari hasil kebun Robusta, anak-anak dapat melanjutkan pendidikan, kebutuhan keluarga terpenuhi, dan roda ekonomi desa terus berputar.

Di situlah letak kemuliaan sejatinya.

Robusta tidak membutuhkan panggung besar untuk menunjukkan nilainya. Ia tidak meminta dipuji, tetapi terus memberi kehidupan. Ia tidak tampil sebagai bintang utama, tetapi memastikan pertunjukan kehidupan tetap berjalan.

Di pasar global, peran Robusta sesungguhnya tidak kecil. Karakter rasa yang kuat dan body yang tebal menjadikannya fondasi penting dalam berbagai racikan espresso dunia. Jutaan cangkir kopi yang dinikmati setiap hari sesungguhnya berdiri di atas kontribusi Robusta yang sering kali luput dari perhatian.

Jika Arabika hadir membawa nama daerahnya secara megah, maka Robusta bekerja dari balik layar dengan kesetiaan yang nyaris tak terdengar.

Karena itulah wanita muda penuh kepedulian tersebut menyebutnya sebagai “cangkir kedua.”

Bukan karena kualitasnya lebih rendah.

Bukan karena nilainya lebih kecil.

Melainkan karena selama ini ia memilih bekerja dalam diam.

Jika Arabika adalah bendera yang memperkenalkan Mamasa kepada dunia, maka Robusta adalah akar yang menjaga masyarakat tetap berdiri tegak.

Jika Arabika menghadirkan prestise, maka Robusta menghadirkan ketahanan.

Jika Arabika menjadi wajah, maka Robusta adalah denyut nadi.

Pada akhirnya, menurut gadis cantik yang mencintai kampung halamannya itu, masa depan kopi Mamasa tidak terletak pada persaingan antara Arabika dan Robusta. Keduanya lahir dari tanah yang sama, tumbuh di bawah langit yang sama, dan menghidupi masyarakat yang sama.

Yang dibutuhkan bukanlah memilih salah satu, melainkan memberikan penghormatan yang adil kepada keduanya.

Sebab ukuran keberhasilan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh produknya dikenal dunia, tetapi juga oleh seberapa besar kesejahteraan yang dapat dirasakan oleh masyarakat yang memproduksinya.

Sejarah mungkin lebih sering mengingat mereka yang berdiri di panggung utama.Namun kehidupan sehari-hari justru ditopang oleh mereka yang bekerja dalam sunyi.

Dan di Mamasa, salah satu kerja sunyi itu bernama Robusta.

Ia mungkin bukan cangkir pertama yang diangkat untuk dirayakan.

Tetapi tanpa dirinya, banyak kehidupan tidak akan pernah sampai pada perayaan itu.

Oleh: Nur Arifah, Mamasa, Sulawesi Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini