MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

Pembinaan Shalat Jenazah di Lapas Sungguminasa, Membangun Kesadaran Spiritual Warga Binaan

Warga binaan mengikuti praktik tata cara shalat jenazah di Masjid Al-Ikhlas sebagai bagian dari pembinaan spiritual di Lapas Narkotika Sungguminasa.

GOWA, MATANUSANTARA — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Sungguminasa terus menguatkan pendekatan pembinaan berbasis nilai melalui kegiatan pembelajaran tata cara shalat jenazah yang digelar di Masjid Al-Ikhlas, Kamis (16/4/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Arifai, pembina kerohanian sekaligus pegawai lapas, sebagai pemateri yang memberikan pembekalan langsung kepada warga binaan pemasyarakatan (WBP). Materi disampaikan secara komprehensif, mulai dari niat, bacaan doa, hingga tata gerakan sesuai tuntunan syariat Islam, yang kemudian dipraktikkan secara langsung oleh peserta.

Antusiasme warga binaan terlihat dari keterlibatan aktif selama kegiatan berlangsung. Tidak hanya mengikuti secara khidmat, mereka juga terlibat dalam diskusi dan praktik, menunjukkan adanya proses penerimaan yang tidak sekadar formalitas.

Namun lebih dari itu, kegiatan ini merepresentasikan arah pembinaan yang mulai bergeser dari sekadar aktivitas pengisi waktu menjadi instrumen pembentukan kesadaran diri.

Dalam keterangannya, Arifai menegaskan bahwa pembinaan keagamaan memiliki dimensi tanggung jawab moral.

“Sebagai pembina kerohanian sekaligus bagian dari Lapas Narkotika Sungguminasa, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk membekali WBP dengan ilmu agama yang bermanfaat. Shalat jenazah adalah kewajiban fardhu kifayah yang penting untuk dipahami, sehingga kelak mereka dapat berperan di tengah masyarakat serta meningkatkan keimanan selama menjalani masa pembinaan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa pembinaan spiritual tidak berhenti pada aspek ritual, melainkan menjadi ruang internalisasi nilai—tentang tanggung jawab, kematian, dan posisi manusia dalam kehidupan sosial.

Kepala Lapas Narkotika Sungguminasa, Gunawan, menilai kegiatan ini sebagai bagian dari strategi pembinaan yang berdampak jangka panjang.

“Kegiatan ini sangat positif dan kami dukung penuh. Kami berharap para WBP dapat memanfaatkan waktu selama menjalani masa pidana untuk menambah ilmu, memperbaiki diri, dan memperkuat nilai-nilai spiritual. Pembinaan seperti ini menjadi bekal penting agar mereka dapat kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik dan produktif,” ungkapnya.

Dalam perspektif pemasyarakatan modern, pembinaan berbasis spiritual memiliki posisi strategis sebagai fondasi perubahan perilaku. Kesadaran terhadap nilai-nilai keagamaan diyakini mampu membangun kontrol diri, memperkuat empati sosial, serta mengurangi potensi pengulangan tindak pidana.

Shalat jenazah, dalam konteks ini, bukan sekadar ibadah kolektif, tetapi simbol refleksi tentang kefanaan, tanggung jawab sosial, dan peran individu di tengah masyarakat. Dari titik inilah, proses pembinaan bergerak dari sekadar kepatuhan menuju kesadaran.

Melalui kegiatan ini, Lapas Narkotika Sungguminasa menegaskan bahwa proses pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada pembinaan keterampilan, tetapi juga pada pembangunan dimensi moral dan spiritual sebagai inti dari reintegrasi sosial.

Pada akhirnya, keberhasilan pembinaan tidak diukur dari seberapa banyak program dijalankan, tetapi sejauh mana nilai yang ditanamkan mampu bertahan ketika warga binaan kembali ke masyarakat—menjadi pribadi yang tidak hanya bebas secara fisik, tetapi juga lebih utuh secara moral. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini