Perang Kelompok Disorot Kapolda Sulsel, IBCA MMA Makassar Tawarkan Solusi Pembinaan
MAKASSAR, MATANUSANTARA — Fenomena perang kelompok yang berulang di Kota Makassar membutuhkan lebih dari sekadar penindakan. Di tengah perhatian Kapolda Sulawesi Selatan terhadap persoalan tersebut, Ketua IBCA MMA Kota Makassar, H. Irfan Darmawan NM, S.H., mendorong pendekatan pembinaan generasi muda melalui olahraga sebagai salah satu langkah preventif untuk memutus rantai konflik.
Berdasarkan keterangan Irfan yang diterima redaksi., Ia menilai, keberanian dan energi generasi muda seharusnya tidak berakhir di jalanan dalam bentuk kekerasan. Potensi tersebut perlu diarahkan melalui ruang pembinaan yang terstruktur, kompetisi yang sehat, serta pendampingan yang mampu membangun kedisiplinan dan tanggung jawab.
Pernyataan Kapolda Sulsel yang menyinggung kemungkinan penyediaan arena tanding dengan konsep 10 lawan 10, menurut Irfan, dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan alternatif penanganan konflik. Namun, gagasan tersebut perlu ditempatkan secara hati-hati dalam kerangka olahraga resmi, dengan aturan yang tegas dan orientasi pembinaan, bukan sekadar memindahkan perkelahian dari jalanan ke arena.
“Kami menyambut baik perhatian Bapak Kapolda Sulawesi Selatan terhadap persoalan perang kelompok di Makassar. Bagi kami, yang terpenting adalah bagaimana energi, keberanian, dan potensi anak-anak muda dapat diarahkan ke kegiatan yang positif, terukur, dan menghasilkan prestasi,” ujarnya dengan nada tegas dikutip media ini, Senin (19/10/2026).
Baginya, persoalan perang kelompok tidak cukup dipandang sebagai gangguan keamanan semata. Ada kebutuhan untuk membangun ruang aktualisasi bagi anak muda agar mereka memiliki pilihan kegiatan yang produktif, memperoleh pengakuan melalui prestasi, dan memahami konsekuensi dari setiap tindakan.
Olahraga bela diri campuran atau Mixed Martial Arts (MMA) menjadi salah satu jalur pembinaan yang ditawarkan. Melalui latihan dan pertandingan resmi, generasi muda dapat belajar mengendalikan emosi, menaati aturan, menghormati lawan, serta mengukur kemampuan melalui kompetisi yang bertanggung jawab.
Namun, Irfan mengingatkan bahwa olahraga bela diri dan tawuran memiliki prinsip yang berbeda secara mendasar.
“Olahraga bela diri bukanlah tawuran yang dilegalkan. Ada aturan, wasit, pengawasan, dan tanggung jawab. Kami ingin membangun pemahaman bahwa keberanian seorang atlet tidak diukur dari kemampuannya membuat keributan, tetapi dari kedisiplinan, pengendalian diri, dan prestasi yang diraih,” tegasnya.
Sebagai bentuk kontribusi konkret dari komunitas olahraga, IBCA MMA Kota Makassar tengah menyiapkan Siparacca Season 2. Kegiatan ini diarahkan menjadi wadah bagi generasi muda untuk menyalurkan minat dan bakat melalui aktivitas olahraga yang terorganisasi.
Irfan berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi panggung kompetisi, tetapi juga ruang pembentukan karakter. Anak muda perlu mendapatkan kesempatan untuk berlatih, mengembangkan kemampuan, menguji keterampilan secara sportif, dan membangun kepercayaan diri melalui jalur prestasi.
Menurutnya, upaya pencegahan konflik akan lebih bermakna apabila generasi muda tidak hanya diminta menjauhi kekerasan, tetapi juga diberikan alternatif kegiatan yang nyata dan dapat mereka ikuti.
“Kami ingin anak-anak muda memiliki pilihan kegiatan yang positif. Mereka perlu diberi ruang untuk berkembang, berlatih, berkompetisi, dan menunjukkan kemampuan melalui jalur prestasi. Jangan sampai potensi besar mereka justru tersalurkan dalam tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa olahraga bukan satu-satunya jawaban atas persoalan perang kelompok. Pembinaan harus ditopang edukasi, pendampingan, keterlibatan keluarga, serta dukungan lingkungan agar perubahan perilaku dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Irfan juga mendorong keterlibatan Polda Sulawesi Selatan, Pemerintah Kota Makassar, organisasi olahraga, komunitas kepemudaan, dan berbagai elemen masyarakat dalam membangun program pembinaan yang terukur.
Kolaborasi tersebut dinilai penting agar upaya pencegahan tidak berhenti pada respons setelah konflik terjadi, tetapi turut menyentuh aspek pembinaan dan penyediaan ruang kegiatan positif bagi generasi muda.
Ia berharap organisasi olahraga dapat dilibatkan sebagai mitra dalam merancang program yang sesuai dengan kebutuhan anak muda, termasuk membuka akses latihan, kompetisi resmi, dan pembinaan atlet secara bertahap.
Terkait gagasan arena tanding, Irfan menekankan bahwa setiap pelaksanaannya harus mengikuti regulasi olahraga yang berlaku, melalui pengawasan teknis yang kompeten, kesiapan tenaga medis, penilaian risiko, serta standar keselamatan peserta. Konsep pertandingan juga harus dirancang agar tidak menjadi ajang pembalasan atau memperpanjang rivalitas antarkelompok.
“Kami terbuka untuk berkolaborasi. Harapan kami, olahraga dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan anak-anak muda dalam semangat persaudaraan, bukan menjadi alasan untuk memperpanjang permusuhan,” tambah Irfan.
Bagi IBCA MMA Kota Makassar, tantangan sesungguhnya bukan hanya menghentikan bentrokan, melainkan memastikan generasi muda memiliki ruang untuk tumbuh, berkembang, dan memperoleh masa depan yang lebih baik.
Melalui Siparacca Season 2, Irfan berharap olahraga dapat menjadi bagian dari gerakan bersama untuk memperkuat disiplin, membangun sportivitas, serta menumbuhkan kesadaran bahwa keberanian harus berjalan beriringan dengan pengendalian diri.
Upaya tersebut membutuhkan komitmen bersama. Penegakan hukum tetap diperlukan untuk menangani tindakan kekerasan, sementara pembinaan dan pencegahan menjadi bagian penting agar konflik tidak terus berulang.
Pesan yang ingin ditegaskan IBCA MMA Makassar sederhana: energi generasi muda perlu diarahkan, potensinya perlu dikembangkan, dan keberaniannya perlu diberi ruang untuk menghasilkan prestasi.
“Salurkan energi melalui olahraga, bangun prestasi dengan sportivitas, dan jaga Makassar dengan persaudaraan,” tutup Irfan. (****).

Tinggalkan Balasan