Rutan Masamba Disulap Jadi Laboratorium Etika, Mahasiswa Polidewa Bedah Integritas dan Pelayanan Publik
MASAMBA, MATANUSANTARA — Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Masamba tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembinaan warga binaan. Di balik tembok pengamanan dan sistem pemasyarakatan yang berjalan, institusi tersebut kini juga menjadi ruang pembelajaran nyata bagi generasi muda untuk memahami arti integritas, disiplin, dan pelayanan publik secara langsung.
Hal itu terlihat saat sekitar 60 mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Metalurgi Politeknik Dewantara Kota Palopo melakukan kunjungan akademik dan observasi lapangan bertema “Etika Kerja”, Kamis (2/7/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan suasana berbeda di lingkungan Rutan Masamba. Para mahasiswa tidak hanya datang sebagai tamu institusi, melainkan sebagai peserta pembelajaran yang diajak menyaksikan secara langsung bagaimana budaya kerja aparatur negara dijalankan di lingkungan pemasyarakatan yang memiliki tingkat tanggung jawab tinggi.
Rombongan dipimpin Sekretaris Direktur Politeknik Dewantara Kota Palopo, Dr. Ika Triwati, S.K.M., M.Kes., didampingi Kepala Program Studi Teknologi Rekayasa Metalurgi Muh Syafri Zainuddin, S.T., M.T., Kepala Bagian Penerimaan Mahasiswa Baru Alviani, S.Pd., M.Pd., bersama jajaran dosen dan staf akademik.
Kedatangan mereka disambut langsung Kepala Rutan Masamba, Syamsul Bahri, S.H., M.H., bersama pejabat struktural, staf pegawai, dan Tim Humas Rutan Masamba.
Kegiatan diawali dengan penayangan video profil yang menampilkan transformasi pelayanan dan berbagai inovasi pembinaan yang dijalankan Rutan Masamba. Tayangan tersebut memperlihatkan bagaimana sistem pemasyarakatan modern tidak lagi sekadar menitikberatkan pada pengamanan, tetapi juga pembinaan manusia melalui pendekatan edukatif, produktif, dan humanis.
Mahasiswa diperlihatkan berbagai program pembinaan kepribadian dan kemandirian warga binaan, mulai dari pengembangan keterampilan, peningkatan kualitas mental dan spiritual, hingga program pemberdayaan yang diarahkan agar warga binaan mampu kembali diterima dan berdaya saing saat kembali ke masyarakat.
Dalam sambutannya, Dr. Ika Triwati menilai observasi lapangan seperti ini memiliki nilai akademik yang jauh lebih kuat dibanding pembelajaran teoritis semata.
“Mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana etika kerja, kepemimpinan, disiplin, dan pelayanan publik diterapkan dalam lingkungan kerja yang memiliki tekanan dan tantangan tersendiri,” ujarnya.
Memasuki sesi utama, Kepala Rutan Masamba memaparkan struktur organisasi, tugas dan fungsi setiap unit kerja, serta implementasi Core Values ASN BerAKHLAK dan budaya kerja PRIMA dalam sistem pelayanan pemasyarakatan.
Ia menegaskan bahwa etika kerja bukan sekadar slogan birokrasi, melainkan prinsip dasar yang wajib melekat dalam setiap pelaksanaan tugas aparatur negara.
“Pelayanan pemasyarakatan harus dijalankan dengan integritas, profesionalisme, dan tanggung jawab. Mulai dari pelayanan masyarakat, pembinaan warga binaan, hingga menjaga keamanan dan ketertiban di dalam rutan,” jelasnya.
Tak hanya membahas tata kelola internal, mahasiswa juga diperkenalkan pada implementasi Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan yang telah dijalankan di Rutan Masamba.
Program tersebut meliputi pengembangan usaha mikro warga binaan, program ketahanan pangan, pendidikan kesetaraan melalui pemberantasan buta aksara, pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat, hingga penyaluran bantuan sosial kepada keluarga warga binaan yang membutuhkan.
Dalam forum itu, Kepala Rutan Masamba juga menegaskan bahwa seluruh layanan pemasyarakatan diberikan secara gratis sesuai ketentuan yang berlaku.
Penegasan tersebut dinilai penting sebagai bentuk edukasi publik, sekaligus untuk meluruskan persepsi masyarakat terkait dugaan pungutan dalam pengurusan hak-hak warga binaan, termasuk remisi, program integrasi, maupun layanan administratif pemasyarakatan lainnya.
Suasana kegiatan semakin hidup ketika sesi diskusi dibuka. Mahasiswa secara aktif mengajukan berbagai pertanyaan kritis mengenai sistem pembinaan warga binaan, mekanisme pelayanan pemasyarakatan, hingga tantangan yang dihadapi petugas dalam menjaga keseimbangan antara pendekatan humanis dan aspek keamanan.
Seluruh pertanyaan dijawab secara terbuka dan komprehensif, menciptakan dialog yang edukatif sekaligus memperlihatkan keterbukaan informasi yang dibangun Rutan Masamba kepada dunia akademik.
Bagi Rutan Masamba, kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial kelembagaan. Kunjungan akademik tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat transparansi, membangun sinergi dengan institusi pendidikan, serta menumbuhkan pemahaman objektif mengenai peran pemasyarakatan dalam sistem peradilan pidana nasional.
Di sisi lain, kegiatan itu juga menjadi pesan bahwa membangun birokrasi profesional tidak cukup hanya melalui regulasi dan pengawasan, tetapi juga melalui penanaman nilai integritas, etika kerja, dan pelayanan publik kepada generasi muda sejak dini.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, interaktif, dan penuh antusiasme. Pertemuan tersebut menjadi gambaran bahwa kolaborasi antara institusi pemasyarakatan dan perguruan tinggi dapat menghadirkan ruang belajar yang lebih aplikatif, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap wajah baru pemasyarakatan yang semakin terbuka, profesional, dan humanis. (****)

Tinggalkan Balasan