Sekolah Rusak Akibat Banjir Bandang, Relawan Ajak Publik Selamatkan Pendidikan Tapanuli Tengah
TAPTENG|MATANUSANTARA-Bencana longsor dan banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah pada 25 November 2025 lalu meninggalkan dampak serius di berbagai wilayah.
Tidak hanya merusak rumah warga dan fasilitas umum, bencana tersebut juga melumpuhkan aktivitas pendidikan, salah satunya di SMK Negeri 1 Badiri.
Ketua Ruang Baca Bambu, Soeandi Malik, mengatakan kondisi sekolah tersebut sangat memperihatinkan. Saat meninjau langsung ke lokasi, ia melihat lingkungan sekolah masih dipenuhi gelondongan kayu besar dan kecil serta lumpur tebal sisa banjir bandang yang hingga kini belum sepenuhnya dibersihkan.

“Lumpur masih mengendap di hampir seluruh area sekolah, bahkan ketebalannya mencapai mata kaki hingga sepinggang orang dewasa,” ujar Soeandi, Jum’at 09/01/26.
Lebih memperihatinkan lagi, aktivitas belajar mengajar belum dapat berjalan normal. Soeandi menyaksikan langsung para siswa SMK Negeri 1 Badiri membersihkan ruang kelas secara mandiri yang langsung di dampingi oleh gurunya. Dengan peralatan seadanya, mereka berusaha membersihkan lumpur agar sekolah bisa segera digunakan kembali.

“Melihat semangat anak-anak yang ingin tetap belajar, saya tidak kuasa menahan haru. Di tengah keterbatasan, mereka tetap berjuang demi masa depan,” katanya.
Ia juga menyebutkan bahwa sejumlah fasilitas sekolah mengalami kerusakan parah. Buku-buku pelajaran terendam lumpur, sementara ruang laboratorium komputer turut terdampak banjir. Padahal, dalam waktu dekat siswa kelas XII dijadwalkan menghadapi ujian praktik.

Sementara itu, salah satu guru SMK Negeri 1 Badiri, bapak Doharman Marbun, menyampaikan pihak sekolah sangat membutuhkan bantuan. Mulai dari perlengkapan sekolah, alat belajar mengajar, hingga tambahan tenaga relawan untuk membersihkan lumpur yang masih menumpuk di lingkungan sekolah.
“Kami kekurangan personel untuk membersihkan sekolah. Bantuan relawan sangat kami harapkan agar kegiatan belajar bisa kembali normal,” ujarnya.
Atas kondisi tersebut, Soeandi Malik mengajak relawan pendidikan, komunitas sosial, serta masyarakat luas untuk bersama-sama membantu pemulihan sekolah-sekolah terdampak bencana di Kabupaten Tapanuli Tengah, khususnya SMK Negeri 1 Badiri.
Ia juga menyatakan kesiapan Ruang Baca Bambu untuk memfasilitasi relawan dari luar daerah baik kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional yang ingin terlibat langsung dalam proses pemulihan sekaligus berdiskusi mencari solusi jangka panjang terkait penanganan dan pencegahan bencana.
“Pendidikan tidak boleh berhenti karena bencana. Anak-anak ini butuh dukungan kita semua agar bisa kembali belajar dan meraih masa depan,” tutupnya.
Penulis: Pratama

Tinggalkan Balasan