Titiek Soeharto Terkejut Lihat Wajah Baru Nusakambangan, Dari Simbol Penjara Menjadi Episentrum Ketahanan Pangan
CILACAP, MATANUSANTARA — Nama Nusakambangan selama puluhan tahun identik dengan stigma menyeramkan. Pulau yang kerap dijuluki “Alcatraz Indonesia” itu dikenal sebagai kawasan lembaga pemasyarakatan dengan pengamanan supermaksimum bagi narapidana kasus berat dan berisiko tinggi.
Namun di balik tembok-tembok pengamanan ketat tersebut, wajah baru Nusakambangan kini mulai diperlihatkan kepada publik. Kawasan yang dahulu identik dengan hukuman dan isolasi itu perlahan bertransformasi menjadi episentrum ketahanan pangan nasional sekaligus pusat pembinaan produktif bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Transformasi tersebut mendapat perhatian khusus dari Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, saat melakukan kunjungan kerja ke Nusakambangan, Sabtu (20/6/2026), bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto.
Kunjungan itu bukan sekadar agenda seremonial. Titiek secara langsung menyaksikan bagaimana kawasan pemasyarakatan yang selama ini dikenal tertutup ternyata mampu mengembangkan sektor pertanian, peternakan, perikanan, hingga industri pembinaan berbasis keterampilan kerja.
Di lokasi, rombongan meninjau berbagai program unggulan seperti Workshop Fly Ash Bottom Ash (FABA), pertanian terpadu, peternakan, produksi pupuk organik, Balai Latihan Kerja konveksi, pengolahan sampah, budidaya ikan, tambak udang vaname, hingga budidaya sidat bernilai ekspor.
Pemandangan tersebut memunculkan kesan berbeda bagi Titiek Soeharto. Putri Presiden ke-2 RI, Soeharto itu mengaku tak menyangka Nusakambangan kini berkembang menjadi kawasan produktif dengan output yang memberi manfaat luas.
“Atas nama Komisi IV, saya mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pak Menteri dan jajaran Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Mudah-mudahan usaha ini bisa ditiru dan diduplikasi di tempat-tempat lain,” ujar Titiek.
Ia bahkan secara terbuka mengakui bahwa stigma menyeramkan tentang Nusakambangan yang selama ini hidup di tengah masyarakat tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi yang ia lihat langsung di lapangan.
“Nusakambangan yang kita dengar selalu serem, bayangannya Alcatraz. Ternyata setelah ke sini sangat ramah dan bisa menghasilkan begitu banyak produk yang bermanfaat untuk kita semuanya,” tambahnya.
Pernyataan itu menjadi simbol perubahan paradigma terhadap Nusakambangan. Dari sekadar tempat menjalani hukuman, kini kawasan tersebut mulai diarahkan menjadi pusat rehabilitasi produktif yang menanamkan keterampilan, kedisiplinan, dan kemandirian bagi para Warga Binaan.
Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menegaskan, pengembangan kawasan produktif di Nusakambangan merupakan bagian dari strategi besar Pemasyarakatan dalam mendukung program ketahanan pangan nasional sekaligus memperkuat pembinaan berbasis kerja.
Menurut Agus, seluruh Lapas dan Rutan di Indonesia kini didorong memanfaatkan lahan kosong atau idle land agar memiliki nilai produktif dan mendukung kebutuhan internal maupun masyarakat.
“Tadi kami juga mohon beberapa evaluasi dan arahan, dan akan kami tindak lanjuti, termasuk upaya-upaya perbaikan dari apa yang sudah kita kerjakan. Kami sudah laporkan kepada beliau bahwa seluruh LAPAS dan RUTAN memanfaatkan lahan idle yang ada untuk dioptimalkan dalam membangun program ketahanan pangan, terutama untuk memenuhi kebutuhan dari dalam,” terang Agus Andrianto.
Saat ini, Nusakambangan telah mengelola sekitar 135 hektare lahan produktif dengan melibatkan ratusan Warga Binaan dalam berbagai sektor usaha dan pelatihan kerja.
Mereka tidak hanya dilibatkan dalam aktivitas pertanian dan peternakan, tetapi juga diberi pembinaan keterampilan di bidang konveksi, pengolahan limbah, budidaya perikanan, hingga produksi pupuk organik yang memiliki nilai ekonomi.
Transformasi tersebut dinilai menjadi langkah konkret reformasi sistem pemasyarakatan modern di Indonesia. Pendekatan yang sebelumnya berfokus pada penghukuman kini diarahkan menuju pembinaan berbasis produktivitas dan reintegrasi sosial.
Lebih jauh, program ini juga dipandang memiliki dampak strategis dalam membangun kesiapan Warga Binaan untuk kembali ke tengah masyarakat dengan keterampilan kerja yang lebih matang, sehingga mampu menekan risiko pengulangan tindak pidana atau residivisme.
Di tengah tantangan ketahanan pangan nasional dan kebutuhan penguatan sumber daya manusia, Nusakambangan kini tidak lagi hanya dipandang sebagai pulau penjara. Kawasan itu perlahan berubah menjadi simbol baru pembinaan produktif yang mencoba menghubungkan sistem pemasyarakatan dengan agenda pembangunan nasional. (***)

Tinggalkan Balasan