Operasi Militer Thailand Bongkar Cloning Kantor Polisi Berbagai Negara, Termasuk Indonesia
THAILAND, MATANUSANTARA — Operasi militer Thailand di kompleks scam O’Smach, wilayah perbatasan Kamboja, membuka dimensi baru kejahatan siber transnasional. Thailand berhasil membongkar pemalsuan sistematis kantor aparat penegak hukum dari sedikitnya tujuh negara. Selasa, 3 Januari 2026.
Berdasarkan laporan media asing dan lokal, temuan tersebut menandai eskalasi serius kejahatan lintas negara. Praktik kriminal tidak lagi sekadar menipu korban, melainkan telah menyalahgunakan simbol kedaulatan negara sebagai instrumen kejahatan.
Di dalam kompleks O’Smach, aparat menemukan sejumlah ruangan yang direkayasa menyerupai kantor polisi dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Singapura, China, India, Vietnam, dan Australia.
Pasca Tragedi Park Min Ho, Puluhan Warga Korsel Dipulangkan Dari Kamboja dan Diperiksa Polisi
Ruangan-ruangan tersebut dilengkapi meja pemeriksaan, papan nama institusi, seragam, serta atribut resmi. Seluruh elemen dirancang secara visual dan psikologis untuk menciptakan kesan legitimasi hukum.
Modus ini menunjukkan bahwa jaringan scam di O’Smach telah berevolusi dari penipuan daring konvensional menjadi operasi kejahatan terorganisir berbasis impersonasi otoritas negara.
Korban maupun pekerja scam dipaksa meyakini bahwa mereka berada di bawah pengawasan aparat resmi, baik saat mengalami intimidasi, pemerasan, maupun ketika dipaksa menjalankan penipuan lintas negara.
Pasca Tragedi Park Min Ho, Puluhan Warga Korsel Dipulangkan Dari Kamboja dan Diperiksa Polisi
Selain ruangan polisi palsu, militer Thailand juga menyita lebih dari 800 kartu SIM internasional anonim, puluhan telepon pintar, serta dokumen berisi daftar target, kontak korban, dan skrip percakapan penipuan. Pola kerja yang terungkap menyerupai call center profesional dengan pembagian peran dan target berdasarkan kewarganegaraan.
Dalam konteks regional, temuan ini beririsan dengan data Pemerintah Kamboja yang mencatat penangkapan 5.106 tersangka penipuan online dari 23 negara dalam tujuh bulan terakhir, menyusul tekanan diplomatik dari China. Para pekerja scam diketahui ditugaskan menargetkan korban dari negara asal masing-masing guna meningkatkan efektivitas manipulasi.
Indonesia termasuk negara yang terdampak langsung. Kementerian Luar Negeri RI mencatat 2.887 WNI eks pekerja scam masih berada di Kamboja dan menunggu proses pemulangan. Namun, pernyataan Duta Besar RI untuk Kamboja, Santo Darmosumarto, yang menyebut tidak adanya indikasi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), memunculkan ruang diskusi kritis terkait definisi korban dalam kejahatan siber modern.
“Berdasarkan early assessment dari KBRI, tidak ada WNI yang terindikasi sebagai korban TPPO. Tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda kekerasan fisik,” ujar Santo.
Wajah Baru Pelatih Skuad Garuda Siap Tampilkan Performance yang Baru
Pernyataan tersebut menegaskan adanya celah konseptual dalam penanganan kejahatan siber lintas negara, di mana tekanan psikologis, pemaksaan ekonomi, dan manipulasi hukum kerap tidak tercermin dalam indikator kekerasan fisik konvensional.
Militer Thailand menyebut temuan ruangan polisi palsu sebagai bukti bahwa kompleks O’Smach berfungsi sebagai basis kejahatan terhadap kemanusiaan. Direktur Jenderal Intelijen Angkatan Darat Kerajaan Thailand, Letnan Jenderal Teeranan Nandhakwang, menyatakan pembukaan lokasi kepada publik bertujuan menunjukkan bagaimana simbol hukum disalahgunakan untuk kejahatan terorganisir.
Kompleks O’Smach sendiri dikuasai pasukan Thailand pasca bentrokan perbatasan dengan Kamboja pada 2025. Salah satu gedung utama setinggi enam lantai sempat dibom sebelum diduduki. Di dalamnya ditemukan sistem operasi penipuan yang tertata rapi, mengindikasikan aktivitas kriminal yang berlangsung dalam jangka panjang.
Sejarah 1988–2025: 147 Negara Akui Palestina, 46 Masih Menolak dan Menunda
Pemerintah Kamboja membantah tudingan Thailand dan menilai isu pusat penipuan dijadikan dalih operasi militer lintas batas. Namun, temuan fisik berupa ruangan polisi palsu, atribut aparat, serta dokumen operasional menjadi bukti material yang sulit diabaikan dalam diskursus keamanan regional.
Kasus O’Smach menegaskan bahwa kawasan perbatasan Thailand–Myanmar–Kamboja telah berubah menjadi laboratorium kejahatan siber global, di mana batas negara, simbol hukum, dan otoritas aparat dilebur menjadi alat manipulasi.
Lebih dari sekadar penipuan dan perdagangan manusia, praktik cloning kantor polisi ini merupakan serangan langsung terhadap kepercayaan publik dan kedaulatan hukum negara-negara yang simbolnya dipalsukan. Tanpa kerja sama regional yang tegas dan transparan, kejahatan semacam ini berpotensi menjadi preseden berbahaya bagi stabilitas keamanan Asia Tenggara. (RAN)
Sumber: Reuters / @Ini_Polisi (Instagram)


Tinggalkan Balasan