MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

Setetes Darah dari Lapas Maros, Mengalir untuk Kemanusiaan di HBP ke-62

Petugas Lapas Kelas IIB Maros mendonorkan darah dalam rangka Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62 sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.

MAROS, MATANUSANTARA — Di tengah keterbatasan ruang dan rutinitas ketat dalam sistem pemasyarakatan, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Maros menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan tetap hidup dan mengalir. Melalui kegiatan donor darah dalam rangka Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62, para petugas mengambil peran sebagai penyambung harapan bagi sesama.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Dr. Sahardjo, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Selatan (Kanwil Ditjenpas Sulsel) ini menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial. Ia menjelma menjadi ruang sunyi tempat empati bekerja tanpa sorotan, tanpa pamrih.

Sejumlah petugas Lapas Maros hadir dan dengan sukarela mendonorkan darahnya. Di balik seragam dan tanggung jawab menjaga warga binaan, mereka juga adalah manusia yang merasakan panggilan untuk membantu mereka yang sedang berjuang antara hidup dan harapan.

Kepala Lapas Kelas IIB Maros, Ali Imran, menyampaikan bahwa kegiatan ini lahir dari kesadaran sederhana: bahwa setiap manusia memiliki peran untuk saling menguatkan.

“Kegiatan ini bukan hanya sekadar rangkaian peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian kita terhadap sesama. Setetes darah yang kita sumbangkan sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan,” ujar Imran.

Kalimat itu sederhana, namun mengandung makna yang dalam. Di balik setiap kantong darah yang terkumpul, ada kehidupan yang mungkin terselamatkan, ada keluarga yang kembali tersenyum, dan ada harapan yang kembali tumbuh.

Momentum ini juga memperlihatkan sisi lain dari pemasyarakatan bahwa di balik stigma dan tembok tinggi, terdapat nilai-nilai kemanusiaan yang terus dirawat. Petugas tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan dan pembinaan, tetapi juga hadir sebagai bagian dari masyarakat yang peduli.

Donor darah ini menjadi simbol bahwa batas antara “dalam” dan “luar” lapas bukanlah sekat kemanusiaan. Justru dari tempat yang sering dipandang terbatas, lahir kontribusi yang tak terbatas nilainya.

Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62 pun menemukan maknanya yang paling mendasar: pengabdian. Bukan hanya kepada negara, tetapi kepada manusia siapa pun dia, di mana pun berada. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini