Pekan Olahraga Seni Lapas Maros Dibuka, Pembinaan Humanis Ditekankan
MAROS, MATANUSANTARA — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Maros membuka Pekan Olahraga dan Seni dalam rangka Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62. Di balik kemeriahan kegiatan tersebut, terselip pesan strategis: menjaga stabilitas internal sekaligus menguatkan pola pembinaan berbasis pendekatan humanis di tengah dinamika kehidupan warga binaan.
Pembukaan kegiatan yang melibatkan petugas dan warga binaan ini berlangsung meriah, namun lebih dari itu, menjadi ruang kontrol sosial yang kerap digunakan dalam sistem pemasyarakatan modern untuk meredam potensi gesekan di dalam lapas.
Sejumlah cabang olahraga seperti sepak takraw dan bola voli hingga lomba seni disiapkan sebagai media penyaluran energi dan ekspresi warga binaan. Kegiatan ini bukan hanya bersifat rekreatif, tetapi juga memiliki fungsi laten sebagai instrumen manajemen risiko di lingkungan tertutup seperti lapas.
Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIB Maros, Ali Imran, secara eksplisit menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembinaan yang terukur, bukan sekadar agenda seremonial tahunan.
“Melalui Pekan Olahraga dan Seni ini, kami berharap seluruh peserta dapat menunjukkan semangat kebersamaan, menjunjung tinggi sportivitas, serta menjadikan kegiatan ini sebagai wadah untuk mempererat silaturahmi,” ujar Imran.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pendekatan pembinaan tidak lagi semata berbasis pengamanan, tetapi mulai bergeser ke pola partisipatif yang memberi ruang interaksi sosial lebih luas bagi warga binaan.
Lebih jauh, kegiatan ini juga mencerminkan bagaimana institusi pemasyarakatan berupaya menciptakan kondisi yang kondusif di tengah berbagai persoalan klasik, seperti overkapasitas, tekanan psikologis warga binaan, hingga potensi konflik horizontal.
Dengan memanfaatkan kegiatan kolektif seperti olahraga dan seni, pihak lapas secara tidak langsung membangun mekanisme kontrol berbasis kebersamaan—sebuah pendekatan yang dinilai lebih efektif dibandingkan metode represif semata.
Pembukaan ditandai dengan pertandingan persahabatan yang berlangsung penuh antusias. Namun di balik atmosfer tersebut, agenda ini memperlihatkan wajah lain pemasyarakatan: menjaga keseimbangan antara keamanan, pembinaan, dan stabilitas sosial di dalam tembok lapas.
Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62 pun tidak lagi sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi panggung evaluasi—sejauh mana sistem pembinaan benar-benar berjalan, atau hanya berhenti pada simbol dan rutinitas administratif. (***)

Tinggalkan Balasan