MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

Bukan Sekadar Pembinaan, Lapas Sungguminasa Bangun Kesadaran Spiritual Warga Binaan Lewat Ruqyah Massal

Keterangan : Lapas Narkotika Kelas IIA Sungguminasa menghadirkan pembinaan spiritual melalui kegiatan ruqyah massal bersama Ustaz Ichwan Jufri dan tim bagi warga binaan. (Dok/Spesial/Chatgpt/Matanusantara).

GOWA, MATANUSANTARA –Mengubah perilaku dan membangun kembali kesadaran seseorang bukan perkara instan. Dibutuhkan proses pembinaan yang berkelanjutan, termasuk penguatan mental dan spiritual sebagai fondasi untuk memperbaiki diri. Berangkat dari pendekatan tersebut, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Sungguminasa menghadirkan kegiatan ruqyah massal bagi warga binaan dalam upaya memperkuat pembinaan kepribadian, Jumat (6/11/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Masjid Al-Ikhsan Lapas Narkotika Sungguminasa itu menghadirkan Ustaz Ichwan Jufri bersama tim sebagai pembimbing ruqyah. Seluruh warga binaan mengikuti kegiatan dengan penuh antusias dan khidmat. Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Sungguminasa, Moh. Ilham Agung Setyawan, turut hadir secara langsung.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pendekatan pembinaan berbasis nilai-nilai keagamaan. Melalui lantunan ayat suci Al-Qur’an dan bimbingan spiritual, warga binaan diajak memperkuat keimanan, melakukan introspeksi, serta membangun ketenangan batin selama menjalani masa pembinaan.

Namun, substansi kegiatan ini tidak berhenti pada pelaksanaan ritual keagamaan. Ada pesan lebih besar yang ingin dibangun, yakni menghadirkan ruang bagi warga binaan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa masa pidana harus menjadi momentum evaluasi diri dan perubahan perilaku.

Dalam sistem pemasyarakatan, keberhasilan pembinaan tidak cukup diukur dari terlaksananya program-program di dalam lapas. Hal yang tidak kalah penting adalah sejauh mana proses tersebut mampu membangun kesiapan individu untuk meninggalkan perilaku negatif, mengendalikan diri, dan kembali menjalankan kehidupan sosial secara bertanggung jawab.

Kepada media, Kepala Lapas (Kalapas) Narkotika Kelas IIA Sungguminasa, Moh. Ilham Agung Setyawan, menegaskan bahwa pembinaan harus menyentuh dimensi kehidupan warga binaan secara menyeluruh. Tidak hanya keterampilan dan kemandirian, tetapi juga penguatan mental serta spiritual.

“Ruqyah ini merupakan bagian dari pembinaan kepribadian yang kami hadirkan untuk memberikan penguatan spiritual kepada warga binaan. Kita ingin mereka dapat menjalani masa pembinaan dengan hati yang lebih tenang, pikiran yang positif, serta semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Apapun upaya yang bisa kita lakukan demi perubahan warga binaan akan terus kita hadirkan, karena tujuan kita bukan sekadar membina, tetapi bagaimana mereka benar-benar mengalami perubahan menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.

Komitmen tersebut memperlihatkan bahwa pendekatan pembinaan tidak semestinya hanya berorientasi pada pemenuhan kewajiban selama warga binaan menjalani masa pidana. Lebih jauh, pembinaan harus menjadi proses yang mendorong tumbuhnya kesadaran, tanggung jawab, dan kemauan untuk memperbaiki kehidupan.

Kalapas juga berharap kegiatan tersebut memberikan dampak positif dalam memperkuat keimanan, membangun pengendalian diri, serta menumbuhkan tekad untuk meninggalkan perilaku negatif yang pernah dilakukan.

Bagi warga binaan kasus narkotika, proses perubahan membutuhkan pendekatan yang tidak tunggal. Penguatan spiritual dapat menjadi salah satu unsur pendukung yang berjalan berdampingan dengan pembinaan kepribadian, keterampilan, serta rehabilitasi medis maupun sosial sesuai kebutuhan dan hasil asesmen masing-masing individu.

Melalui kegiatan ruqyah massal ini, Lapas Narkotika Sungguminasa berupaya memperluas dimensi pembinaan dengan memberikan perhatian terhadap aspek spiritual dan kemanusiaan warga binaan.

Pada akhirnya, tantangan terbesar pemasyarakatan bukan hanya memastikan seseorang menyelesaikan masa pidananya, melainkan mempersiapkannya agar mampu kembali ke tengah masyarakat dengan kesadaran baru, perilaku yang lebih baik, dan tanggung jawab terhadap kehidupannya.

Sebab, keberhasilan pembinaan sejati bukan sekadar terlihat dari program yang terlaksana, tetapi dari perubahan positif yang tumbuh dalam diri manusia yang dibina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini