Aksi Solo Didepan Markas Kejaksaan, Kader GAM Titip Pesan Keras kepada Kajati Baru: “Jangan Sampai Ada Febrie Versi Sulsel”
MAKASSAR, MATANUSANTARA – Pergantian pucuk pimpinan di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Selatan menjadi perhatian sejumlah elemen masyarakat sipil. Di hari pertama momentum transisi tersebut, seorang kader Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM), Akmal Yusran, memilih menyampaikan aspirasinya melalui aksi tunggal di depan Kantor Kejati Sulsel, Jumat (24/7/2026).
Berbeda dari unjuk rasa yang umumnya melibatkan massa, Akmal berdiri seorang diri di depan gerbang Kejati Sulsel. Ia membentangkan spanduk bertuliskan “WARNING KAJATI BARU! JANGAN SAMPAI ADA FEBRIE VERSI SULSEL”, disertai pembakaran ban bekas sebagai simbol protes dan penyampaian orasi yang menyoroti pentingnya menjaga integritas institusi penegak hukum.
Aksi tersebut digelar menyusul penunjukan Muhammad Syarifuddin sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan oleh Jaksa Agung RI ST Burhanuddin, menggantikan Dr. Sila H. Pulungan yang dipromosikan menjadi Sekretaris Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (Sesjamdatun) Kejaksaan Agung.
Menurut Akmal, pergantian kepemimpinan harus menjadi titik awal pembenahan internal, bukan sekadar pergantian pejabat.
“Hari ini kita menyaksikan pergantian kepemimpinan di Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. Ini momentum yang tepat untuk membersihkan seluruh oknum jaksa yang mencoba melawan hukum,” tegas Akmal dalam orasinya.
Ia menilai kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum hanya dapat dipertahankan apabila setiap dugaan penyimpangan ditangani secara transparan dan tanpa pandang bulu.
Sorotan utama dalam aksinya adalah kalimat “Jangan Sampai Ada Febrie Versi Sulsel” yang terpampang pada spanduk. Pernyataan tersebut merupakan bentuk kritik dan peringatan dari pengunjuk rasa yang mengaitkan isu integritas aparat penegak hukum dengan dinamika yang berkembang di tingkat nasional.
“Kasus-kasus yang terjadi di Kejaksaan Agung harus menjadi peringatan keras bagi seluruh aparat penegak hukum, khususnya di lingkungan Kejati Sulsel. Oleh karena itu, jangan sekali-kali ada pihak yang mencoba mempermainkan hukum atau menyalahgunakan kewenangan di tanah Sulawesi Selatan,” ujarnya.
Akmal berharap kepemimpinan baru Kejati Sulsel mampu memperkuat profesionalisme, menjaga independensi, serta memastikan penegakan hukum dilakukan secara objektif, transparan, dan bebas dari penyalahgunaan kewenangan.
Aksi berlangsung di bawah pengawasan aparat keamanan dan berakhir dengan tertib.
Catatan Redaksi: Pernyataan mengenai “Febrie” dalam aksi ini merupakan ekspresi dan pendapat yang disampaikan oleh peserta aksi. Matanusantara menyajikannya sebagai bagian dari peliputan peristiwa dan tidak mengadopsi atau membenarkan substansi tuduhan apa pun terhadap pihak yang disebut. Jika terdapat tanggapan dari pihak-pihak terkait, redaksi membuka ruang untuk pemuatan hak jawab sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dan Kode Etik Jurnalistik. (***)

Tinggalkan Balasan