MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

Diterpa Tuduhan di Tengah Polemik Rekrutmen BUMD, Imam Tawang Mengaku Ikut Jadi Korban

Gambar ilustrasi Imam Tawang mengaku dirinya juga menjadi korban setelah dana rekrutmen yang diteruskan kepada pihak ketiga diduga dibawa kabur. (Dok/Spesial/Chatgpt)

GOWA, MATANUSANTARA — Polemik dugaan penipuan rekrutmen kerja yang belakangan viral di media sosial menyeret nama Imam Tawang dan memantik perhatian publik di Kabupaten Gowa. Di tengah derasnya tudingan yang berkembang, Imam akhirnya buka suara untuk menjelaskan duduk perkara yang menurutnya selama ini belum dipahami masyarakat secara utuh.

Dalam wawancara eksklusif bersama redaksi Matanusantara.co.id, Imam menegaskan dirinya bukan pihak yang menikmati ataupun membawa kabur uang para calon peserta rekrutmen. Ia mengaku justru ikut menjadi korban setelah dana yang telah diteruskan kepada pihak pengurus inti diduga dibawa lari oleh orang ketiga dalam rangkaian kerja sama tersebut.

Menurut Imam, persoalan ini bermula ketika seorang pria berinisial JU menghubunginya untuk membantu mencari calon taruna yang ingin masuk bekerja di salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Kabupaten Gowa.

Dalam prosesnya, sejumlah dana administrasi atau yang biasa disebut “vitamin” dikumpulkan dari calon peserta. Imam mengaku dana tersebut tidak dikuasai secara pribadi, melainkan diteruskan kembali kepada pihak lain yang disebut memiliki akses dan peran lebih besar dalam proses perekrutan.

“Awalnya saya juga percaya karena ini dibangun dengan komunikasi dan keyakinan bahwa proses perekrutan itu bisa berjalan. Tetapi belakangan justru muncul persoalan setelah pihak ketiga yang memegang proses inti tidak lagi bisa dihubungi,” ungkap Imam dengan nada kecewa saat memberikan klarifikasi terkait polemik rekrutmen kerja yang kini viral dan ramai diperbincangkan publik, Kamis (07/05/2026)

Ia menegaskan, narasi yang berkembang di media sosial saat ini dinilainya tidak menggambarkan kondisi sebenarnya. Sebab, menurut dia, posisinya juga berada dalam situasi dirugikan.

“Narasi yang berkembang seolah-olah saya pelaku utama penipuan. Padahal posisi saya juga korban. Dana itu sudah saya teruskan ke pihak ketiga yang sampai hari ini justru menghilang,” ujar Imam dengan nada tegas.

Situasi mulai memanas ketika proses perekrutan yang dijanjikan tidak berjalan sesuai harapan. Pihak ketiga yang disebut menerima dana tersebut diduga menghilang tanpa kabar, sementara para calon peserta hanya mengenal Imam sebagai pihak yang terlibat langsung dalam komunikasi awal.

Akibatnya, seluruh tuntutan pertanggungjawaban kemudian diarahkan kepadanya. Nama Imam pun mulai ramai diperbincangkan hingga viral di berbagai platform media sosial sejak Januari 2026.

Meski berada dalam tekanan dan menjadi sasaran tudingan publik, Imam mengaku tidak pernah berniat menghindar dari persoalan tersebut. Ia bahkan mengklaim tetap membuka komunikasi dengan pihak-pihak yang merasa dirugikan.

“Akan tetapi pihak pertama hanya saya yang dia kenal, sehingga tuntutan semua diarahkan ke saya. Saya memahami posisi itu dan saya tidak menutup diri,” katanya.

Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan itikad baik, Imam mengaku telah mulai melakukan pengembalian sebagian dana kepada pihak yang merasa dirugikan. Ia menyebut telah mentransfer uang sebesar Rp50 juta pada 5 Maret 2026, meski dirinya sendiri mengaku belum menerima pengembalian dana dari pihak ketiga yang diduga membawa kabur uang tersebut.

“Saya sudah transfer Rp50 juta sebagai bentuk tanggung jawab moral saya. Kalau memang niat saya mau lari dari masalah, tentu saya tidak mungkin melakukan pengembalian setelah nama saya sempat viral,” ujarnya.

Imam berharap masyarakat dapat melihat persoalan ini secara objektif dan tidak langsung menyimpulkan dirinya sebagai aktor utama dalam kasus tersebut. Menurutnya, ada rantai pihak yang terlibat dalam proses perekrutan itu, sehingga fakta-fakta yang ada perlu dibuka secara menyeluruh agar tidak menimbulkan penilaian sepihak di tengah masyarakat.

“Perlu masyarakat pahami, saya ini bukan orang yang menikmati uang itu sendiri. Saya juga mengalami kerugian dan tekanan karena pihak ketiga saya membawa kabur dana tersebut. Saya tidak menolak bertanggung jawab, tetapi saya juga berharap fakta sebenarnya bisa dipahami,” tegasnya.

Kasus ini hingga kini masih menjadi perbincangan publik di media sosial. Sementara itu, pihak ketiga yang disebut dalam klarifikasi Imam Tawang belum memberikan penjelasan ataupun tanggapan resmi terkait dugaan membawa kabur dana rekrutmen tersebut. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini